Pesta Angin Topan

27 November 2007

Tahun 1969, di wilayah Mississippi, Amerika Serikat ada sekelompok orang yang menyiapkan sebuah acara yang dinamakan "Pesta Angin Topan." Mereka berencana menyambut kedatangan angin topan "Camille." Apakah mereka tidak mengetahui bahayanya? Apakah mereka terlalu percaya diri sehingga mengambil risiko menempuh bahaya? Apakah mereka orang yang nekad? Kita tidak pernah tahu.

     Saat angin mulai berhembus dengan kuat, kepala polisi, Jerry Peralta mendatangi apartemen Richelieu, tempat pesta itu berlangsung. Apartemen itu hanya berjarak 250 meter dari pantai sehingga masuk daerah yang sangat berbahaya. Seorang pria muncul di balkon sambil membawa minuman kaleng. Pria itu melambaikan tangan pada Jerry. Sambil berteriak, Jerry berkata,"Anda harus segera pergi dari situ. Angin badainya semakin kuat!"

     Pria itu hanya tertawa sambil menghirup minuman kaleng. Beberapa orang ikut bergabung dengannya Mereka ikut menertawakan perintah Jerry. "Ini adalah rumah saya," teriak pria itu,"jika Anda menghendaki saya pergi dari sini, maka Anda harus menangkap saya dulu."

     Jerry tidak punya niat menangkap mereka. Karena gagal membujuk mereka, Jerry hanya mencatat nama-nama mereka. Orang-orang yang berjumlah sekitar 20 orang itu tertawa-tawa ketika menyebutkan nama mereka masing-masing. Jerry segera meninggalkan rumah itu karena angin semakin kuat.

     Pukul 10:15, angin topan menyentuh bibir pantai. Para pakar mencatat angka kecepatan angin topan itu yang mencapai 205 km/jam, angka tertinggi sepanjang sejarah. Titik-titik air hujan menghujam dengan kecepatan seperti peluru. Ombak setinggi 7-9 meter bergulung menyapu pantai.

     Laporan berita menunjukkan kerusakan terparah di beberapa tempat seperti motel, bar-bar dengan tarian erotis dan rumah judi yang dikenal sebagai kawasan Pass Christian, Mississippi. Angin topan itu juga membunuh sekitar 20 orang yang sedang mengadakan pesta angin topan di apartemen Richelieu. Tidak bangunan yang masih tegak berdiri. Yang tersisa hanyalah pondasi bangunan. Hanya satu orang yang selamat, yaitu anak laki-laki berusia lima tahun yang ditemukan sedang memeluk kasur.

Epitaf

Suatu kali, Charles Simeon diminta untuk memimpin upacara penguburan. Karena rombongan pengantar jenazah belum datang, Simeon berjalan-jalan di pekuburan sambil membaca epitaf (tulisan yang tertera di batu nisan). Dia menemukan satu epitaf yang menarik:

Saat aku bangkit dari debu kematian,

Untuk memperoleh rumah besar di awan,

Inilah yang kukatakan

"Yesus telah mati supaya aku diselamatkan"

     Dia sangat terkesan dengan pesan Injil itu. Karena itu, dia ingin membagikannya pada orang lain yang ada di pekuburan itu. Dia melihat ada anak gadis yang tampaknya sangat berduka. Simeon memanggilnya supaya mendekat dan mengajaknya membaca epitaf itu. Setelah itu dia mencatat alamat anak gadis itu.

     Keesokan harinya, Simeon mengunjungi rumah anak gadis yang ternyata sangat miskin dan kotor. Gadis itu bercerita bahwa ibunya menderita sakit asma yang parah. Bersama adiknya, dia sedang menghangatkan diri di dekat perapian yang kecil. Simeon lalu mengajak keluarga itu untuk berdoa bersama.

     Anak gadis itu lalu bercerita bahwa ketika bertemu Simeon dulu, dia sudah lima jam di pekuburan itu. Dia sudah berencana bunuh diri, saat dipanggil Simeon untuk membaca epitaf. Akan tetapi karena kepedulian Simeon, akhirnya dia menyerahkan hidupnya pada Kristus.

Jawaban yang Tepat

Cheryl Reimold, seorang pakar bahasa tubuh (body language) mengatakan:"Jika Anda berdiri di hadapan seseorang yang duduk, maka Anda mendapat kekuasaan dan kedudukan yang lebih tinggi walau hanya sementara. Tapi jika Anda menghadapi seseorang dengan sejajar (baik itu dengan berdiri atau duduk), maka Anda bisa membangun komunikasi."

     Ratu Victoria mendapat pengalaman berharga dari prinsip seperti ini.  Pada awal pernikahan, sang Ratu pernah bertengkar dengan suaminya, pangeran Albert.

     Di akhir pertengkaran, pangeran Albert masuk ke kamar tidurnya dan mengunci pintu. Beberapa saat kemudian ratu Victoria menyusul, tapi mendapati bahwa pintu kamar dikancing dari dalam. Dia mengetuk pintu.

     "Siapa itu?" tanya pangeran Albert.

     "Ratu Inggris," jawab ratu Victoria. Tapi pintu tetap terkunci. Ratu Victoria lebih keras mengetuk pintu.     

"Siapa itu?" tanya Albert lagi dari dalam.

     Sang Ratu menjawab,"Ini istrimu, Albert." Dia  mendengar suara langkah kaki yang mendekati pintu.

     Pangeran Albert segera membukakan pintu.

Saya Membangun Katedral

21 November 2007

Seorang arsitek kenamaan Inggris, Sir Christopher Wren, sedang mengawasi pembangunan katedral yang sangat besar di London. Seorang wartawan yang menyertainya tertarik untuk mewawancarai beberapa pekerja bangunan itu. Dia mendekati salah satu pekerja dan bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?"

     Pekerja pertama menjawab, "Saya memotong batu dengan upah 10 shilling per hari."

     Pekerja kedua menjawab, "Saya bekerja selama 10 jam setiap hari."

      Pekerja ketiga menjawab dengan bangga, "Saya membantu Sir Christopher Wren membangun katedral terbesar di London."

Sudah Terlambat!

Seorang pengkhotbah dari Inggris yang bernama Ebenezer Wooten baru saja selesai memimpin kebaktian di sebuah lapangan di desa. Orang-orang mulai membubarkan diri, dan dia mulai sibuk membenahi peralatannya.  Lalu ada seorang anak muda yang mendekatinya. "Pak Wooten, apa yang harus saya kerjakan supaya bisa selamat?" tanya anak muda itu.

     Merasa bahwa anak muda itu masih merasa dirinya paling benar, Wooten menjawab dengan sedikit cuek, "Sekarang sudah terlambat!"

     Anak muda itu kaget,"Bapak jangan berkata begitu, dong!"

     Penginjil itu tetap pada perkataannya, "Memang sudah sangat terlambat." Wooten lalu menatap mata anak muda itu dan berkata, "Kamu tadi kan bertanya, apa yang bisa kamu KERJAKAN supaya bisa selamat. Saya beritahu, ya: baik sekarang atau pun nanti itu sudah terlambat. Karya keselamatan itu sudah dilakukan, sudah komplit dan sudah sempurna. Semua itu sudah diselesaikan di kayu salib." Wooten lalu menjelaskan bahwa bagian kita sekarang hanyalah mengakui dosa dan menerima pengampunan dengan iman.

Menolak Pengampunan

Tahun 1830, George Wilson divonis hukuman gantung sampai mati karena telah merampok kantor pos Amerika. Namun presiden Andrew Jackson mengeluarkan surat pengampunan pada Wilson. Anehnya, Wilson menolak pengampunan itu.  Sekarang keputusannya berada di tangan ketua Pengadilan, yang kemudian memutuskan bahwa Wilson harus dieksekusi. "Pengampunan ini hanya selembar surat," tulis ketua Pengadilan, "nilainya terletak pada penerimaan orang yang diampuni. Jika dia menolak, maka tidak ada pengampunan.. George Wilson harus dihukum gantung."

Orang-orang yang tak mau menyerah

19 November 2007

* Johnny Fulton ditabrak oleh sebuah mobil ketika berusia tiga tahun. Dia mengalami luka-luka yang parah. Pinggulnya retak, tulang-tulang iganya patah tulang tengkoraknya retak dan tulang kakinya remuk. Harapan hidupnya sangat tipis. Namun dia tidak menyerah. Kenyataannya, setelah melalui perjuangan dia bisa berlari sejauh 800 meter hanya dalam waktu dua menit.

* Walt Davis lumpuh total karena menderita sakit polio saat berusia sembilan tahun. Namun dia tidak menyerah. Dia menjadi juara lompat tinggi di Olimpiade tahun 1952.

* Shelly Mann lumpuh total karena menderita sakit polio saat berusia lima tahun. Namun dia tidak menyerah. Dia akhirnya mencatat sembilan rekor renang nasional untuk gaya yang berbeda dan memenangkan medali emas bagi Amerika dalam Olimpiade Melbourne, Australia, tahun 1956.

* Karoly Takacs adalah anggota tim menembak Hungaria yang menjadi juara dunia untuk jenis pistol. Dia juga menjadi tentara berpangkat sersan. Tahun 1938, dia mengalami kecelakaan. Dia kehilangan tangan kanan karena granat yang dipegangnya meledak. Namun Takacs tidak menyerah. Dia berlatih menembak dengan tangan kiri dan memenangkan medali emas dalam Olimpiade tahun 1948 dan 1952.

* Lou Gehrig adalah pemain baseball yang kikuk sehingga anak-anak sebayanya tidak mau bermain dengannya. Namun dia tidak menyerah. Akhirnya dengan usaha sungguh-sungguh dia bisa masuk Hall of Fame untuk pemain baseball.

* Woodrow Wilson tidak bisa membaca hingga usia sepuluh tahun. Namun dia tidak menyerah. Dia menjadi Presiden Amerika ke-28.

 

"If any man wishes to write in a clear style, let him be first clear in his thoughts; and if any would write in a noble style, let him first possess a noble soul"
~ Johann Wolfgang von Goethe                                                                                                                      
::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
** Kunjungi Blog saya:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
http://kisah-inspiratif.blogspot.com/
** Kunjungi situs saya:
http://www.geocities.com/purnawankristanto/

William Borden meninggalkan kekeyaan

* William Borden adalah lulusan dari  Universitas Yale dan berasal dari keluarga sangat kaya di Amerika. Tahun 1912, dia meninggalkan ketenaran dan kekayaan untuk menjadi misionaris ke negeri China. Saat berada di Mesir dia meninggal karena radang selaput otak.

Kegigihan Abraham Lincoln

* Pada usia tujuh tahun, dia harus bekerja menghuidupi keluarganya. Usia 9 tahun, ibunya meninggal. Usia 20 tahun, dia kehilangan pekerjaan sebagai penjaga toko. Usia 23, dia meminjam uang dan bermitra dengan orang lain untuk membuka toko kedil.

Usia 26 tahun, mitra usahanya meninggal dunia dan meninggalkan hutang yang sangat besar. Usia 35 tahun, dia gagal dua kali ketika mencalonkan diri sebagai anggota Kongres. Usia 37 tahun, Die memenangkan pemilihan anggota kongres. Usia  39tahun, dia gagal terpilih kembali.

Usia 41 tahun, anak laki-lakinya meninggal dalam usia empat tahun.Usia 42 tahun, ditolak menjadi pengawas tanah. Usia 45 tahun, dia mencalonkan diri sebagai anggota Senat, tetapi gagal terpilih. Usia 47 tahun, dia dikalahkan dalam pemilihan Wakil Presiden.

Usia 47 tahun, dia mencalonkan diri lagi sebagai anggota Senat, tetapi gagal terpilih lagi. Usia 51 tahun, dia akhirnya terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada masa jabatan keduanya, dia dibunuh seseorang. Meski begitu, namanya termasuk di antara orang-orang besar dalam sejarah Amerika. Dia adalah Abraham Lincoln.

C.T. Studd Meninggalkan kekayaan dan kemewahan

* C.T. Studd, adalah pemain kriket kenamaan di Inggris. Dia berhasil menjadi anggota tim kriket Inggris XI, yang menjadikannya kaya. Tapi dia meninggalkan ketenaran dan kekayaannya untuk menjadi seorang misionaris. Dia punya slogan: "Karena Yesus Kristus itu Tuhan dan telah mati untukku, maka tidak ada pengorbanan lebih besar yang bisa kuberikan kepadanya."

Komitment Kraft

* Anda tentu mengenal keju bermerek Kraft. Perusahaan pembuat keju ini dimiliki oleh L. Kraft.  Konglomerat Kristen ini mempersembahkan 25% dari penghasilannya. Dia berkata, "Satu-satunya investasi saya yang dividen-nya selalu bertambah besar adalah uang saya berikan kepada Tuhan."

Patung Kristus dari Andes

Beberapa tahun yang lalu, sebuah patung Kristus yang sangat besar didirikan di pegunungan Andes, tepat di perbatasan antara Argentina dan Chile. Patung yang diberi nama "Kristus dari Andes" ini menjadi simbol sebuah perjanjian antara Chile dan Argentina bahwa selama patung ini berdiri, maka akan ada perdamaian di antara kedua negara itu.

Lucunya, setelah patung itu berdiri justru memicu terjadinya kemarahan. Rakyat Chile mengajukan protes karena patung itu membelakangi wilayah Chile. Untunglah, suasana yang semakin memanas ini berhasil diredakan oleh redaksi surat kabar di Chile. Redaksi menulis tajuk rencana, yang tidak saja memuaskan orang Cile, tapi juga membuat mereka tertawa geli. Redaktur menyarankan agar rakyat Chile membiarkan patung itu menghadap wilayah Argentina karena, "dibandingkan dengan rakyat Chile, rakyat Argentina perlu lebih diawasi oleh Kristus."

Kiat Napoleon Mengenal Anak Buahnya


Napoleon termasuk salah satu pemimpin yang jenius. Dia menyadari bahwa kesuksesannya tidak ada artinya jika tidak ada orang yang bersedia menjadi pengikutnya. Karena itu, dia berusaha membangun hubungan yang dekat dengan bawahannya. Tapi sebagai pemimpin dari pasukan yang besar, dia tidak mungkin mengenal semua orang secara pribadi, meski begitu dia punya kiat yang sederhana.


Biasanya sebelum menginspeksi pasukan, dia memanggil kolonel yang memimpin pasukan itu. Dia menanyakan nama prajurit yang telah bertempur dengan baik tapi belum diberi penghargaan. Setelah kolonel menyebutkan nama, Napoleon lalu mempelajari data orang tersebut. Misalnya tempat kelahirannya, nama keluarganya, pernah bertempur dimana saja dan sebagainya.


Saat berjalan menginspeksi pasukan, Napoleon menunggu tanda dari Kolonel. Begitu berada di dekat prajurit itu, Kolonel memberi tanda. Napoleon lalu berhenti dan menyapa prajurit itu dengan menyebutkan namanya. Dia menanyakan kabar keluarganya dengan menyebutkan namanya. Lalu memuji keberanian dan kesetiannya. Terakhir menyematkan bintang penghargaan.


Kiat ini selalu berhasil. Setelah upacara itu, biasanya prajurit itu akan bercerita pada teman-temannya dengan bangga," Lihat sendiri kan? Dia mengenal semua bawahannya. Dia bahkan tahu nama-nama keluarga kita."

Pengaruh Guru

Di dalam autobiografinya berjudul Breaking Barriers, seorang kolumnis bernama Carl Rowan menceritakan gurunya yang sangat mempengaruhi hidupnya.

     Rowan menceritakan kembali:

     Nona Thompson menarik laci meja dan mengeluarkan selembar kertas. Kertas itu bertuliskan kutipan ucapan Daniel Burnham, seorang arsitek Chicago.Semua murid mendengarkan dengan seksama saat dia membacakannya: "Jangan membuat rencana kecil, karena rencana itu tidak mampu menggelorakan semangat di dalam dirinya. Dan itu membuat dia tidak akan pernah tahu kemampuan yang dia miliki. Buatlah rencana besar, bidiklah pekerjaan dan pengharapan yang besar. Ingat, anak-cucu kita yang akan meneruskan pekerjaan yang belum bisa kita selesaikan nanti."

     Sekitar 30 tahun kemudian, saya menyampaikan pidato yang mengatakan bahwa Frances Thompson telah memberikan keyakinan pada saya untuk lebih percaya diri. Ucapan saya itu rupanya dimuat di surat kabar. Kemudian ada seseorang yang mengirimkan kliping surat kabat itu pada mantan guru saya. Setelah itu, mantan guru saya mengirimkan surat. Dia menulis:"Kamu tidak akan menyangka betapa kliping suat kabar itu sangat berarti bagiku. Selama bertahun-tahun aku tertekan oleh ucapan saudara laki-lakiku bahwa aku sudah menyia-nyiakan hidup. Dia mengatakan seharusnya aku sudah menikah dan punya keluarga. Tapi saat membaca bahwa kamu menyebutkan namaku karena telah berperan dalam kariermu yang cemerlang, aku menunjukkan kliping itu pada saudaraku. Setelah dia membacanya, aku berkata, 'Sekarang kamu tahu kalau aku tidak pernah menyia-nyiakan hidupku"

Konferensi tentang Penginjilan Massal

18 November 2007
Suatu kali D.L. Moody menghadiri konferensi tentang Penginjilan Massal di Indianapolis. Dia sudah janjian dengan Ira Sankey, pemimpin pujiannya, untuk menemui dia jam enam sore di sebuah sudut jalan.

     Ketika Sankey datang, Moody menyuruh dia berdiri di atas kotak kayu dan mulai menyanyi. Orang mulai mengerumuni mereka. Moody lalu ganti naik kotak kayu itu dan bicara singkat. Dia mengajak orang-orang yang berkerumun itu untuk mengikuti dia masuk ke ruangan konferensi. Dalam waktu singkat auditorium itu dipenuhi oleh orang-orang yang kelaparan rohani. Kemudian penginjil ternama itu memberitakan Injil kepada mereka.

     Saat delegasi konferensi mulai berdatangan, Moody menyelesaikan khotbahnya. Dia berkata, "Kita harus mengakhiri acara ini sampai di sini, karena peserta konferensi sudah datang. Mereka akan mendiskusikan topik 'bagaimana menjangkau orang banyak'".

     Malam itu, Moody menunjukkan dengan jelas perbedaan antara berbicara akan melakukan sesuatu dengan segera bertindak melakukan sesuatu.