Jangan Saling Menjauh

17 December 2006
Kisah ini benar terjadi. Sebut saja Dimas. Sejak masih muda, dia sangat aktif dalam kegiatan gereja. Isterinya juga seorang aktivis gereja. Di dalam masyarakat, Dimas dikenal sangat aktif dalam kegiatan sosial. Dia punya kepedulian yang sangat tinggi. Ada banyak orang yang sudah dibantunya.
Sayangnya, pernikahannya yang telah dijalani selama puluhan tahun itu justru berada di ambang perpecahan. Selama beberapa bulan, mereka hidup terpisah di dua kota yang berbeda. Hingga suatu ketika terdengar kabar mengejutkan. Dimas meninggal, ketika sedang bersama wanita lain di kamar sebuah hotel.
Dalam suratnya, Paulus memberi izin kepada pasangan suami-isteri untuk saling menjauh, tapi ada syaratnya: (1). Sudah disepakati; dan (2). Untuk sementara. Tujuannya, untuk memberi kesempatan pada setiap pihak untuk berdoa tanpa gangguan. Dengan demikian, sesudahnya akan terjadi rekonsiliasi. Jika “pisah ranjang” dilakukan tanpa syarat dan tujuan ini, maka bahayanya masing-masing pihak tidak dapat menahan godaan nafsu jahat.
Keluarga Blessing, Paulus menulis: “Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri; yang berkuasa atas tubuhnya adalah suaminya. Begitu juga suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri; yang berkuasa atas tubuhnya adalah istrinya” (1 Kor.7:4). Dengan memegang prinsip ini, maka perselingkuhan dapat dihindarkan. Ketika mendapat godaan maka seorang suami akan berpikir, “tubuhku ini adalah milik isteriku. Aku tidak berhak untuk menyalahgunakannya.” Demikian juga halnya bagi seorang isteri [Purnawan].

Transformasi Bangsa

10 December 2006
"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." - (Mazmur 119:105)

Tahun 1787 pada usia 33, Kapten Bligh diberi tugas memimpin sebuah kapal dagang bernama "Bounty". Kapal itu memulai pelayaran pada 23 December 1787.
Pada April 1789, terjadi pemberonatakan di kapal yang digalang oleh sahabat Bligh sendiri, yaitu Fletcher Christian. Kalimat berikut ini diambil dari buku harian Bligh, 28 April:"Sebelum fajar, Christian dan nahkoda ..menerobos masuk kabin ketika aku masih tertidur, mengikat tanganku dengan tali dan mengancam akan membunuh jika aku berteriak..."
Hari itu juga, Bligh bersama 8 pengikut setianya diturunkan dari kapalnya di atas sebuah sampan. Biasanya orang yang mendapat perlakuan ini ini akan berakhir dalamn kematian, tetapi Bligh adalah pelaut yang hebat. Mereka mendarat dengan selamat di pulau Timor pada 14 Juni. Mereka menempuh jarak 3618 mil laut selama 47 hari.
Kapten Bligh berhasil pulang ke Inggris untuk melaporkan kejahatan itu. Para pelaut yang memberontak itu dihukum gantung.
Duapuluh tahun berlalu. Kisah ini terlupakan. Hingga ada pelaut yang menemukan pulau yang tidak ada di peta ini. Mereka terkesima ketika mendarat di pulau ini. Di sana tidak ada penyakit, kejahatan atau orang mabuk. Yang ada hanyalah kerukunan dan harmoni.
Ternyata ada ceritanya: Dari delapan pengikut Bligh yang mendarat, semuanya dibunuh penduduh lokal, kecuali Alexander Smith. Di dalam keputus-asaan, Smith mengaduk-aduk barang-barang milik teman-temannya untuk mencari whiski. Tapi yang ditemukannya adalah Alkitab. Dia membacanya dan menjadi Kristen. Dia lalu mengenalkan Kristus pada seluruh penduduk di pulau Timor itu, dan bersama-sama menjalankan Firman Tuhan. Luar biasa, Firman Tuhan bisa mengubahkan isi pulau itu dari suku yang kejam menjadi suku yang ramah.
Apa yang kita bisa pelajari dari kisah ini? Firman Tuhan bisa mengubah perilaku, tidak hanya satu orang, tapi perilaku satu bangsa. Inilah yang disebut tranformasi yang sesungguhnya.

Tuhan, Aku rindu Engkau mengubah karakter bangsa Indonesia sehingga kami mengalami transformasi ke arah yang lebih baik. Kabulkan permohonanku ini, Tuhan.

Pahlawan Iman

"Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya". (Ibrani 10:35)

Uskup Festus Kivengere dari Uganda menceritakan penganiayaan yang dilakukan diktator Idi Amin terhadap orang Kristen Uganda, 1973:" 10 Februari adalah hari yang tak terlupakan... Saya diijinkan penguasa untuk berbicara dengan orang-orang yang akan dihukum mati.... Tangan mereka diborgol dan kaki mereka dirantai. Mereka diturunkan di tengah stadion dari sebuah truk. Pasukan penembak sudah siap di situ
Ketika mendekat, saya melihat wajah mereka berseri-seri. Mereka berkata, 'Uskup, terimakasih karena sudah datang. Saya ingin bersaksi. Ketika saya ditangkap, di penjara saya menerima Yesus sebagai Juruselamat. Dia menghapus dosa-dosaku! Sorga kini terbuka dan tidak ada lagi yang mengahalngi antara saya dengan Tuhan! Tolong beritahu anak dan istri saya bahwa saya sudah bersama Yesus. Katakan juga supaya mereka juga menerima Dia.'
"Dua orang lagi bercerita kisah yang sama. Saya merasa harus mengatakan semua itu kepada para tentara itu, dengan bahasa yang mereka mengerti. Tentara yang berdiri dengan senjata terkokang itu terlihat kebingungan.
"Tiga orang itu berdiri menghadap regu penembak dengan tegar. Mereka mengangkat tangan dan melambaikan ke arah penonton. Penonton ikut melambaikan tangan. Suara tembakan memecah keheningan, lalu ketiganya bersama Yesus…"
"Minggu berikutnya, saya menceritakan pembunuhan tiga orang ini dalam kebaktian di kota kelahiran salah satu orang yang mati itu. Pada mulanya, jemaat terlihat berduka. Akan tetapi ketika saya menceritakan kesaksian orang itu, perkabungan itu berubah menjadi puji-pujian pada Tuhan! Banyak orang yang berbalik kepada Tuhan."
Dalam Ibrani 11, kita membaca daftar orang-orang yang menderita karena iman mereka. "Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan." (Ibrani 11:37). Tidak hanya di Uganda atau di Israel, di Indonesia pun ada banyak orang Kristen yang menjadi martir Allah. Ada baiknya kalau kita mendokumentasikan kepahlawanan mereka sehingga bisa menjadi sumber teladan bagi banyak orang. (Wwn)

Tuhan, ajarku supaya bisa meneladani keteguhan hati para martir di dalam mempertahankan iman mereka. Beri aku kekuatan ketika aku harus mempertanggunjawabkan imanku di hadapan orang lain.

Tuhan tidak Butuh Orang Hebat

"Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu." (1 Tesalonika 1:5)

Apakah Anda merasa tidak punya cukup kemampuan untuk melayani Tuhan? Jika jawabannya, 'ya', maka Anda tidak sendirian. Paulus juga merasa begitu. Meskipun punya otak cerdas, Paulus mengakui kalau dia tidak pandai berkhotbah," Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh." (1 Korintus 2:3-4). Bahkan pengkritiknya mengatakan:"perkataan-perkataannya tidak berarti." (2 Korintus 10:10)
Susah dibayangkan memang, seorang rasul untuk orang non-Yahudi, orang yang paling banyak menulis surat-surat dalam Alkitab, yang membawa Injil ke Roma,dan yang merintis banyak gereja, tetapi menurut para pengkritiknya payah dalam berkhotbah!
Bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa Tuhan memilih orang yang tidak bisa bicara efektif? Mengapa Tuhan tidak memilih orator ulung saja untuk menyampaikan kabar yang penting ini? Jawabnya, Tuhan memilih Paulus supaya orang lain melihat bahwa kekuatan pesan yang disampaikan Paulus bukan terletak pada kemampuan dirinya melainkan dari kekuatan adi kodrati.
Melayani Tuhan tidak harus selalu menjadi pengkhotbah. Kita bisa melayani Tuhan dengan, misalnya dengan menjadi pekerja sosial atau relawan untuk lembaga-lembaga sosial. Misalnya, kita bisa menjadi tenaga penyuluh sukarela tetntang bahaya AIDS, narkoba, atau aborsi di lingkungan kita. Tuhan tidak membutuhkan orang-orang yang hebat, karena dia sudah Maha Hebat. Tuhan hanya menghendaki kepercayaan dan ketaatan kita. (wwn)

Tuhan, pakailah aku dengan segala keberadaanku. Aku percaya dengan anugerah-Mu, aku bisa melakukan perkara besar.

40 Martir Sebastian

40 Martir Sebastian
"Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa" (2 Korintus 6:4-5)

Tahun 320, Licinius yang jadi kaisar Romawi Timur, menganiaya orang Kristen. Dia memerintahkan semua tentaranya untuk menyangkali Kristus. Tapi di wilayah Sebaste (sekarang Sivas, Turki), ada 40 tentara yang menolak perintah itu. Mereka ditelanjangi dan direndam dalam danau beku di malam hari.
Untuk menggoda mereka, para perwira membuat api unggun di pinggir danau, lengkap dengan selimut, air hangat, makanan dan minuman panas. "Datanglah ke sini kalau kamu mau menolak imannmu," teriak mereka.Tapi ada seorang ibu dari tentara termuda menyemangati mereka dari pinggir danau.
Dengan berani, tentara Kristen ini menjawab, "Kalian boleh merampas senjata dan tubuh kami, tetapi jiwa kamia dalah milik Kristus." Mereka lalu berangkulan sambil menyanyi lagu kemenangan
Menjelang malam, ada seorang yang tidak tahan. Dia lari ke pinggir danau. Tapi lalu ada kejadian luar biasa. Di antara perwira itu ternyata ada yang diam-diam percaya pada Kristus. Dia lalu menanggalkan bajunya dan bergabung ke dalam es untuk menggantikan orang yang tidak tahan siksaan itu. Saat fajar, keempat puluh tentara Kristen itu ditemukan mati membeku.
Setiap kali membaca kisah kemartiran, saya selalu mendapat penguatan dan diberkati dari kegigihan iman mereka. Tapi saya juga merasa jadi malu pada diri sendiri, karena saya kadangkala mencari banyak dalih supaya tidak perlu menunjukkan iman di hadapan umum. Tetapi Paulus menegaskan dengan menanggung semua kesesakan,kesukaran dan penderitaan dengan sabar itulah kita bisa menunjukkan sebagai "pelayan Allah."
Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi martir, tetapi semua orang dipanggil menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi artinya mengatakan kebenaran di depan banyak orang. Tidak ada saksi yang bersaksi dengan diam-diam. Ini bukan pilihan. Ini adalah kewajiban kita.

Kantong Anggur yang Baru

Kantong Anggur yang Baru
Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. (Lukas 5:38)

Yesus mengajarkan bahwa wujud dari praktik kekristenan harus berubah. Di dalam Luk. 5:36-39 ini Yesus mengatakan bahwa kain dan kantong anggur hanyalah baju luar dan kemasan, yang bukan merupakan inti dari iman kita. Keduanya melambangkan kebiasaan dan tradisi ibadah kita. Yesus mengatakan, bahwa kebiasaan tidak selamanya akan cocok untuk kebutuhan zaman. Waktu berubah, kebudayaan berubah. Yang tidak berubah adalah inti iman kita.
Namun perubahan bukanlah perkara mudah. Upaya untuk menyesuaikan praktik iman dengan kebutuhan zaman akan selalu terhambat oleh "status quo". "Buat apa kita harus berubah? Toh, yang kita lakukan selama ini tetap memelihara iman kita? Toh selama ini baik-baik saja. Buat apa kita harus berubah?" Pertanyaan ini biasanya berasal dari kalangan orang tua. Hal ini wajar saja, karena mereka sudah mapan, sehingga mereka tidak mau mengubah kenyamanan itu.
Hambatan ini sebenarnya lebih bersifat sosiologis, ketimbang masalah spiritual. Wajar saja jika orang enggan mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Akan tetapi data statistik menunjukkan bahwa anak muda merupakan kelompok usia paling banyak dalam struktur masyarakat kita. Itu artinya kita perlu memakai pendekatan baru untuk menjangkau mereka. beberapa gereja sudah memulai dengan model pelayanan kontemporer khas anak muda. Misalnya dengan memakai jalur musik, olahraga, kursus, atau pecinta alam sebagai pintu masuk untuk mengenalkan Kristus pada mereka.
Kita perlu belajar dari Eropa. Sekarang ini gereja-gereja di sana mulai lengang karena mereka lalai melayani kebutuhan anak muda. Tinggal orang-orang tua yang masih setia ke gereja. Ingatlah, mengubah metode pelayanan bukan berarti mengubah keimanan kita.
Tuhan, tolonglah aku supaya tidak terikat dengan tradisi gereja hanya karena aku merasa nyaman di dalamnya. Tolonglah aku mencari cara yang tepat untuk menjangkau anak muda.

Pemerasan Buruh

"Janganlah engkau memeras pekerja harian yang miskin dan menderita, baik ia saudaramu maupun seorang asing yang ada di negerimu, di dalam tempatmu."-Ulangan 24:14
Maraknya demonstrasi buruh akhir-akhir ini menunjukkan adanya ketidak-beresan dalam sistem ketenaga-kerjaan. Dengan paradigma pembangunan yang menekankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, penguasa menetapkan kebijaksanaan yang menekan upah buruh semurah-murahnya. Hak-hak buruh pun dipangkas seminim mungkin. Tujuannya supaya kaum investor tergiur menanamkan modalnya di Indonesia.
Di sisi lain, jumlah angkatan kerja yang sangat tinggi tidak diimbangi oleh ketersediaan lapangan kerja yang cukup. Akibatnya, posisi tawar buruh pun tidak kuat sebab mereka rentan terhadap pemecatan. Ketidakseimbangan neraca kekuatan ini menempatkan majikan lebih tinggi daripada posisi buruh. Dalam beberapa kasus, majikan sering berbuat seenaknya sendiri (terutama dialami oleh TKI/TKW).
Di dalam hukum Taurat, Tuhan melarang para majikan memeras keringat pekerjanya dengan sewenang-wenang. Mereka tidak boleh menahan gaji/upah. Juga dilarang merampas (Im. 19:13). Di saat kita merenungkan ayat ini, lalu teringat kisah sengsara TKI/TKW yang disekap selama berbulan-bulan tanpa diberi gaji, perasaan kita menjadi geram. Persoalannya kadangkala tanpa disadari ketidak-adilan pun ada di sekeliling kita. Misalnya: Apakah Anda sudah memberikan jam kerja yang layak pada pembantu rumah tangga? Apakah sudah memberikan gaji layak pada saudara yang bekerja pada Anda (karena masih bersaudara bukan berarti kita bisa memberikan gaji seenaknya)? Apakah pernah melecehkan dan menganiaya pekerja Anda? (Ingat, kata-kata: "dasar goblok", "otak udang", "bego" dan sebagainya, adalah kata-kata pelecehan).
Majikan mempekerjakan seseorang karena dia tidak bisa mengerjakan semuanya sendirian, sedangkan kaum pekerja menyediakan tenaga dan pikirannya untuk sejumlah uang. Jadi hubungannya adalah saling membutuhkan. Jika ini dipahami kedua pihak, maka niscaya tidak ada demonstrasi buruh atau penganiayaan terhadap buruh.
Tuhan, malam ini aku ingin mendoakan orang yang bekerja padaku. Berkatilah mereka dengan berlimpah-limpah. Berilah karunia kesehatan yang baik. Terimakasih Tuhan

Teror Siapa Takut

Teror: Siapa Takut?
"Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?" - Mazmur 27:1
Dalam film "Air Force One", Harrison Ford yang memerankan presiden Amerika, berkata lantang pada para teroris:"Kami tidak akan takut lagi pada teror yang kalian lakukan. Sekarang giliran kalian untuk takut." Dia lalu mencanangkan gerakan perlawanan pada terorisme.
Tujuan dari setiap tindakan teror adalah untuk menciptakan ketakutan yang meluas di kalangan masyarakat (teror="takut"). Demikian pula, maraknya pengeboman di berbagai tempat di Indonesia. Targetnya adalah menciptakan rasa tidak aman di kalangan masyarakat. Dengan meledakkan bom di tempat dan waktu yang tak terduga akan membuat masyarakat selalu was-was alias cemas. Bahkan hal ini telah menjadi semacam paranoia terhadap hal-hal yang asing dan mencurigakan.
Maka tak heran kalau akhir-akhir ini warga gereja menjadi gampang curiga pada orang asing yang ikut dalam kebaktian mereka. Alih-alih menyambut dengan ramah, kita justru memandang "orang asing" itu dengan pandangan menyelidik. "Ah, jangan-jangan dia hendak bermaksud jahat." Meski ketakutan ini bisa dipahami, akan tetapi hal justru akan membuat para teroris itu tertawa kegirangan, sebab misi utama mereka telah tercapai.
Inilah yang perlu kita lawan, yaitu ketakutan yang mereka coba ciptakan. Jika setiap kali terjadi tindakan teror kita menjadi takut, maka terorisme akan semakin marak karena dinilai menjadi sarana yang efektif untuk memaksakan kehendak mereka. Mari kita seperti Daud yang tidak gentar berkata kepada musuh-musuhnya: "Kepada siapakah aku harus takut. Terhadap siapakah aku harus gemetar? Sebab Tuhan ada di pihakku." Seperti slogan iklan shampo, kita bisa berkata kepada teroris itu: "siapa takut?" (Wwn)
Tuhan, ampuni para teroris yang banyak menganiaya ank-anak-Mu di Indonesia. Berilah kekuatan pada kami sehingga kami tidak takut pada perbuatan jahat mereka.

Teror Siapa Takut

ABS
"Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel!" (II Raj. 5:15).
Naaman adalah seorang Panglima Angkatan Bersenjata Aram yang brilian. Berkat kecakapannya mengatur strategi perang, kemenangan demi kemenangan digapainya. Sayangnya, ia menderita sakit kusta. Sebuah penyakit yang sangat menjijikan dan menakutkan, pada saat itu. Hanya karena jabatannya yang tinggi saja ia tidak diasingkan dari masyarakat.
Suatu kali dari pembantu istrinya, Naaman mendapat saran untuk meminta kesembuhan pada nabi Elisa. Singkat cerita, dengan kereta dan kuda kebesaraannya, Naaman sampai di depan rumah Elisa. Alih-alih menyambut layaknya seorang pejabat yang datang, Elisa malah menyampaikan pesan lewat suruhan supaya Naaman "mandi tujuh kali dalam sungai Yordan" (II Raj.5:10).
Naaman tersinggung berat. Disangkanya, Elisa akan melakukan ritual tertentu untuk menyembuhkannya. "Ini malah disuruh mandi di sungai Yordan. Mengapa tidak di sungai Abana dan Parpar di Damsyik yang lebih baik," katanya dengan gusar. Pada saat itulah, asisten Naaman memberi usul yang bijaksana, "seandainya diberi tugas yang sulit, Bapak tentu akan melakukannya. Bukankah perintahnya mudah sekali: hanya mandi di sungai. Toh, bukan pekerjaan yang berat." Naaman mendengar saran itu dan menuruti perintah Elisa. Akhirnya tahirlah ia. Setelah itu, Namaan mengakui bahwa tidak ada tuhan lain selain Allah Israel.
Bayangkan, seandainya asisten Naaman bermental ABS (Asal Bapak Senang). Biasanya, demi menyenangkan hati atasannya, seorang bawahan hanya bisa mengiyakan perkataan atasannya. Kalau perlu menambahi dengan kata-kata yang menyenangkan tuannya itu (dalam istilah sekarang disebut: "menjilat"). Jika ini dilakukan, maka niscaya Naaman tidak akan pernah sembuh.
Pada era rezim Soeharto, mentalitas seperti ini berkembang dengan subur. Karena hanya mendapat laporan yang baik-baik saja, pak Harto tidak bisa memahami tingkat kegawatan krisis yang sedang terjadi. Meskipun Anda tidak menempati posisi pimpinan, Anda bisa mempengaruhi sebuah keputusan dengan memberi usul dan saran yang bijaksana. (Wwn)
Tuhan, tuntunlah lidahku supaya dari mulutku hanya keluar kata-kata hikmat dan bijaksana saja.

Tentara yang "Buta"

09 December 2006
"Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku". (Matius 25:45)

Pada Perang Dunia II, hiduplah seorang kakek yang punya koleksi uang logam yang sangat langka di dunia. Dia takut tentara musuh akan merampas koleksinya.  Karena itu, dia memasukkan koleksinya ke dalam karung kecil dan menyembunyikannya.
Dan benar, sepasukan tentara menerobos masuk rumahnya. Mereka menodongkan senjata ke arah keluarga itu sambil mencari koleksi yang sangat terkenal itu.  Mereka membongkar lemari, mengeluarkan isi laci, mencari di dapur, di langit-langit, dan semua tempat yang dicurigai secara teliti.  Tapi hasilnya nihil. Lalu dengan kecewa mereka pergi dan tak pernah kembali lagi.
Dimanakah koin itu? Ternyata kakek meletakkan karung berisi koin itu di tempat terbuka, di tempat yang bisa dilihat semua orang, yaitu di lantai ruang bawah tanah.  Meski melihatnya, tetapi para tentara mengabaikannya karena mereka justru mencarinya di tempat tersembunyi.
Sebagaimana tentara yang "buta" itu, kita seringkali tidak melihat "harta" yang ada di depan hidung kita. Banyak orang Kristen yang rindu terjun di dunia pelayanan.  Kita menunggu sebuah pelayanan "ideal" seperti yang ditampilkan di TV atau yang dimuat di majalah rohani. Tapi akhirnya kita hanya menunggu saja, karena kita mencarinya di tempat tersembunyi. Padahal, ladang pelayanan itu terhampar di depan hidung kita. Entah itu berupa orang gila yang lewat di depan hidung kita, pengemis yang menadahkan tangan kepada kita di lampu merah atau waria yang mengamen di depan warung kita.
Malam ini kita perlu memeriksa diri, mungkinkah ada "Yesus-Yesus" di sekitar kita, yang luput dari perhatian kita.  Jangan sampai kita kehilangan "harta berharga" itu karena kita mengabaikannya.

Tuhan, beri aku kepekaan supaya aku bisa melihat harta yang Engkau anugerahkan kepadaku.

Kondektur yang Kasar

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.  Amsal 16:24


Suatu kali, saya pernah merasa dongkol pada seseorang karena saya anggap berlidah tajam.  Bagaimana tidak, perkataan yang saya ucapkan dengan tulus, dia tanggapi secara sinis. Hingga suatu ketika saya mendapat berkat dari ilustrasi ini:
Ada seorang pria yang naik kereta api. Tanpa sadar, dia duduk di kursi yang tidak sesuai dengan tiketnya. Tak pelak lagi, ketika kondektur memeriksa tiket, pria itu dimarahi habis-habisan karena kecerobohannya itu. Setelah kondektur berlalu, penumpang yang di sampingnya berkata, "Mengapa Anda tidak menonjok hidung kondektur yang kasar itu? Atau setidaknya melaporkan ke atasannya?"
"Oh, tidak perlu," jawab pria itu dengan kalem. "Jika dia bisa tahan menghadapi dirinya sendiri, dengan sikap seperti itu seumur hidupnya, saya yakin saya bisa tahan menghadapi sikap dirinya seperti itu selama dua menit saja."
Akhir-akhir ini, orang gampang sekali tersulut kemarahannya.  Perkara sepele saja bisa membakar sumbu yang meledakkan murka orang. Saya sendiri kadang masih kurang sabar jika di melihat pengendara yang ugal-ugalan di jalan raya. Saya ingin mengumpat orang itu. Tapi saya akhirnya menyadari bahwa kata-kata kasar tidak akan mengubah perilaku orang itu menjadi lebih baik. Kata-kata kasar justru akan menimbulkan kepahitan. "Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang."  (Ibrani 12:15)
Menjelang PEMILU ini, suhu politik akan memanas.  Akan terjadi banyak permainan kata-kata.  Sebagai umat Kristen, mari kita menyejukkan suanana dengan hanya mengucapkan perkataan yang membangun. "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." - Amsal 18:21

Tuhan, beri kekuatan supaya aku bisa mengendalikan lidahku, sehingga hanya kata-kata yang baik saja yang keluar dari mulutku.

Syafaat Kota

"Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,    untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan."  (1 Timotius 2:1-2)


Sekitar enam tahun lalu di India tengah, kelompok anti Kristen yang radikal mendekati Rahul. Mereka menawarkan bayaran yang menggiurkan jika Rahul mau membunuh seorang misionaris. Rahul setuju.
Malam harinya, Rahul menyambar pisau dan mengendap-endap menuju rumah misionaris. Dia melongok lewat jendela, tetapi dia termangu sejenak. Dia melihat pria yang sedang berlutut di samping tempat tidur dan berdoa. "Besok saja aku datang lagi," kata Rahul dalam hati.
Keesokan malamnya, dia melihat pemandangan yang sama. Dia mendengar pria itu menangisi desanya di hadapan Tuhan, serta minta kekuatan dari Tuhan.
Paginya, Rahul berpapasan dengan misionaris itu di jalan. "Pendeta," kata Rahul, "Saya dibayar untuk membunuh Anda, tetapi setiap akan melakukannya, Anda sedang berdoa." Mereka lalu bercakap-cakap cukup lama yang diakhiri dengan pertobatan Rahul. Setelah belajar di sekolah Alkitab selama 3 tahun, Rahul malah menjadi seorang misionaris dan menggembalakan sebuah gereja di India.
Kapan terakhir kali Anda bersyafaat untuk kota/desa Anda? Paulus memberikan nasehat supaya kita mendoakan "raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." Dalam bahasa masa kini, bisa dipahami demikian: mendoakan para penguasa supaya mereka memberikan jaminan kebebasan beribadah dan melindungi martabat kemanusiaan kita.
Kita perlu melihat persoalan-persoalan yang ada di sekitar kita dan membawanya dalam syafaat kita. Mungkin itu berupa persoalan narkoba, kesenjangan, kemaksiatan, kekerasan, pengangguran dll. Untuk itu dibutuhkan kepekaan tersendiri. Meskipun Anda sedang tidak sedang mendapat ancaman pembunuhan, bersyafaatlah untuk kota atau desa Anda.

Tuhan, tolong berikan kepekaan kepadaku supaya aku bisa melihat persoalan-persoalan serius yang sedang membelit lingkungan sekitarku

Seandainya Ester tidak Berpolitik

"Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu."  (Ester 4:14)

Politik itu kotor! Demikian anggapan sebagian besar orang Kristen.  Selama ini masih ada anggapan bahwa politik adalah upaya seseorang atau sekelompok orang untuk memaksakan kepentingannya dengan segala cara. Entah itu dengan tipu muslihat, mengorbankan orang lain atau dengan kekerasan. Mungkin itulah sebabnya mengapa hanya sedikit orang Kristen yang mau terjun ke dunia politik.
Benarkah anggapan ini?  Mari kita ingat kembali kisah dari kitab Ester. Waktu itu, Israel berada di masa pembuangan.  Adalah seorang pembesar yang mendapat kekuasaan besar dari raja Ahasyweros. Namanya Haman.  Dia begitu membenci orang Israel, termasuk kepada Mordekhai, orang Yahudi yang berjasa menyelamatkan raja dari rencana pembunuhan. Haman berencana membantai semua orang Yahudi. Mengetahui rencana busuk ini, Mordekhai membujuk Ester--satu-satunya orang Yahudi yang memiliki akses ke pusat kekuasaan--agar memberitahukan hal ini pada raja.
Bayangkan seandainya Mordekhai dan Ester enggan berpolitik. Maka punahlah seluruh bangsa Israel. Meski sama-sama berpolitik, namun Mordekhai dan Ester masih mengindahkan nilai-nilai moral, sedangkan Haman tidak. Mordekhai dan Ester berpolitik demi kepentingan orang banyak, sedangkan Haman berpolitik demi kemuliaan pribadinya.
Orang Kristen perlu berpolitik! Bukan berpolitik demi kepentingan dirinya sendiri ataupun kepentingan orang Kristen, melainkan untuk memperjuangkan kesejahteraan umat manusia. Jika saat ini mendapat kedudukan yang strategis, seperti Ester, manfaatkan itu untuk menyelamatkan bangsa ini. "Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang [Indonesia] akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, ...Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai....(Isi kedudukan Anda saat ini)
Seandainya pun Anda hanya orang Kristen "biasa", Anda masih bisa mengubah nasib bangsa ini dengan tidak memberikan suara Anda dalam Pemilu nanti pada "Haman", tetapi pada "Ester" atau "Mordekhai". Berikan suara Anda pada orang yang tepat!

Tuhan mulai saat ini, berikan petunjuk-Mu supaya aku bisa menyerahkan hak pilihku pada wakil rakyat yang tepat.

Seperti Anak Kecil

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."  (Lukas 18:17)

Ketika Tuhan memerintahkan Musa supaya memimpin umat-Nya keluar dari Mesir, Musa mengelak. "Siapakah aku ini? Saya tidak pandai berbicara,"kata Musa memberi alasan. Hal ini berbeda sekali dengan bocah kecil yang menawarkan lima roti dan dua ikan kepada Yesus untuk memberi makan lima ribu orang. Maka tak heran kalau Yesus lalu berkata, "  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."
Bayangkan situasinya: Ada 5.000 orang kelaparan.  Para murid bertanya pada Yesus apa yang harus diperbuat untuk mengatasi situasi ini.  Lalu ada anak kecil datang untuk menawarkan bekal makan siangnya. Kalau Anda menjadi murid Yesus mungkin akan tertawa geli melihat kepolosan bocah itu.  Mana mungkin makanan satu orang cukup untuk dibagi dan bisa mengenyangkan ribuan orang? Tetapi Yesus menghargai iman bocah ini.
Saya punya teman yang susah kalau diajari komputer.  Lalu saya beri nasihat,"Sudahlah, berlaku seperti anak kecil saja.  Coba saja semuanya lalu lihat apa yang terjadi.  Yang penting jangan takut pada mesin ini." Bukankah kita juga sering begitu. "Saya tidak punya talenta mengajar Sekolah Minggu", "Rumah kami tidak layak untuk tempat Persekutuan","Saya ini pengusaha, saya tidak bisa berkhotbah." Belajarlah pada anak kecil ini.  Dengan penuh iman dia menawarkan apa yang cuma sedikit yang dipunyainya, tetapi Tuhan melipatgandakan untuk memberkati banyak orang. (Wwn)

Tuhan, ajar aku memiliki iman seperti anak kecil ini.  Pakailah apa yang telah Engkau karuniakan kepadaku, untuk memberkati banyak orang.

Kuasa Doa

Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,  (Kolose 1:9)

Monica lahir dan dibesarkan oleh keluarga Kristen yang tinggal di Tagaste, Afrika Utara. Dia dinikahkan dengan seorang penyembah berhala.  Suaminya selalu mengkritik kesalehan Monica. Meski begitu, Monica selalu setia mendoakan suaminya (Akhirnya doanya dijawab setahun sebelum Monica meninggal. Suaminya bertobat).
Monica melahirkan 3 anak.  Yang sulung bernama Agustinus yang pertobatannya di kemudian hari banyak dikenang orang. Sewaktu muda, Agustinus dikenal sebagai anak yang suka memberontak. Pada usia 15 tahun dia sudah kumpul kebo dengan seorang wanita.
Agustinus muda menekuni fisafat Manicheism yang meyakini ada dua Pencipta. Pertama, Tuhan yang menciptakan semua hal yang baik. Kedua, Roh Jahat yang menciptaka semua hal yang buruk. Para pengikutnya yakin bahwa kedua "Pencipta" ini kedudukannya setara.
Agustinus belajar ilmu retorika dan mulai berkelana dari kota ke kota untuk mengajar dan berpidato. Ketika sampai di Milan Italia, dia mendengar khotbah Ambrose yang menyadarkan dia kembali pada Kristus. Beberapa tahun kemudian, Agustinus dibimbing oleh Ambrose, lalu dibaptis pada usia 33 tahun. Agustinus meninggalkan pasangan kumpul kebonya dan bertekad melayani Tuhan. Yang menarik, pertobatan Agustinus ini tak lepas dari peran Monica, ibunya. Selama Agustinus menjadi 'domba yang hilang", Monica selalu setia mendoakan anaknya.
Beberapa tahun setelah pertobatan Agustinus, Monica meninggal dunia.  Sebelum meninggal, dia berkata pada Agustinus: "Nak, tidak ada di dunia ini yang menyamai sukacitaku. Saya tidak punya keinginan lainnya lagi karena sekarang semua pengharapanku sudah terpenuhi." Apakah saat ini Anda sedang mendoakan seseorang? Jangan cepat merasa putus asa. Ingatlah Monica yang berdoa selama lebih dari 15 tahun, dan Tuhan baru menjawab doanya. (Wwn)

Tuhan, Engkau tahu aku sedang mendoakan ..........(sebutkan namanya). Meski Engkau belum menjawabnya, tetapi aku tahu Engkau mendengarkan doaku.

Lain di Bibir, Lain di Hati

Lain di Bibir, Lain di Hati

Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.  (Matius 15:8)
Tuhan membenci kemunafikan. Jika kita melayani Dia, maka semestinya ucapan kita selaras dengan perbuatan kita. Bagaimana caranya melayani Tuhan dengan ketulusan?
Pertama, kita harus melayani dengan sungguh-sungguh. Kita telah ditebus untuk melakukan kehendak Tuhan. Ayat nats kita malam ini merupakan kutipan dari Perjanjian Lama. Orang Israel berjanji melayani Tuhan sebagai ucapan syukur karena Tuhan telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir.
Kedua, kita melayani secara eksklusif. Seorang hamba tidak bisa mengabdi pada dua tuan secara bersamaan. Kita tidak bisa melayani Tuhan, sambil melayani pada hal yang lain(Mat. 6:24; Kel. 20:2,3).  Meski begitu, kita bisa melayani orang lain untuk memuliakan Tuhan Yesus. Tujuan kita melayani adalah untuk menyenangkan Tuhan. Semua kekuatan kita, pengetahuan kita dan rencana kita, hanya berasal dari Tuhan.
Ketiga, kita melayani dengan sukacita. Kadangkala kita seperti anak sulung dalam perumpamaan Anak yang Hilang. Kita mungkin melakukan pekerjaan pelayanan tetapi hati kita tidak diserahkan pada Tuhan. Tuhan jelas tidak menghendaki pelayanan kita menjadi membosankan atau dikerjakan dengan bersungut-sungut. Ketika kita melayani Dia, maka kita harus melayani dengan penuh sukacita dan kita menikmati pertumbuhan rohani kita.
Periksalah pelayanan Anda saat ini.  Apakah Anda melayani Tuhan dengan sukacita, ataukah Anda mengerjakannya sekadar karena menjalankan tugas Anda?  Jangan sampai pada hari penghakiman nanti, kita termasuk orang yang "bernubuat, mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat demi nama Tuhan", tetapi Tuhan berkata terus terang: "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"(lihat Matius 7:22-23).(Wwn)
Tuhan, selidikilah aku. Tegurlah jika Engkau mendapati kemunafikan dalam hidupku

Kebaikan Hati

  1. Kebaikan Hati

Sebagai balasan terhadap kasihku mereka menuduh aku, sedang aku mendoakan mereka.  (Mazmur 109:4)

Bagaimana rasanya jika Anda berbuat baik pada seseorang, tapi orang itu malah bersikap jahat pada Anda? "Hati ini rasanya sakit sekali." Kebanyakan orang akan menjawab begitu.  Perasaan itu muncul karena kita tidak memiliki motivasi murni ketika berbuat baik.  Banyak orang Kristen yang menolong orang lain, tapi disertai harapan agar orang itu menjadi Kristen. Ada juga gereja yang berbaik-baik dengan tetangga supaya gerejanya terhindar dari gangguan. Ada pula orang Kristen yang berderma supaya dikenal sebagai seorang dermawan.
Maka tak heran, ketika ternyata "hasil" yang didapat tidak sesuai dengan keinginan kita, kita lalu menjadi kecewa. Apalagi jika kebaikan kita justru ditanggapi secara negatif. Kita masih ingat Yayasan Doulos yang dibakar massa. Lembaga yang berusaha memulihkan pecandu narkoba ini justru difitnah dengan bermacam-macam tuduhan. Hal yang sama juga dialami Romo Sandyawan. Bersama Tim Relawan Untuk Kemanusiaan, dia dengan tulus membantu korban-koban perkosaan pada kerusuhan 12-13 Mei 1998. Apa yang mereka dapat? Hujatan, teror, bahkan ancaman keselamatan.
Jika begitu, apakah kita lalu berhenti berbuat baik? Dalam hal ini Paulus memberi saran supaya kita jangan sampai kalah terhadap kejahatan: "Tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!"  (Rm.12:21) Kalau kita mutung (patah arang) berbuat baik, hal ini justru akan merugikan orang lain yang benar-benar membutuhkan kebaikan kita. Ibu Theresa pernah memberi nasihat, "berbuatlah baik kepada semua orang.  Meskipun orang lain menanggapinya dengan kejahatan, tetapi tetaplah berbuat baik."
Kita berbuat baik kepada orang lain, karena Tuhan telah lebih dulu berbuat baik kepada kita. Perbuatan baik kita adalah ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan kepada kita. Semoga ini yang mendasari kita untuk berbuat baik kepada orang lain. (Wwn)

Tuhan, murnikan motivasiku ketika aku berbuat baik kepada orang lain. Aku ingin bisa punya banyak kesempatan berbuat baik sebagai ungkapan syukurku atas kebaikan-Mu kepadaku.

Mertua vs Menant

08 December 2006
Nas: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:24 TB)

Saya mengenal sepasang suami-isteri yang masih numpang tinggal seatap ibunya. Uniknya, pendapatan sang suami ini selalu diberikan sepenuhnya pada ibunya ini. Di dalam keluarga ini, terasa ada nuansa persaingan antara sang ibu dengan menantu perempuannya. Hingga suatu ketika terjadi pertengkaran hebat antara kedua wanita ini.
Tuhan memerintahkan kita untuk menghormati orang tua (Kel. 20:12; Ul. 5:16). Perintah ini sangat jelas dan disertai dengan sanksi yang tegas:kematian!( Mat 15:4). Namun soal pernikahan, seorang laki “meninggalkan” ayahnya dan ibunya untuk bersatu dengan isterinya. Maksud dari “meninggalkan” ini punya makna yang luas. Namun intinya, adalah kemandirian dari orangtua.
Ketika seseorang memasuki lembaga pernikahan, maka mereka membentuk entitas sosial terkecil, yaitu keluarga. Kelompok kecil ini memiliki wilayah otoritas sendiri. Mereka berhak mengatur kehidupan rumah tangganya sendiri, tanpa intervensi pihak lain. Sekalipun ada desakan dari orangtua sendiri, tapi mereka punya hak untuk menolaknya jika itu tidak sesuai dengan rumah tangganya. Dalam hal ini, sang anak tidak dianggap berdosa terhadap orangtuanya.
Keluarga Blessing, meski setiap keluarga punya wilayah otoritas, tapi sebaiknya kita tidak “memagari” batas-batas ini dengan kawat berduri. Itulah seninya berkeluarga. Ada kalanya kita menerima saran yang baik dari pihak lain. Tapi ada saatnya kita harus berani berkata “tidak” dengan tegas, tanpa harus mengorbankan hubungan baik [purnawan].

SMS from God:

Ingat prioritas ini: pertama, pasangan hidup dan anak-anak Anda, barulah kemudian orangtua Anda.