Showing posts with label pantang menyerah. Show all posts
Showing posts with label pantang menyerah. Show all posts

Ludes Dilalap Api

27 December 2007

Thomas Edison adalah penemu microphone, phonograph, lampu pijar, accu, film bersuara dan lebih dari 1000 temuan lainnya. Suatu malam di bulan Desember 1914, dia sedang merampungkan karyanya yaitu baterai penyimpan tenaga yang sudah dia kerjakan selama 10 tahun. Proyek ini telah menghabiskan banyak biaya. Tiba-tiba terjadi kebakaran di ruangan penyimpanan film.Padahal di ruangan itu tersimpan bahan-bahan yang mudah sekali terbakar. Dalam sekejap ruangan itu dilalap api.

Pemadam kebakaran yang didatangkan dari delapan kota sekitarnya tidak mampu memadamkan api. Tanpa ampun, api melalap aset senilai sekitar dua juta dollar (Bangunan itu hanya diasuransikan sebesar $238,000).

Apakah musibah itu memukul semangat sang Penemu? Charles (24 tahun), anak Thomas Edison bersaksi: Dia melihat ayahnya sedang berdiri melihat kebakaran itu dengan tenang. Wajahnya berkilat-kilat karena memantulkan nyala lidah-lidah api. Rambutnya yang mulai memutih berkibar-kibar ditiup angin. "Saya menaruh kasihan pada ayah," kata Charles,"dia sudah berusia 67 tahun, sudah tidak muda lagi. Segala miliknya sudah dilalap api." Tiba-tiba Edison berteriak padanya. "Charles, dimana ibumu?" Charles mengatakan kalau dia tidak tahu."Carilah dan ajak dia ke sini. Dia tidak akan pernah melihat pemandangan seperti ini lagi," perintah Edison .

Paginya, Edison melihat sisa-sisa kebakaran dan berkata,"ada keuntungan besar dari musibah ini. Semua kesalahan kita ikut terbakar. Puji Tuhan, kita bisa memulai yang baru."

Tiga minggu setelah kebakaran, Edison merampungkan karya temuan phonograph.

Kematian Para Rasul

15 November 2007

* Matius menderita sebagai martir. Kepalanya dipenggal di suatu kota di Ethiopia.

* Markus meninggal dunia di Aleksandria setelah diseret secara kejam di jalanan sepanjang kota itu.

* Lukas digantung di atas pohon Zaitun di sebuah kota di Yunani.

* Yohanes dicemplungkan di dalam wajan berisi minyak yang mendidih tetapi lolos dengan cara yang ajaib. Setelah itu dibuang ke pulau Patmos.

* Petrus disalib terbalik, dengan kepala di bawah, di kota Roma.

* Yakobus Agung, kepalanya dipenggal di Yerusalem.

* Yakobus, dilempar dari puncak kuil, kemudian dipukul hingga mati dengan batu oleh seorang pekerja atas perintah majikannya.

* Bartolomeus dikuliti hidup-hidup.

* Andreas diikat di salib. Sementara itu dia malah menginjili para penganiayanya, hingga dia mati.

* Tomas meninggal dunia dengan tubuh penuh tikaman tombak di kota Koromandel di wilayah India bagian Timur.

* Yudas dipanah hingga mati.

* Mateas dirajam dengan batu, kemudian kepalanya dipenggal.

* Barnabas dirajam dengan batu hingga mati di Salonika.

* Paulus, setelah mengalami beberapa jenis penyiksaan, dia akhirnya dipenggal di Roma atas perintah Kaisar Nero.

Terikat di Perahu

13 November 2007

Sebuah perahu nelayan nyaris tenggelam di perairan dingin dekat kepulauan Vancouver. Di atas perahu yang perlahan-lahan mulai masuk ke dalam air itu, masih ada dua nelayan yang terikat dengan tali nilon. Mereka tidak punya pisau atau alat pemotong lainnya. Jika tidak segera bisa melepaskan diri, keduanya bisa terseret ke dasar lautan yang dingin dan mati tenggelam. Selama dua jam, dua orang ini bergantian mengunyah tali itu. Beberapa menit sebelum perahu itu akhirnya tenggelam ke dalam lautan, mereka berhasil memutuskan tali itu dan selamat.

Tentara Malaikat

11 November 2007

John Paton adalah seorang misionaris yang dikirim ke kepulauan New Hebrides. Pada suatu malam, ada sekelompok orang dari suku setempat mengepung rumah misionaris itu. Mereka berniat membunuh Paton dan membakar rumahnya. Semalaman, Paton dan istrinya berdoa supaya Tuhan melindungi mereka. Saat fajar merekah, mereka kaget karena para pengepung itu sudah pergi.

Setahun kemudian, kepala suku menerima Kristus sebagai Tuhannya. Saat mengingat kembali peristiwa pengepungan itu, Patton bertanya pada kepala suku, mengapa mereka mengurungkan niat menyerang dia dan keluarganya.

Kepala suku menjawab,"Siapa para pria yang ada di sana saat itu?" Paton heran karena tidak ada orang lain yang ada di sana. Kepala suku lalu bercerita bahwa mereka urung menyerang karena takut setelah melihat ada ratusan orang yang berpakaian bersinar-sinar menjaga rumah Paton sambil membawa pedang.

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

Korban Fitnah

08 November 2007

Seorang pengkhotbah muda nyaris menjadi korban fitnah dan prasangka buruk. Usianya baru menginjak 21 tahun, tetapi dia punya semangat menyala di dalam berkhotbah. Dia beberapa kali mengisi Kebhaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang besar. Meskipun bukan lulusan Sekolah Theologi, tapi hamba Tuhan yang masih muda ini bernaung di bawah naungan penginjil internasional Sammy Tippit.

Secara kerohanian dia memang sudah matang dan dewasa tetapi dia belum memiliki pacar. Usai KKR pada malam pertama, dia melayani konseling pada ruangan besar di dekat ruang belajar pastori. Lalu datanglah seorang wanita muda cantik yang memintanya untuk berbicara secara pribadi. Namanya Cindy. Hamba Tuhan ini lalu menyarankan agar dia meminta konseling pada konselor wanita, tapi Cindy ngotot hanya mau berbicara kepadanya. Bahkan dia rela menunggu hingga pengkhotbah muda ini selesai melayani yang lain.

Setelah satu jam menunggu, acara konseling itu pun selesai. Para konselor lainnya sudah meninggalkan ruangan. Tinggal hamba Tuhan bersama Cindy yang ada di ruangan itu. Beberapa menit kemudian, Cindy berlari keluar ruangan sambil berteriak,"Dia merayu saya! Dia mau mengajak saya untuk bercinta!"

Malam itu juga pendeta dari gereja tuan rumah bersama panitia KKR menyidang pengkhotbah muda ini. Mereka minta penjelasan apa yang sesungguhnya terjadi di ruangan itu. Pengkhotbah membantah tuduhan Cindy, tapi tampaknya sia-sia, karena selain tidak ada saksi mata, Cindy termasuk orang terpandang di gereja itu. Jemaat pasti lebih mempercayai ucapan wanita itu.

"Apa sebenarnya terjadi di rumah itu?" tanya pendeta.

"Saya merasa difitnah. Tapi apapun yang saya katakan, kemungkinan besar tidak dipercaya. Untuk itu, saya minta agar dipertemukan dengan penuduh saya itu," jawab pengkhotbah muda.

Pendeta dan majelis lainnya sepakat untuk menunda KKR. Mereka lalu mengundang Cindy dalam pertemuan berikutnya. Dua malam berikutnya, wanita muda ini datang bersama orangtuanya pada rapat Majelis tertutup.

Pendeta meminta Cindy menceritakan kejadiannya. Tapi ayahnya langsung menyela.

"Dia sudah menceritakan semuanya. Saya kira dia tidak perlu mengulanginya lagi," kata ayah Cindy dengan dingin. Istrinya mengiyakan.

"Kalau begitu, tolong ceritakan versi Anda apa yang terjadi pada malam itu," kata pendeta pada pengkhotbah tamu.

"Tidak ada gunanya saya bercerita," jawab pengkhotbah muda. "Hanya saya dan dia yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya tidak bisa membela diri. Saya cuma bisa mengatakan ini: Cindy, kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu dan apa yang tidak terjadi. Jika kamu tidak mengatakan yang sebenarnya, maka saya akan dihakimi dan tidak akan pernah bisa berkhotbah lagi. Ini akan merusak reputasi saya, gereja ini dan bahkan nama Tuhan. Jika saya memang berbuat, maka saya rela menerima diperlakukan apa saja. Tapi kita sama-sama tahu bahwa itu tidak benar. Saya memohon kepadamu demi nama Kristus, ceritakan yang sebenarnya." Ruangan itu menjadi sunyi. Semua mata tertuju pada Cindy. Tiba-tiba air mata menetes Cindy dari pipinya.

"Saya telah berbohong," kata Cindy dengan lirih,"dia tidak merayu saya. Sebenarnya saya lah yang merayu dia. Tapi karena dia tidak menanggapi, saya jadi malu dan kesal. Maka saya lalu membuat cerita bohong itu. Saya minta maaf"

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

Nyaris tidak Lahir

Charles McCarry adalah seorang yang sukses. Selain menulis buku berjudul The Tears of Autumn dan The Last Supper, dia juga menjadi asisten Menteri Tenaga Kerja pada kabinet Eisenhower. Dua juga pernah menempati dua posisi di CIA. Uniknya, dia hampir saja tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.

     McCarry bercerita, "Ibu saya mengandung saya pada usia 39 tahun. Ketika melahirkan satu-satunya kakak saya, ibu hampir saja meninggal. Dokter mengatakan bahwa kehamilan kedua ini membahayakan nyawa ibu saya. Karena itu, dia menyarankan agar ibu melakukan aborsi. Saran itu bisa masuk akal, tapi ibu menolak saran itu. Ketika ibu saya hampir meninggal pada usia 97 tahun, saya menanyakan mengapa ibu menolak melakukan aborsi. Ibu menjawab, 'Karena Ibu ingin tahu, kalau besar kamu akan jadi apa.'"

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

Musisi yang Tuli


Ludwig van Beethoven adalah salah satu komponis yang legendaris. Pada usia 5 tahun dia sudah bermain biola di bawah bimbingan ayahnya yang juga seorang musisi ternama. Menginjak usia 13 tahun, Beethoven menjadi pemain organ untuk konser. Memasuki usia 20 tahun, dia belajar di bawah bimbingan komposer terkenal, yaitu Haydn dan Mozart. Bahkan Mozart mengucapkan kata "nubuatan" bahwa Beethoven akan memberikan pada dunia sesuatu yang sangat bernilai untuk didengarkan.

Orang ini memang jenius. Dengan mengembangkan talentanya, Beethoven menjadi komposer lagu klasik yang hebat. Uniknya, ketika memulai kejayaannya itu, Beethoven mulai mendapat gangguan. Pada usia dua puluh tahunan dia mulai mendapat gangguan pada pendengarannya. Kulit di jari-jari tangannya "menjadi tebal". Dia mulai kesulitan untuk bisa menikmati dan merasakan musik. Hal ini menghantui dirinya selama bertahun-tahun, tapi dia tetap merahasiakan ini. Pada usia lima puluh tahun, dia sudah tuli secara total. Meski begitu, sepanjang hidupnya dia menulis sembilan simfoni indah dan lima komposisi untuk piano. Itu belum termasuk komposisi untuk musik kamar. Ludwig van Beethoven juga menulis sonata. Tak pelak lagi, dia menjadi salah satu seniman yang berani mendobrak tradisi pada saat itu.

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

Pemenang Sejati

Pada Olimpiade khusus orang cacat di Seattle, Amerika Serikat terjadi peristiwa yang mengharukan. Saat itu ada sembilan orang yang mempunyai kekurangan secara fisik dan mental yang bersiap di garis start. Begitu pistol ditembakkan, mereka lalu berlari menuju garis finish. Namun ada anak laki-laki yang berkali-kali jatuh-bangun di lintasan aspal. Dia mulai menangis.

     Delapan pelari lainnya yang sudah berada di depan mendengar tangisan ini. Mereka lalu memperlambat lari dan melihat ke belakang. Lalu seorang gadis yang mengalami kelambatan perkembangan mental (Down's Syndrome), menghampiri anak ini. Dia membungkuk dan menciumnya. Lalu terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Kesembilan orang yang mestinya berlomba ini malah saling meletakkan tangan di bahu orang lain dan bersama-sama berjalan menuju garis finish.

     Semua orang yang ada di stadion bertepuk tangan. Peristiwa ini lalu dimuat di berbagai surat kabar. Kasih dan persahabatan menjadi pemenang dalam perlombaan itu.

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

HidanganMakan dari Dukun

Bagi Charles kehidupan penjara bukan hal yang asing. Hanya dalam dua tahun, dia sudah masuk penjara sebanyak tiga kali. Polisi sudah sangat mengenalnya.

Charles dikurung dalam satu sel dengan para penjahat kelas kakap seperti pengedar narkoba, pencuri, pemerkosa dan pembunuh. Menurut hukum Nepal, Charles adalah pelanggar hukum terberat. Dia dipenjara karena membuat penduduk setempat menjadi pemeluk agama Kristen. Siapapun yang tertangkap basah sedang membaptis petobat baru, maka dia pasti akan dihukum mati.

Pada hari perayaan ulang tahun raja, Charles mendapat remisi. Dia dibebaskan dari penjara dan kembali ke rumah kecilnya di kaki gunung Himalaya. Rick, temannya, telah datang dari Amerika. Mereka duduk di depan meja yang sudah reot sambil menikmati semangkuk nasi dan sayur. Mereka bersyukur karena Tuhan melepaskan Charles dari penjara. Meski nyaris dihukum mati, Charles tidak merasa kapok. Mereka lalu membicarakan rencana misi berikutnya.

Saat fajar menyingsing, seorang pemuda mengantarkan dua orang ini hingga ujung jalan. Keduanya lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka berjalan melintasi ladang padi yang menguning, kemudian mendaki bukit, menuruni lembah. Hari berikutnya mereka melintasi tiga sungai sedingin es sambil menjunjung barang bawaan di atas kepala mereka.

Di depan mereka ada sebuah desa. Rick dan Charles berkhotbah dan melayani di sana dan membaptis petobat baru. Setelah tinggal beberapa hari, mereka lalu melanjutkan perjalanan ke pedalaman.

"Desa ini sangat sulit ditembus," kata Charles. "Penguasa di sini adalah seorang dukun. Namanya Rajen Penduduk desa sangat takut kepadanya." Sebelum memulai pekerjaan, mereka lebih dulu melakukan doa puasa di rumah salah satu rumah penduduk yang beragama Kristen. Pada hari ketiga, dukun itu memanggil mereka. Melalui Charles sebagai penerjemah, Rajen berkata,"Saya tahu kalian datang ke sini untuk berkhotbah dan membaptis rakyatku. Sekarang makanlah hidangan yang sudah kami siapkan." Supaya tidak menyinggung perasaan tuan rumah, maka Charles dan Rick pun makan hingga perut mereka kenyang. Sementara itu, Rajen melihatnya dengan diam saja. Setelah Charles dan Rick selesai makan, Rajen lalu berkata: "Kalian boleh menceritakan Tuhan kalian pada pada rakyat saya, dengan satu syarat kalian tidak boleh mengajak mereka menjadi Kristen."

"Tapi bagaimana kalau mereka sendiri yang ingin menjadi Kristen?" tanya Rick. "Kalian hanya boleh menceritakan Tuhan kalian. Itu saja, titik!" kata Rajen sengit.

Malam itu semua penduduk desa berkumpul di depan api unggun untuk mendengar khotbah dua orang muda ini. Rick dan Charles menceritakan tentang lahirnya bayi yang lahir di negeri jauh. Bayi ini tumbuh dewasa dan melakukan banyak mukjizat. Penduduk desa terkesan dengan cerita ini. Mereka menganggap Yesus sebagai orang yang sangat baik.

Hari berikutnya, dukun itu memanggil mereka lagi. Sekali lagi, hidangan sudah tersaji di depan mereka. Dua hamba Tuhan ini duduk bersila di tikar dan makan dengan lahap. Sama seperti hari sebelumnya, Rajen mengamati mereka dengan sungguh-sungguh.

"Malam ini, kalian boleh menceritakan lagi tentang Tuhan kalian. Jika ada penduduk yang ingin menjadi Kristen, saya mengijinkan dia. Dia tidak akan dicelakai."

Rick dan Charles gembira mendengarnya. Melalui doa, mereka telah menenangkan peperangan. Sekarang mereka berdoa untuk penuaian jiwa-jiwa di desa itu. Malam itu mereka melanjutkan cerita tentang Yesus. Dia menceritakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang menebus dosa manusia.

Ketika Rick dan Charles selesai menceritakan Injil, beberapa orang maju untuk menerima Kristus. Rick melihat Rajen sedang mengamati dari kejauhan, di dalam balutan kegelapan malam. Charles dan Rick berdoa sepanjang malam agar Tuhan melembutkan hati dukun itu.

Pada hari ketiga mereka diundang lagi oleh Rajen. Seperti biasa, mereka dijamu makan dan dukun itu hanya duduk saja sambil mengamati. Hari ini Rajen terlihat lebih pendiam. Setelah selesai makan, Rajen berkata dengan suara parau,"kalian boleh melakukan apa saja di sini."

Begitu di luar rumah, Rick berteriak,"Horeeee!" Charles tertawa senang. Mereka tahu, Tuhan telah menjawab doa mereka dengan melembutkan hati dukun itu. Malam itu, Charles dan Rick berkhotbah, dan hampir semua penduduk desa itu menerima Kristus sebagai Juruselamat.

Keesokan harinya, Charles dan Rick membaptis para petobat baru di sungai. "Mulai sekarang, tempat ini akan dikenal sebagai desa Kristen dan pengkhotbah lain akan mengikuti kita untuk melakukan pekerjaan lebih besar lagidi sini," kata Charles kepada Rick dengan gembira. Sukacita mereka semakin bertambah lagi ketika Rajen mendatangi mereka. "Saya ingin Tuhan kalian," katanya.

Rick dan Charles berdoa bersama Rajen. Mereka lalu membaptis Rajen di sungai gunung yang sangat dingin.

"Jika sudah selesai membaptis mereka, datanglah ke rumahku," undang Rajen.

Kali ini tidak ada lagi makanan yang dihidangkan. "Tiga hari yang lalu, kalian makan hidangan yang kami hidangkan," kata Rajen," dengan mata saya sendiri, saya melihat kalian menyantap makanan ini."

Rajen membuka peti besar dan mengeluarkan seekor tikus besar yang mati. "Saya menaruh racun pada makanan kalian. Lihat sendiri, racun itu membunuh tikus ini. Tapi herannya, kalian tidak apa-apa bahkan membuat sakit pun tidak. Tuhan kalian pasti lebih hebat dari kekuatan magis saya. Tuhan kalian telah melindungi kalian. Itulah sebabnya, saya menginginkan Tuhan kalian."

Rick dan Charles mulai memuji Tuhan untuk mukjizat ini. "Akan tetapi sebelum memutuskan menerima Yesus, saya telah menyuruh seorang penduduk desa untuk melapor ke polisi Nepal. Kalian harus pergi dari sini. Saya minta maaf dan sangat menyesal untuk ini. Saya sebelumnya tidak tahu bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang sejati," kata Rajen sedih.

Charles dan Rick bergegas mengemasi barang-barangnya. Mereka lalu mengucapkan perpisahan pada penduduk desa dan bersiap turun gunung. Tiba-tiba Rajen menghampiri mereka sambil membawa tas kecil. "Saya ingin ikut kalian," kata Rajen," saya ingin belajar banyak tentang Yesus."

Tiga orang Kristen itu lalu berjalan menyusuri jalan setapak yang berbatu. Mereka berjalan cepat dan tidak banyak berbicara. Setelah menyeberangi sungai yang sangat dingin, mereka terus berjalan dengan baju yang basah. Jika mereka tahu kalau berhenti untuk mengeringkan baju atau mengganti baju yang basah, maka mereka bisa tersusul oleh polisi Nepal. Jika sampai tertangkap, Charles bisa dihukum mati dan Rick akan dikeluarkan dari negeri itu.

Saat masuk jalan yang lebih lebar, mereka melihat polisi Nepal di kaki gunung. Terlambat! Mereka tidak bisa berbalik lagi. Sembunyi pun sudah tidak ada gunanya. Mereka hanya bisal berdoa. Tiba-tiba ada kabut tebal yang turun meliputi mereka dan polisi Nepal itu. Charles, Rick dan Rajen merapatkan tubuhnya ke dinding tebing ketika polisi Nepal melintas dekat mereka. Anehnya, polisi Nepal tidak bisa melihat mereka karena tertutup kabut. Bagi Tuhan, tiada hal yang mustahil.

Beberapa lama kemudian, Charles dan keluarganya harus meninggalkan Nepal. Tapi karya mereka tidak berhenti. Sekolah Alkitab sudah berdiri di India. Dari sanalah para pelayan-pelayan muda meneruskan misi yang dimulai Charles. Rajen termasuk di antara para pelayan itu.

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

Membaca dengan Lidah

Seorang pria di Kansas City menderita luka-luka serius karena ledakan. Wajahnya menjadi sangat rusak. Dia menjadi buta karena kehilangan kedua matanya. Padahal dia baru saja menjadi Kristen dan yang menjadi kekecewaannya sekarang, dia tidak bisa membaca Alkitab lagi.

     Suatu kali, dia mendengar  cerita tentang seorang wanita di Inggris yang membaca huruf Braille dengan bibirnya. Dia ingin menirunya. Dia lalu minta dibelikan Alkitab dengan huruf Braille. Sayangnya, dia harus menelan kekecewaan karena ternyata ujung-ujung syaraf yang ada di bibirnya juga rusak karena ledakan itu.

     Dia kecewa, tapi tidak putus asa. Suatu hari, saat dia menyentuhkan lagi huruf Braille itu ke bibirnya, tanpa sengaja lidahnya bisa merasakan huruf yang ada di Alkitab itu. Timbullah ide di otaknya. Dia belajar membaca Alkitab menggunakan bibirnya. Yang sungguh mencengangkan, pria ini telah "membaca" Alkitab sebanyak empat kali. Anda sendiri yang memiliki penglihatan normal, sudah berapa kali membaca Alkitab sampai tuntas?

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

Iman yang Memindahkan Gunung

07 November 2007

Sebuah jemaat kecil di kaki gunung Great Smokies telah membangun gedung gereja baru di sebidang kecil tanah yang dihibahkan oleh anggota jemaat. Sepuluh hari sebelum peresmian gedung itu, pejabat pemerintah daerah yang menginspeksi gedung itu mengatakan kepada pendeta bahwa gedung itu tidak punya lahan parkir yang memadai. Karena itu, jika gereja tidak menambah lahan parkir, maka gedung gereja yang baru belum boleh digunakan. Sayangnya, gereja telah menggunakan semua lahan yang mereka miliki, kecuali sebuah bukit di dekat gedung gereja yang baru itu. Untuk mendapatakan lahan parkir, maka mereka harus memindahkan gunung itu.

     Pendeta lalu mengumumkan bahwa pada hari Minggu pagi dia akan mengadakan pertemuan doa. Dia mengundang semua anggota jemaat "yang punya iman memindahkan gunung" untuk datang.  Mereka akan berdoa bersama untuk meminta Tuhan agar memindahkan gunung di belakang gereja itu. Mereka juga minta penyediaan biaya untuk memasang konblok lahan parkir sebelum peresmian gedung gereja.

     Pada hari Minggu, ada 300 jemaat berkumpul untuk berdoa. Mereka berdoa selama hampir tiga jam. Pada pukul sepuluh, pendeta berkata "amin." Ia kemudian berkata, "kita akan meresmikan gereja itu sesuai jadwal. Tuhan tidak pernah mengecewakan kita, dan saya yakin saat ini pun Dia tetap setia."

     Keesokan paginya, ketika pendeta sedang belajar Alkitab, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Ketika membuka pintu, dia melihat mandor pekerja bangunan sedang berdiri di depan pintu sambil melepas topi proyeknya. "Maaf pendeta, saya berasal dari perusahaan konstruksi. Kami sedang membangun pusat perbelanjaan yang sangat besar dan membutuhkan tanah urug. Apakah Anda bersedia menjual bukit yang ada di belakang gereja itu? Kami akan membeli bukit itu dan memasang konblok di lahan bekas galian itu secara gratis. Kalau bisa secepatnya, soalnya kami tidak bisa memulai pembangunan sebelum mendapatkan tanah urug itu."

     Gereja kecil itu akhirnya bisa diresmikan sesuai dengan jadwal. Setelah itu jemaat di sana dikenal dengan sebutan "jemaat yang punya iman memindahkan gunung."