Showing posts with label Integiritas. Show all posts
Showing posts with label Integiritas. Show all posts

Peternak yang Jujur

26 March 2008

Saat masih menjadi peternak, Theodore Roosevelt bersama beberapa anak buahnya sedang memberi tanda pada sapi-sapi mereka dengan besi panas. Sapi-sapi itu sengaja dilepas di padang luas, sehingga mereka harus memberi tanda kepemilikan pada ternak-ternak itu.

Mereka sudah menyalakan api unggun. Salah satu koboi menangkap seekor sapi dengan tali laso, dan siap mengecap sapi itu dengan besi panas. Tiba-tiba Roosevelt menyadari kalau mereka sudah memasuki wilayah peternakan Gregor Lang, tetangga Roosevelt.

Menurut aturan yang disepakati sesama peternak, seharusnya sapi itu milik Lang. Ketika koboi bersiap menancapkan besi panas, Roosevelt berkata, "Tunggu dulu, bukankah itu seharusnya menjadi milik Gregor Long?"

"Betul, bos," jawab koboi itu.

"Tapi kamu tetap akan memberikan tanda milikku pada sapi itu?" lanjut Roosevelt.

"Ya," kata anak buahnya.

"Letakkan besi itu!" perintah Roosevelt "lalu pergilah dari sini. Saya tidak memperkerjakan kamu lagi. Orang yang mau mencuri untukku, suatu saat akan mencuri dariku juga."

Biografi Palsu

24 February 2008
Hudson Taylor adalah seorang misionaris yang dikagumi karena kegigihannya dalam menyebarkan Injil ke daratan China. Rupanya hal ini sempat membuat gerah pemerintah komunis China. Itulah sebabnya, mereka memberi perintah pada seorang penulis untuk menyusun biografi Hudson Taylor, tapi dengan tujuan untuk memalsukan fakta sehingga citra misionaris ini menjadi jelek. Mereka ingin mendiskreditkan nama Hudson Taylor.

Ketika sang pengarang mengumpulkan bahan-bahan dan mempelajari sejarah kehidupan Hudson Taylor, dia justru terkesan oleh karakter dan kesalehan misionaris ini. Dia menyadari bahwa tidak mungkin bisa memalsukan biografi orang yang punya kesalehan seperti itu. Dia lalu justru mengambil keputusan yang bisa membahayakan hidupnya, yaitu menanggalkan keyakinan ateis dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya.

Peran Kakek Boutros Boutros-Ghali

25 December 2007

Boutros Boutros-Ghali, adalah orang pertama yang menjadi Sekeratris Jenderal PBB. Ternyata dia memiliki tradisi politik dalam keluarganya. Kakeknya, yang bernama, Boutros Ghali, adalah satu-satunya Perdana Menteri Mesir yang Kristen. Dia dibunuh tahun 1910. Penduduk Kairo mengelu-elukan pembunuh yang berasal dari suatu kelompok keagamaan garis keras.

Keluarga Boutros Ghali tidak ingin rakyat Mesir melupakan jasa almarhum. Karena itu mereka mengambil namanya, Boutros (Petrus) untuk diberikan kepada nama cucunya. Mereka juga membangun gereja di Kairo untuk mengenang sang Perdana Menteri.

Pada nisan Boutros Ghali tertulis kata-kata: "Tuhanlah yang menjadi saksi bahwa aku telah mengabdikan segenap kemampuanku kepada negeri ini."

Boutros Boutros-Ghali mengaku bahwa kakeknya sangat mempengaruhi dirinya. Dia berkata,

"Bagi seorang anak yang tumbuh dewasa dengan teladan seperti itu, menimbulkan dampak yang sangat besar. Saya merasa telah mengkhianati tradisi keluarga kami jika saya tidak mau mengemban peran politik."

Khotbah yang Gagal

15 November 2007

Ketika berlangsung Perang Bersaudara di Amerika Serikat, Presiden Lincoln menghadiri kebhaktian hari Rabu sore yang diadakan oleh gereja di dekat Gedung Putih. Didampingi oleh Agen Rahasia, Abraham Lincoln mendengarkan khotbah dengan khidmat.

Dalam perjalanan pulang, salah satu agen rahasia bertanya pada, "Bagaimana khotbah malam ini?"

Lincoln menjawab, "Sangat brillian, meyakinkan, Alkitabiah, relevan dan disampaikan dengan baik."

"Apakah itu khotbah yang bagus?"

"Tidak. Itu khotbah yang gagal. Gagal karena Dr. Gurley tidak mengajak kita untuk melakukan sesuatu yang besar."

Dana Kenangan

Tahun 1884, seseorang meninggal dunia dalam usia yang masih muda. Setelah melewati masa perkabungan, kedua orang tua anak ini memutuskan untuk menyumbangkan dana sebagai kenangan atas anak mereka (memorial fund).

Mereka menemui Charles Eliot, rektor Harvard University untuk mengutarakan maksud mereka. Eliot menerima pasangan ini dengan ogah-ogahan. Pasangan ini bercerita bahwa mereka akan memberi sumbangan dana untuk mengenang anak mereka. Belum selesai bicara, Eliot langsung memotong, "Sebaiknya Anda memberi beasiswa saja."

"Kami menginginkan sesuatu yang lebih mendasar daripada itu....misalnya berupa pembangunan gedung," jawab si Istri.

Dengan nada suara yang meremehkan, Eliot mengatakan bahwa keinginan itu terlalu besar biayanya. Pasangan suami-istri itu meninggalkan kantor Eliot dengan perasaan kecewa.

Tahun berikutnya, Eliot mengetahui bahwa pasangan yang sederhana itu lalu pergi menemui orang lain. Mereka mengeluarkan uang sebesar $26 juta untuk mendirikan sebuah Universitas yang mengenang anak mereka. Universitas itu bernama Leland Stanford Junior University, atau lebih dikenal sebagai Stanford! Saat ini, universitas ini termasuk perguruan tinggi bergengsi di Amerika.

Keputusan Raja

11 November 2007

Filusuf Yunani, Anaximenes menyertai Alexander Agung dalam peperangan melawan bangsa Persia. Suatu kali pasukan Alexander sampai di desa Lampsacus, tempat kelahiran Anaximenes.

Anaximenes ingin menyelamatkan desa asalnya ini. Untuk itu, dia lalu menghadap raja.

Alexander rupanya sudah bisa menebak maksud Anaximenes. Sebelum Anaximenes mengatakan sesuatu, Alexander mendahului bicara. "Saya bersumpah demi dewa Styx, saya tidak akan mengabulkan permintaanmu," katanya.

"Yang Mulia, hamba mohon supaya Yang Mulia menghancurkan desa Lampsacus," jawab Anaximenes dengan kalem.

Demikianlah, Anaximenes menyelamatkan desa Lampsacus dari kehancuran.

/

Orang Samaria Modern


Jean Frederick Oberlin, adalah seorang hamba Tuhan dari Jerman, abad ke-18. Pada suatu hari saat sedang berjalan kaki, dia terjebak oleh badai salju. Dia kehilangan arah karena jalanan sudah tertutup salju. Saat sedang duduk untuk memutuskan arah yang akan dituju, ada sebuah kereta kuda yang melintas dan menolong Oberlin. Pemilik kereta itu membawa Oberlin ke desa terdekat.

Ketika pemilik kereta bersiap meneruskan perjalanan, Oberlin berkata, "Siapakah nama Anda supaya saya bisa mengucapkan syukur pada Tuhan untuk pertolongan Anda?"

Orang itu yang baru saja mengenali Oberlin, menjawab, "Anda kan seorang hamba Tuhan. Tolong sebutkan nama orang Samaria yang baik hati itu."

Oberlin menjawab, "Saya tidak tahu, karena Alkitab tidak menyebutkannya."

Si Penolong lalu menanggapi, "Selama Anda tidak tahu nama orang Samaria yang baik hati itu, maka ijinkan saya juga untuk tidak mengatakan nama saya."

Surat Kemarahan


Suatu hari menteri pertahanan, Edwin Stanton, mendatangi Abraham Lincoln. Dia sedang marah dengan salah satu perwiranya. Lincoln lalu menyuruh Stanton menulis surat yang ditujukan pada perwira itu. Stanton menuruti. Dia menulis surat dengan kata-kata yang emosional, lalu pamitan pada presiden.

"Hei, mau kemana?" tanya Lincoln. "Mengirimkan surat ini," jawab Stanton. Abraham Lincoln menggelengkan kepalanya. "Jangan kirim surat itu," katanya. "Lempar surat itu ke perapian. Sekarang tulis surat kedua. Saya biasa melakukan ini jika sedang marah."

Abraham Lincoln memang punya kebiasaan unik jika dia marah pada seseorang. Dia menulis dua buah surat. Surat yang pertama, isinya memaki-maki orang itu. Lalu setelah semua kemarahannya sudah tercurah, dia lalu menyobek dan membakar surat itu. Setelah itu dia menulis surat kedua dengan kata-kata yang lebih sopan.

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

Budak Alkohol

08 November 2007

Suatu hari di St. Louis, seorang pengacara mendatangi pengusaha Kristen untuk memberikan konsultasi hukum. Sebelum berpisah, pengusaha itu bertanya pada pengacara, "saya selalu ingin menanyakan ini. Tapi saya selalu takut mengatakannya."

"Apa yang ingin Anda ketahui?" tanya pengacara.

Pengusaha menjawab, "Saya penasaran, mengapa Anda bukan orang Kristen?"

Pengacara itu mengangkat bahunya, "Saya tahu dalam Alkitab dikatakan bahwa pemabuk tidak bisa masuk kerajaan Allah; dan Anda tahu kelemahan saya!"

"Anda tidak menjawab pertanyaan saya," tanya pengusaha.

"Sejujurnya, sampai sekarang tidak ada orang yang mau menjelaskan bagaimana caranya menjadi Kristen."

Pengusaha itu mengambil Alkitab, lalu membacakan beberapa ayat yang mengatakan bahwa semua orang di bawah hukuman. Tetapi Kristus menyelamatkan dengan mati di kayu salib. "Dengan menerima Yesus sebagai Penebus, Anda diampuni dan diselamatkan. Jika Anda mau menerima Yesus, mari kita berdoa bersama."

Pengacara itu setuju. Dia lalu berseru, "O Yesus, saya adalah budak alkohol. Salah satu hamba-Mu telah menunjukkan bagaimana caranya supaya diselamatkan. Ampuni dosa saya dan berikan kuasa-Mu untuk mengatasi kebiasaan buruk ini." Pengacara itu bernama C.I. Scofield, yang kemudian menyunting buku referensi Alkitab terkenal yang memakai namanya
.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

Korban Fitnah

Seorang pengkhotbah muda nyaris menjadi korban fitnah dan prasangka buruk. Usianya baru menginjak 21 tahun, tetapi dia punya semangat menyala di dalam berkhotbah. Dia beberapa kali mengisi Kebhaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang besar. Meskipun bukan lulusan Sekolah Theologi, tapi hamba Tuhan yang masih muda ini bernaung di bawah naungan penginjil internasional Sammy Tippit.

Secara kerohanian dia memang sudah matang dan dewasa tetapi dia belum memiliki pacar. Usai KKR pada malam pertama, dia melayani konseling pada ruangan besar di dekat ruang belajar pastori. Lalu datanglah seorang wanita muda cantik yang memintanya untuk berbicara secara pribadi. Namanya Cindy. Hamba Tuhan ini lalu menyarankan agar dia meminta konseling pada konselor wanita, tapi Cindy ngotot hanya mau berbicara kepadanya. Bahkan dia rela menunggu hingga pengkhotbah muda ini selesai melayani yang lain.

Setelah satu jam menunggu, acara konseling itu pun selesai. Para konselor lainnya sudah meninggalkan ruangan. Tinggal hamba Tuhan bersama Cindy yang ada di ruangan itu. Beberapa menit kemudian, Cindy berlari keluar ruangan sambil berteriak,"Dia merayu saya! Dia mau mengajak saya untuk bercinta!"

Malam itu juga pendeta dari gereja tuan rumah bersama panitia KKR menyidang pengkhotbah muda ini. Mereka minta penjelasan apa yang sesungguhnya terjadi di ruangan itu. Pengkhotbah membantah tuduhan Cindy, tapi tampaknya sia-sia, karena selain tidak ada saksi mata, Cindy termasuk orang terpandang di gereja itu. Jemaat pasti lebih mempercayai ucapan wanita itu.

"Apa sebenarnya terjadi di rumah itu?" tanya pendeta.

"Saya merasa difitnah. Tapi apapun yang saya katakan, kemungkinan besar tidak dipercaya. Untuk itu, saya minta agar dipertemukan dengan penuduh saya itu," jawab pengkhotbah muda.

Pendeta dan majelis lainnya sepakat untuk menunda KKR. Mereka lalu mengundang Cindy dalam pertemuan berikutnya. Dua malam berikutnya, wanita muda ini datang bersama orangtuanya pada rapat Majelis tertutup.

Pendeta meminta Cindy menceritakan kejadiannya. Tapi ayahnya langsung menyela.

"Dia sudah menceritakan semuanya. Saya kira dia tidak perlu mengulanginya lagi," kata ayah Cindy dengan dingin. Istrinya mengiyakan.

"Kalau begitu, tolong ceritakan versi Anda apa yang terjadi pada malam itu," kata pendeta pada pengkhotbah tamu.

"Tidak ada gunanya saya bercerita," jawab pengkhotbah muda. "Hanya saya dan dia yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya tidak bisa membela diri. Saya cuma bisa mengatakan ini: Cindy, kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu dan apa yang tidak terjadi. Jika kamu tidak mengatakan yang sebenarnya, maka saya akan dihakimi dan tidak akan pernah bisa berkhotbah lagi. Ini akan merusak reputasi saya, gereja ini dan bahkan nama Tuhan. Jika saya memang berbuat, maka saya rela menerima diperlakukan apa saja. Tapi kita sama-sama tahu bahwa itu tidak benar. Saya memohon kepadamu demi nama Kristus, ceritakan yang sebenarnya." Ruangan itu menjadi sunyi. Semua mata tertuju pada Cindy. Tiba-tiba air mata menetes Cindy dari pipinya.

"Saya telah berbohong," kata Cindy dengan lirih,"dia tidak merayu saya. Sebenarnya saya lah yang merayu dia. Tapi karena dia tidak menanggapi, saya jadi malu dan kesal. Maka saya lalu membuat cerita bohong itu. Saya minta maaf"

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

Inspeksi Mendadak

07 November 2007

Robert Wood Johnson, pimpinan perusahaan Johnson & Johnson, sering membuat anak buahnya kalang kabut karena gemar mengadakan inspeksi mendadak ke kantor-kantor cabang.

     Suatu hari, seorang manajer di kantor cabang mengetahui bahwa setengah jam lagi Johnson akan menginspeksi kantornya. Dengan panik dia segera memerintahkan anak buahnya agar menyembunyikan beberapa gulungan besar kertas di atas atap kantor.

     Ketika Johnson tiba di kantor cabang itu, wajahnya terlihat murka.

      "Mengapa banyak sekali sampah di atap kantor ini?" tanyanya dengan geram.

     Olala....rupanya manajer itu tidak menyangka kalau Johnson akan datang dengan helikopter pribadi dan mendarat di atap kantor.