Seperti apakah keluarga yang ideal itu? Sungguh sulit menjawab pertanyaan ini. Bahkan ketika kita mencarinya di Alkitab, kita akan kesulitan mencari sebuah keluarga yang sempurna. Ada saja kekurangan keluarga itu. Meski begitu, kita dapat melihat ada beberapa keluarga yang dapat dijadikan teladan karena taat pada panggilan Allah.
Kita mulai dari keluarga Nuh. Allah memanggil Nuh dan 7 anggota keluarganya untuk diselamatkan dari bencana air bah. Mereka harus membuat bahtera super besar. Perintah ini terkesan mengada-ada, tapi keluarga Nuh taat pada panggilan Allah. Mereka membuat bahtera diiringi sorotan mata sinis para tetangga.
Lalu apa kekurangan Nuh? Setelah bencana air bah, Nuh menjadi petani anggur. Suatu kali dia minum anggur sampai mabuk dalam keadaan telanjang di kemahnya.
Keluarga Abraham dipanggil Allah untuk memberikan banyak keturunan dan salah satu di antaranya akan menjadi Sumber Keselamatan manusia. Pada mulanya, Sara isterinya, tertawa mendengar panggilan ini. Dia merasa tidak mungkin punya anak karena sudah tua. Sedangkan kekurangan Abraham adalah takut mengakui Sara sebagai isterinya, ketika berada di Mesir. Akan tetapi mereka taat pada rencana Allah.
Keluarga Maria dan Yusuf, dipanggil Allah untuk melahirkan Yesus. Mereka mengalami beberapa kesulitan, namun tetap taat pada panggilan Allah. Meski Yusuf pernah berniat akan meninggalkan Maria, tapi dia membatalkannya setelah ditemui oleh malaikat.
Keluarga Lois berhasil mendidik anak dan cucunya untuk takut pada Tuhan. Mereka hidup di tengah bangsa kafir, tetapi mereka tetap menyembah Allah yang benar. Meski Eunike bersuamikan pria yang tidak menyembah Allah, tapi dia tetap mengajarkan firman Allah kepada Timotius, anaknya.
Rahasia kesuksesan keluarga-keluarga di atas adalah "taat pada panggilan Tuhan." Meski pernah mengalami kegagalan, tapi mereka tetap setia pada panggilannya. Demikian juga keluarga Kristen masa kini. Kita tidak perlu takut pada kegagalan, sebab kegagalan adalah sebuah pembelajaran supaya kualitas keluarga kita semakin baik. Untuk itu, mari kita belajar dari kegagalan yang dialami keluarga-keluarga lainnya di dalam Alkitab:
Keluarga Ishak: gagal dalam membagi kasih sayang pada anak-anak mereka. Ishak lebih sayang pada Esau; Ribkah, isterinya, lebih mengasihi Yakub.
Keluarga Yakub: gagal mengajarkan kerukunan di antara anak-anak. Karena rasa cemburu, saudara-saudaranya mencelakai dan menjual Yusuf sebagai budak.
Keluarga Imam Eli: gagal mendidik anak-anaknya, Hofni dan Pinehas, untuk menghormati Tuhan. Mereka sering menjarah korban persembahan di bait Allah.
Keluarga Manoah: gagal mendidik Simson dalam memilih isteri. Simson ngotot mengambil wanita Filistin, yang tidak mengenal Allah, sebagai isterinya.
Keluarga Daud: gagal dalam menjaga kekudusan pernikahan. Daud berselingkuh dengan Betsyeba, Uria. Daud juga gagal mendidik Absalom, anaknya, sehingga memberontak terhadapnya.
Keluarga Ananias dan Safira:gagal dalam menjaga kejujuran. Mereka membohongi Petrus soal jumlah uang hasil penjualan sebidang tanah.
Dari Alkitab ini, kita bisa belajar bahwa di antara keluarga yang gagal ini, ada yang bangkit kembali. Contohnya, Daud dan Simson lalu meminta ampun pada Tuhan. Dan Tuhan pun memulihkan mereka. Namun ada pula yang taat keras kepala. Contohnya, Ananias dan Safira yang akhirnya dihukum mati. Terhadap keluarga yang taat, Allah telah berjanji: "Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk mencelakakan kamu, tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan." (Yer. 29:11 BIS) Nah, mau pilih mana? [purnawan]