Indahnya Kebersamaan Natal

29 August 2007

Setiap kali mendengat kata "Gunungkidul", banyak orang membayangkan situasi yang serba sulit: Sulit minum, sulit makan dan sulit prasarana. Demikianlah adanya yang saya alami pada masa kecil saya.

Meski begitu, keadaan itu tidak mengurangi kesan indah saat merayakan Natal di kabupaten termiskin di DIY. Di desa saya tidak ada tradisi merayakan Natal dalam keluarga karena masih kuatnya ikatan sosial di warga. Semua hal inginnya dikerjakan bersama-sama. Bahkan warga yang non-Kristiani pun ikut membantu.

Seminggu sebelum Natal, anak-anak Sekolah Minggu dikerahkan untuk membersihkan balai desa yang akan dipakai untuk acara perayaan Natal.  Pada hari H-1, anak-anak SM membawa sebatang kayu bakar, sepiring beras dan lembaran daun pisang yang sudah dilipat rapi. Mereka menghantarkan barang-barang itu ke rumah Majelis, yang dijadikan "dapur umum". Sorenya, Pria-pria dewasa muncul untuk mempersiapkan tempat, seperti membuat panggung, menata kursi, dan membuat dekorasi. Sedangkan di dapur umum, sudah gaduh celotehan wanita dan ibu-ibu yang sibuk memasak.  Di dalam gedung gereja kami yang mungil, anak-anak SM juga serius latihan drama, hapalan ayat, baca puisi dan gerak lagu. Semua orang melakukan dengan sukacita.

Usai Kebaktian Natal, malamnya kami merayakan Natal. Dulu belum ada listrik. Tidak ada soundsystem, alat musik atau kelap-kelip lampu phon Natal. Yang ada adalah kedap-kedip lampu petromaks dan lilin yang dihembus angin. Kami memakai peralatan seadanya untuk memeriahkan Natal. Korden disulap menjadi baju gembala, kapas menjadi janggut, pucuk daun jati untuk pemerah pipi, jelaga untuk menghitami wajah.

Saat makan tiba, masing-masing orang diberi nasi hangat yang dibungkus daun pisang. Ketika dibuka, muncul harum yang khas. Meski lauknya 'hanya' telur separo, urap dan kering tempe, tapi makanan itu masih tetap membikin saya kangen. Sayangnya, sekarang memilih pesan nasi kardusan. Alasannya lebih praktis dan modern! (Wwn)

Warisan Iman

Di dalam Alkitab, kita membaca dua orang orang Ibu yang mewariskan kesalehan iman pada anaknya. Ibu yang pertama bernama Lois. Namanya punya arti  "disetujui" atau "dikehendaki". Lois adalah seorang penganut Yahudi yang tinggal di Listra (sebuah kota di negara Turki). Sebagian besar penduduk kota menyembah dewa-dewa Yunani, tetapi Lois tetap beriman pada Allah yang satu.
Lois memiliki anak perempuan bernama Eunike. Dia mengajarkan Taurat pada Eunike. Meskipun  menikah dengan pria Yunani, Eunike tetap teguh pada imannya. Hal ini cocok dengan arti nama Eunike, yaitu kemenangan atau sukacita kemenangan. Dia telah menang atas godaan dan tekanan untuk menyembah illah lain.
Ibu yang kedua bernama Eunike. Dia mempunyai anak bernama Timotius. Artinya "orang yang takut pada Tuhan".  Eunike mendidik anaknya supaya takut pada Tuhan.
Penguasaan mereka atas Taurat merupakan persiapan untuk Kabar Baik yang dibawa  Paulus ketika berkunjung ke Derbe dan Listra. Lois, Eunike dan Timotius menerima keselamatan itu.
Pada kunjungan Paulus yang kedua, dia mendengar kesalehan anak muda yang menjadi bahan perbincangan di jemaat Listra dan Ikonium. Paulus memutuskan mengajak anak muda itu, yaitu Timotius, untuk mengiring perjalanannya.
Timotius mengikuti Paulus ke Prigia, Galatia, Misia, Troas, Filipi dan  Berea. Dia juga bergabung dengan Paulus ketika di Atena, yang kemudian bersama Silas diutus  Paulus ke Tesalonika. Dia mendampingi Paulus ke Korintus dan menetap di Efesus. Lalu diutus ke Makedonia. Setelah itu, menemani Paulus ke Asia. Ketika Paulus dipenjara di Roma, Timotius mengunjunginya. Kemudian ikut dipenjara juga. Ketika Paulus dipenjara lagi, dia menulis surat pada Timotius untuk membawakan jubah, kitab-kitab dan perkamen yang tertinggal di Troas.
Paulus sangat terkesan pada kesetiaan dan kesungguhan pelayanan Timotius. Dalam surat-suratnya, Paulus sebanyak 17 kali. Secara pribadi, Paulus memuji memuji, iman Timotius yang tulus ikhlas, yaitu "iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu."(2 Timotius 1:5)
Meskipun ada banyak nenek yang disebutkan dalam Alkitab, tetapi hanya Paulus yang menyebut kata "nenek" secara khusus. Catatan tentang Timotius ini menunjukkan pelatihan kerohanian yang positif di dalam rumah tangga yang saleh. Lois dan Eunike telah mengambil tanggungjawab untuk meneruskan warisan iman sehingga membesarkan seorang anak muda yang menjadi berkat banyak orang hingga saat ini. [Wwn]

Marah, tapi tak Berdosa

Bolehkah kita menjadi marah? Boleh saja. Allah saja punya rasa marah. Karena kita diciptakan sesuai dengan gambar-Nya, maka kita juga punya rasa marah. Kemarahan itu bukan sesuatu yang jahat. Kemarahan dapat menjadi dosa jika kita membiarkannya tidak terkontrol dan merusak orang lain.

Paulus menasihati, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa" (Ef.4:26). Dia tidak melarang kemarahan, asalkan memenuhi syarat, yaitu tidak 'berbuat dosa'. Lalu bagaimana caranya marah yang benar?

Pertama, harus terkendali.  Kemarahan sebaiknya bukan dalam bentuk hasrat yang menggebu dan tak terkendali.  Penyebabnya harus beralasan dan diarahkan kepada ketidak-adilan. Misalnya, kita boleh marah ketika melihat anak kecil yang disiksa orangtuanya. Dalam kemarahan ini, pikiran masih tetap mengendalikan emosi kita. "Orang bijaksana tidak cepat marah; orang bodoh tidak dapat menahan dirinya." (Ams.14:29 BIS)

 "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." (Amsal 16:32) Jenis kemarahan ini bukan akibat langsung dari frustasi yang muncul secara mendadak.

Kedua, tidak ada rasa benci, dendam dan sakit hati.  Kemarahan yang merupakan serangan balasan hanya akan mempersulit situasi. Tujuan kemarahan adalah untuk memperbaiki situasi atau kelakuan orang lain di sekitar kita. Misalnya, anak Anda ketahuan membolos. Anda pasti marah, tapi kemarahan itu bukan karena Anda membenci anak Anda. Justru karena sebaliknya."Orang yang memberi teguran akhirnya lebih dihargai daripada orang yang memberi sanjungan." (Ams.28:23)

Ketiga, motivasinya tidak didasari rasa egois.  Apabila motivasinya adalah egois, maka kesombongan dan sakit hati biasanya terlibat di dalamnya. Kita memarahi bukan untuk menunjukkan diri kita lebih hebat atau lebih saleh. Landasannya adalah kasih dan kerendahan hati. [purnawan]

Keluarga yang Sukses dan Gagal

Seperti apakah keluarga yang ideal itu? Sungguh sulit menjawab pertanyaan ini. Bahkan ketika kita mencarinya di Alkitab, kita akan kesulitan mencari sebuah keluarga yang sempurna. Ada saja kekurangan keluarga itu.  Meski begitu, kita dapat melihat ada beberapa keluarga yang dapat dijadikan teladan karena taat pada panggilan Allah.

Kita mulai dari keluarga Nuh. Allah memanggil Nuh dan 7 anggota keluarganya untuk diselamatkan dari bencana air bah.  Mereka harus membuat bahtera super besar. Perintah ini terkesan mengada-ada, tapi keluarga Nuh taat pada panggilan Allah.  Mereka membuat bahtera diiringi sorotan mata sinis para tetangga.

Lalu apa kekurangan Nuh? Setelah bencana air bah, Nuh menjadi petani anggur. Suatu kali dia minum anggur sampai mabuk dalam keadaan telanjang di kemahnya.

Keluarga Abraham dipanggil Allah untuk memberikan banyak keturunan dan salah satu di antaranya akan menjadi Sumber Keselamatan manusia. Pada mulanya, Sara isterinya, tertawa mendengar panggilan ini. Dia merasa tidak mungkin punya anak  karena sudah tua. Sedangkan kekurangan Abraham adalah takut mengakui Sara sebagai isterinya, ketika berada di Mesir. Akan tetapi mereka taat pada rencana Allah.

Keluarga Maria dan Yusuf, dipanggil Allah untuk melahirkan Yesus. Mereka mengalami beberapa kesulitan, namun tetap taat pada panggilan Allah.  Meski Yusuf pernah berniat akan meninggalkan Maria, tapi dia membatalkannya setelah ditemui oleh malaikat.

Keluarga Lois berhasil mendidik anak dan cucunya untuk takut pada Tuhan.  Mereka hidup di tengah bangsa kafir, tetapi mereka tetap menyembah Allah yang benar.  Meski Eunike bersuamikan pria yang tidak menyembah Allah, tapi dia tetap mengajarkan firman Allah kepada Timotius, anaknya.

Rahasia kesuksesan keluarga-keluarga di atas adalah "taat pada panggilan Tuhan." Meski pernah mengalami kegagalan, tapi mereka tetap setia pada panggilannya.  Demikian juga keluarga Kristen masa kini. Kita tidak perlu takut pada kegagalan, sebab kegagalan adalah sebuah pembelajaran supaya kualitas keluarga kita semakin baik. Untuk itu, mari kita belajar dari kegagalan yang dialami keluarga-keluarga lainnya di dalam Alkitab:

Keluarga Ishak: gagal dalam membagi kasih sayang pada anak-anak mereka. Ishak lebih sayang pada Esau; Ribkah, isterinya, lebih mengasihi Yakub.

Keluarga Yakub: gagal mengajarkan kerukunan di antara anak-anak.  Karena rasa cemburu, saudara-saudaranya mencelakai dan menjual Yusuf sebagai budak.

Keluarga Imam Eli: gagal mendidik anak-anaknya, Hofni dan Pinehas, untuk menghormati Tuhan. Mereka sering menjarah korban persembahan di bait Allah.

Keluarga Manoah: gagal mendidik Simson dalam memilih isteri.  Simson ngotot mengambil wanita Filistin, yang tidak mengenal Allah, sebagai isterinya.

Keluarga Daud: gagal dalam menjaga kekudusan pernikahan. Daud berselingkuh dengan Betsyeba, Uria. Daud juga gagal mendidik Absalom, anaknya, sehingga memberontak terhadapnya.

Keluarga Ananias dan Safira:gagal dalam menjaga kejujuran.  Mereka membohongi Petrus soal jumlah uang hasil penjualan sebidang tanah.

Dari Alkitab ini, kita bisa belajar bahwa di antara keluarga yang gagal ini, ada yang bangkit kembali. Contohnya, Daud dan Simson lalu meminta ampun pada Tuhan. Dan Tuhan pun memulihkan mereka. Namun ada pula yang taat keras kepala. Contohnya, Ananias dan Safira yang akhirnya dihukum mati. Terhadap keluarga yang taat, Allah telah berjanji: "Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk mencelakakan kamu, tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan." (Yer. 29:11 BIS) Nah, mau pilih mana? [purnawan]

Mewaspadai Nabi-nabi Palsu

Bacaan Matius 7:15-23

Tuhan Yesus mengakhiri "Khotbah di Bukit" dengan peringatan tentang nabi-nabi palsu.  Yesus tahu bahwa di dalam jemaat Kristen akan muncul nabi-nabi. Dalam surat-suratnya, Paulus menulis ada orang Kristen yang bernubuat.  Mereka diberi karunia khusus dari Tuhan untuk mengerti dan menerangkan kehendak Tuhan dengan jelas.  Kadang-kadang, nabi Kristen juga menubuatkan peristiwa yang akan datang (misal Agabus dalam Kis. 11:28 dan 21:10,11), tapi pekerjaan utama nabi-nabi Kristen adalah mengajar. Dalam menjalankan tugas itu mereka ditolong dan diterangi oleh Roh Kudus.

Itu sebabnya, menjadi berbahaya jika nabi yang mengajar jemaat Kristen adalah nabi palsu, sebagaimana ditulis dalam Why 2:20: "wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku (yaitu orang Kristen).  Menggunakan bahasa dari Mat. 7:15, wanita Izebel ini "menyamar seperti domba." Ia menganggap dirinya sebagai orang Kristen, tapi membawa ajaran sesat.

Ini yang justru berbahaya.  Kalau ada orang yang terang-terangan menentang jemaat Kristen, maka kita mudah mengenali dan mewaspadai setiap perbuatannya.  Namun jika ada orang yang 'menyusup' ke dalam jemaat, maka kewaspadaan kita berkurang karena kita menganggapnya sebagai saudara seiman.  Seperti serigala yang menyamar sebagai domba, diam-diam dia menggerogoti dan menghancurkan jemaat. Dia menerkam 'domba-domba Allah' dengan leluasa.

Kita harus insaf bahwa sepanjang sejarah gereja muncul nabi-nabi palsu. Ingat saja tentang orang Anabaptis dengan khayalan-khayalannya di kota Munster pada zaman Luther.  Nabi-nabi palsu ada kemungkinan juga muncul di Indonesia.

Lalu bagaimana sikap kita? Kita harus bersikap kritis terhadap setiap ajaran.  Kritis itu berbeda dengan serba curiga.  Orang yang bersikap kritis tidak menelan mentah-mentah setiap ajaran yang diterimanya, tapi lebih dulu mengeceknya dari firman Tuhan.  Orang yang bersikap kritis memiliki pikiran terbuka.  Dia bersedia menerima ajaran yang baru atau meninggalkan keyakinan yang lama, asalkan itu sesuai dengan firman Tuhan. Dengan demikian, kita wajib menguasai pengetahuan tentang firman Allah.

Dalam perikop ini Yesus menamakan orang Kristen yang benar sebagai "sebatang pohon yang baik." Menurut ahli-ahli Perjanjian baru, istilah ini berarti bahwa seorang Kristen yang baik sudah mengalami perubahan yang mendasar/fundamental. Hati yang terbuka pada perkataan Kristus dan bagi Roh Kudus, adalah hati yang sudah mengalami perubahan asasi dan ingin hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Pohon yang ingin bertumbuh harus menyedot makanan dari sumber yang benar, yaitu firman Tuhan. Bukan dari sumber lain yang mematikan!

:::Purnawan (bahan dari Drs. J.J.de Heer, Tafsir Injil Matius)

Rahasia Hidup Bahagia

Ada seorang pria sedang berbicara dengan Tuhan  Tuhan berkata: "Kau boleh mengajukan tiga permohonan. Aku akan mengabulkannya."

"Tuhan, tapi aku ingin Tuhan mengambil istriku. Aku sudah tidak tahan hidup bersamanya,"kata pria itu.

 "Terjadilan seperti yang kau minta."

Maka matilah isterinya. Pada saat upacara penguburan, tiba pria ini berubah pikiran. "Tuhan, dulu istriku ini adalah wanita yang baik.  Selama dia hidup, aku tidak pernah menghargainya,"kata pria itu. "Tuhan tolong hidupkan dia lagi."

Tuhan menjawab, "Permohonanmu yang kedua sudah terkabul."

Tersisa satu permohonan lagi. Dia menjadi bingung, lalu minta pertimbangan teman-temannya.

"Minta uang saja";"Minta kesehatan saja";"Minta keabadiaan saja." Berbagai saran ini malah semakin membuatnya bingung.

"Apa permohonan ketigamu?" tanya Tuhan.

Pria ini tertawa kecut, "Tuhan saya ini bingung. Saya tidak tahu apa yang harus kuminta! Dapatkah Engkau katakan apa yang harus kuminta?"

Tuhan tertawa keras, lalu berkata,"Baik Aku akan memberitahukan apa yang harus kau minta. Mintalah untuk menjadi bahagia tanpa peduli seperti apa pun keadaanmu. Itulah permintaan terbaik."

Setiap orang pasti ingin hidup berbahagia. Tapi seperti apakah hidup yang disebut berbahagia itu?

Dalam permulaan kitab Mazmur diebutkan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang "kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam."

Ciri-cirinya yang seperti ini mirip dengan pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Orang itu berhasil dalam segala usahanya.

Pertama, tidak egois. Buah yang dihasilkan oleh sebatang pohon, selalu diberikan pada pihak lain.  Pohon tidak pernah memakai buahnya untuk kepentingan diri sendiri.  Orang yang berbahagia tidak egois. Banyak orang yang merasa berbahagia pada saat dia mau berbagi berkat dengan orang lain.

 

Kedua, Bersyukur dan menghitung berkat. Orang yang bersyukur pasti berbahagia. Sungguh tidak mungkin Anda merasa bersyukur, tetapi tidak berbahagia. Meski dalam keadaan tertekan, pemazmur masih bisa bersyukur. "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (Mzm. 42:11)

Ada latihan sederhana yang dapat dipraktikkan dalam bersyukur. Pejamkan mata dan pikirkan kejadian hari kemarin, satu demi satu; dari pagi sampai sore. Untuk setiap kejadiannya katakan "Terimakasih. Aku sungguh beruntung dapat mengalaminya."

Mungkin Anda teringat sesuatu yang tidak menyenangkan. Berhentilah sejenak dan katakan pada diri sendiri, "Hal yang alami ini terjadi semata-mata demi kebaikanku."

Ketiga, Melakukan latihan iman. Perhatikan ayat 3: "Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:3)

Orang yang sudah merenungkan firman Tuhan dan melakukannya tidak langsung berbuah.  Dia harus menunggu waktunya untuk berbuah.  Meski begitu dia menantikan dengan sabar. Dia menyadari bahwa ada proses yang harus dilalui hingga tiba waktunya berbuah. Dia harus berakar, bertumbuh dan kadangkala harus dipangkas.  Namun dia melaluinya dengan ketekunan. (baca: Yak.1:2-4)

Berikut latihan iman sederhana. Pikirkan tentang masa depan Anda dan katakanlah dalam hati,"Semuanya akan menjadi baik. Semuanya akan menjadi baik." Selesai Anda melakukan latihan ini, Anda akan merasa tenang dan bahagia.  Hal ini dapat terjadi karena iman telah menghibur Anda bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan dan bahwa segala sesuatu akan memberi arti yang sangat besar terhadap kebahagiaan kita [Purnawan]

Tiga Dimensi Kehidupan Rohani

        Kalau kita menyimak kehidupan Henokh, Nuh dan Ayub, kita akan mendapatkan satu rahasia keunggulan iman mereka, yaitu mereka "hidup bergaul dengan Allah" (Kej.5:22;Kej.6:9;Ayub 29:4). Seperti yang ditulis dalam Mazmur 25:14:""TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." Lewat pergaulan ini, seseorang akan mengalami perubahan.

Lalu dimana kita kita dapat bergaul dengan Allah? Di gereja! Dalam melaksanakan rencana keselamatan atas dunia ini, Allah hanya bermitra kerja dengan kerja.  Allah memanggil orang-orang percaya untuk menghayati, membangun dan menunjukkan iman di dalam gereja.

Dengan cara apa saja gereja dapat menumbuhkan kerohanian kita? Melalui tiga fungsinya, yaitu: Persekutuan, Kesaksian dan Pelayanan.

Beberapa aspek yang berkaitan dengan Persekutuan adalah:

a.   Pembangunan jemaat. Jemaat dipelihara, dipimpin dan diperlengkapi.

b.  Ibadah: Kesempatan untuk bersekutu dengan Allah dan sesama orang percaya.

c.   Doa: Alat untuk memelihara persekutuan kita dengan Tuhan dan mengarahkan kehidupan kita ke arah hidup yang benar.

d.  Sakramen: Baptis suci sebagai tanda dan meterai bahwa kita telah diselamatkan. Perjamuan Suci untuk menghayati kembali dan merayakan keselamatan yang diberikan melalui pengorbanan Yesus.

Dalam dimensi Kesaksian gereja dipanggil untuk memberitakan keselamatan yang penuh di dalam Kristus dan kedatangan Kerajaan Allah. Pengutusan ini menentukan hakekat dan keberadaan gereja di dunia ini, sehingga gereja yang tidak bersaksi tidak dapat disebut sebagai gereja lagi.

Gereja tidak boleh melarikan diri dan menutup dirinya dari dunua. Dia harus memberikan perhatiannya kepada masalah-masalah dunia. Masalah-masalah yang ada di dunia ini tidak boleh dihadapi dengan sikap acuh tak acuh. Semua masalah yang terjadi di dunia ini tidak terlepas dari rencana Keselamatan Allah atas dunia ini. Maka justru dengan menunjukkan perhatian yang serius atas berbagai persoalan di dunia, gereja menyatakan dirinya sebagai yang diutus Tuhan.

Jika kita membaca Alkitab, maka kita akan melihat bahwa Tuhan menaruh perhatian besar kepada penderitaan manusia di dunia. Itu sebabnya, gereja dipanggil oleh Tuhan untuk melayani. Pelayanan ini yang terutama ditujukan kepada kelompok orang yang menderita, tertindas, tersesat, terbelakang, tersisih, lapar dan telanjang. Ciri khas pelayanan Kristen adalah kasih dan kebenaran Kristus. Ada banyak bentuk pelayanan, misalnya: menghibur orang kesusahan; menolong orang yang membutuhkan bantuan; memberi bea siswa; menjadi sahabat bagi orang tersisih; memberikan pekerjaan kepada pengangguran; mendamaikan orang yang berselisih dsb.

Kalau digambarkan dalam sebuah lingkaran, idealnya ketika aspek ini berbagi tempat secara seimbang. Namun sayangnya, ada beberapa orang Kristen yang hanya bersedia bersekutu saja tapi tidak mau bersaksi. Ada beberapa lagi yang lebih sibuk melayani, tetapi enggan bersaksi.  Jikalau Anda menghendaki mengalami pertumbuhan rohani, maka Anda harus berada di dalam gereja; dan di dalam gereja itu Anda terlibat di dalam tiga dimensi fungsi gereja secara proporsional: bersekutu, bersaksi dan melayani.

[disarikan dari buku "Tumbuh dalam Kristus"/Purnawan]