Jembatan Keajaiban

24 February 2008
Jembatan Brooklyn yang menghubungkan pulau pulau Manhattan dan Brooklyn sesungguhnya adalah jembatan keajaiban. Tahun 1863, seorang insinyur muda bernama John Roebling memiliki gagasan untuk membuat jembatan yang spektakuler. Meski begitu, para pakar pembuat jembatan di seluruh dunia mentertawakan ide gilanya itu.

Roebling tidak putus asa. Dia berhasil meyakinkan anaknya, Washington, yang sebentar lagi juga akan meraih gelar insinyur. Mereka berdua lalu merancang konsep pembangunan jembatan itu. Dengan bergairah mereka mengajak beberapa pekerja untuk mewujudkan impian mereka.

Sayangnya, ketika pembangunan proyek ini baru berjalan beberapa bulan terjadi kecelakaan tragis yang menewaskan John Roebling. Sementara Washington sendiri menderita luka-luka parah. Kecelakaan itu menyebabkan kerusakan di otak Washington sehingga tidak bisa berbicara, apalagi untuk berjalan. Semua orang sudah menganggap proyek ini akan gagal karena hanya Roeblings yang tahu bagaimana jembatan itu akan dibangun.

Meskipun Washington dia tidak bisa ngomong dan berjalan, tetapi kecerdasan otaknya tetap berjalan. Dia masih punya semangat yang menyala untuk menyelesaikan pembangunan jembatan itu. Sebuah ide muncul di benaknya ketika dia terbaring di rumah sakit. Satu-satunya anggota badan yang bisa digerakkan adalah satu jari tangganya. Dengan jarinya itu di menyentuh tangan istrinya dan memberikan kode-kode komunikasi. Dengan cara inilah dia memberikan instruksi kepada para pekerja yang membangun jembatan itu. Washington memberikan instruksi menggunakan jarinya selama tigabelas tahun hingga jembatan Brooklyn yang spektakuler itu selesai dibangun.

Berkah atau Musibah?

Di Skotlandia, Clark dan istrinya punya rencana memboyong sembilan anak mereka untuk mengadu nasib di Amerika. Untuk mewujudkan impian ini, mereka mengumpulkan uang untuk ditabung. Setelah bertahun-tahun, akhirnya terkumpullah cukup uang untuk biaya perjalanan itu.

Seluruh keluarga sudah tak sabar menunggu hari keberangkatan. Sayangnya, tujuh hari sebelum keberangkatan, anak bungsu mereka digigit anjing. Dokter menjahit luka-luka bocah itu, lalu memasang bendera kuning di depan pintu rumah Clark. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan si Bocah ini terjangkit penyakit rabies. Untuk itu, dia harus dikarantina selama empat belas hari.

Pupus sudah impian keluarga ini. Mereka tidak mungkin bisa berangkat ke Amerika sesuai rencana. Sang ayah menjadi sangat kecewa dan marah, saat melihat kapal berangkat menuju benua harapan. Sang ayah menangis tersedu sambil mengomel-omel pada Tuhan karena kesialan yang disebabkan oleh anaknya itu.

Lima hari kemudian, tersiar kabar di seluruh Skotlandia bahwa kapal Titanic tenggelam. Kapal yang disombongkan tidak mungkin tenggelam itu menabrak gunung es dan tenggelam. Ratusan penumpang di atasnya ikut tenggelam. Keluarga Clark lolos dari maut karena tidak jadi menumpang kapal itu.

Ketika Clark mendengar kabar itu dia segera memeluk anak bungsunya sambil berterimakasih karena sudah menyelamatkan keluarga mereka. Dia bersyukur pada Tuhan karena menyelamatkan hidup keluarganya dengan mengubah musibah menjadi berkah.

Charles Spurgeon Jualan Telor


Charles Spurgeon dan istrinya, menurut cerita majalah "Chaplain", pernah menjual telur-telur yang dihasilkan oleh ayam peliharaannya. Bahkan kepada saudara dekat sekalipun mereka tidak memberikan telur itu, tetapi menjualnya. Beberapa orang menilai tindakan Spurgeon ini sebagai orang yang pelit dan tamak.

Namun Spurgeon dan istrinya menerima penilaian itu dengan lapang dada. Mereka tidak pernah membela diri atau sakit hati. Setelah Ny. Spurgeon meninggal dunia barulah terkuak tabir di balik "kepelitan" mereka ini. Semua hasil penjualan telur ini ternyata dipakai untuk menyokong hidup dua janda yang sudah tua. Karena Spurgeon tidak menghendaki tangan kirinya tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanannya (Mat. 6:3), mereka menerima cercaan itu dengan tabah.

Biografi Palsu

Hudson Taylor adalah seorang misionaris yang dikagumi karena kegigihannya dalam menyebarkan Injil ke daratan China. Rupanya hal ini sempat membuat gerah pemerintah komunis China. Itulah sebabnya, mereka memberi perintah pada seorang penulis untuk menyusun biografi Hudson Taylor, tapi dengan tujuan untuk memalsukan fakta sehingga citra misionaris ini menjadi jelek. Mereka ingin mendiskreditkan nama Hudson Taylor.

Ketika sang pengarang mengumpulkan bahan-bahan dan mempelajari sejarah kehidupan Hudson Taylor, dia justru terkesan oleh karakter dan kesalehan misionaris ini. Dia menyadari bahwa tidak mungkin bisa memalsukan biografi orang yang punya kesalehan seperti itu. Dia lalu justru mengambil keputusan yang bisa membahayakan hidupnya, yaitu menanggalkan keyakinan ateis dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya.

Pantang Menyerah

18 February 2008
Pada tahun 1930-an, di Inggris hiduplah seorang pilot muda bernama Douglas Bader yang membaktikan seluruh hidupnya unrtuk terbang. Dia dikenal sebagai pilot yang brillian karena mampu melakukan berbagai manuver yang tidak bisa dilakukan oleh pilot lain.

Sayangnya dia mengalami kecelakaan sehingga kakinya harus diamputasi sebatas lututnya. Bagi banyak orang, musibah ini akan menghentikan karirnya di angkasa, tapi Douglas Bader tidak termasuk di dalam "banyak orang" itu. Dia mulai belajar terbang lagi. Kali ini dia dilatih sebagai pilot pesawat tempur pada Perang Dunia II. Dia menjadi pahlawan dan menginspirasi pilot-pilot muda lainnya. Rekornya dalam pertempuran udara dengan pesawat Jerman sungguh luar biasa.

Ketika pesawatnya ditembak jatuh di wilayah musuh, dia ditawan oleh pasukan Jerman. Pasukan Jerman pun segan kepadanya sehingga mereka mengijinkan "pesawat asing" menjatuhkan sepasang kaki palsu kepadanya. Hebatnya lagi, meskipun cacat di bagian kakinya, dia berusaha kabur dari penjara itu sebanyak dua kali. Orang yang mengenalnya mengatakan bahwa Douglas memiliki roh yang kuat dan pemberani.

Tuhan Menyediakan


Pada abad ke-17, seorang pengkhotbah Jerman bernama August H. Francke mendirikan panti asuhan bagi anak gelandangan di kota Halle. Suatu hari, ketika Francke sedang pusing memikirkan cara mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk panti asuhan itu, ada seorang janda Kristen miskin mendatangi dia. Dia meminta sumbangan sebesar satu Ducat, yaitu satu koin emas. Akan tetapi karena situasi keuangannya sedang kesulitan, dia dengan sopan menolak permintaan itu.

Mendengar penolakan itu, wanita menangis terisak-isak. Melihat air mata itu, hati Francke menjadi terharu. Dia lalu minta permisi sebentar untuk masuk kamarnya dan berdoa. Setelah mencari kehendak Tuhan, dia merasa mendapat bisikan dari Roh Kudus supaya memberikan uang pada wanita janda itu dan menyerahkan semua kebutuhannya pada Tuhan.

Dua minggu kemudian Francke menerima surat ucapan terimakasih dari janda itu. Dia menulis, karena kemurahan hati Francke, maka dia berdoa meminta Tuhan supaya mencurahkan berkat ke Panti Asuhan itu. Pada hari itu juga, Francke menerima 12 Ducat dari seorang wanita kaya dan 2 Ducat lagi dari temannya yang ada di Swedia. Dia merasakan Tuhan telah mengembalikan berkat berlipat-ganda dari uang yang dia berikan pada janda itu. Namun rupanya berkat itu belum berhenti. Francke mendapat kabar bahwa akan menerima sumbangan 500 batang emas dari pangeran Lodewyk Van Wurtenburg. Saat mendengar kabar itu, Francke bersyukur sambil menangis. Dengan berkorban bagi janda yang membutuhkan, ternyata dia mendapat berkat belipat-lipat.

Bantuan Pangan untuk Paderewski


Ada dua mahasiswa yang harus membiayai sendiri untuk kuliah di Leland Stanford University. Keuangan mereka menipis. Lalu muncul ide untuk menggelar pertunjukan resital piano oleh Jan Paderewski. Mereka berharap mendapat keuntungan dari pertunjukkan itu sehingga bisa membayar uang kuliah.

Manajer pianis itu meminta bayaran sebesar dua ribu dollar. Kedua mahasiswa itu lalu menyiapkan pentas itu. Di akhir pertunjukkan mereka menghitung uang yang didapat dari penjualan tiket masuk yang ternyata hanya terkumpul enam ratus dollar. Mereka lalu menemui musisi kawakan itu dan menyerahkan semua uang yang diperoleh. Mereka juga memberikan surat berhutang senilai seribu empat ratus dollar. Mereka berjanji segera membayar hutang, begutu mendapat uang.

"Tidak perlu," jawab Paderewski sambil merobek surat berhutang itu. Dia juga mengembalikan uang itu."Ambil kembali uang enam ratus dollar. Ambillah masing-masing sepuluh persen dari keuntungan yang didapat dari uang ini, untuk kalian. Sisanya nanti untuk saya,"

Tahun demi tahun berlalu, Paderewski menjadi orang nomor satu di Polandia. Lalu terjadilah perang yang menyengsarakan rakyat. Paderewski harus berjuang keras untuk menyediakan makanan bagi ribuan orang Polandia yang kelaparan. Untunglah ada seseorang yang menolong rakyat Polandia. Seorang dermawan dari Perancis mengirimkan ribuan ton makanan ke Polandia, dan masalah kelaparan pun teratasi.

Sebagai ucapan terimakasih, Paderewski pun berangkat ke Paris untuk menemui Herbert Hoover, sang dermawan itu. "Terimakasih kembali, bapak Paderewski,"jawab Hoover. "Mungkin Anda tidak ingat lagi, tapi Anda pernah menolong saya ketika saya masih menjadi mahasiswa."

Biografi Palsu

12 February 2008
Hudson Taylor adalah seorang misionaris yang dikagumi karena kegigihannya dalam menyebarkan Injil ke daratan China. Rupanya hal ini sempat membuat gerah pemerintah komunis China. Itulah sebabnya, mereka memberi perintah pada seorang penulis untuk menyusun biografi Hudson Taylor, tapi dengan tujuan untuk memalsukan fakta sehingga citra misionaris ini menjadi jelek. Mereka ingin mendiskreditkan nama Hudson Taylor.

Ketika sang pengarang mengumpulkan bahan-bahan dan mempelajari sejarah kehidupan Hudson Taylor, dia justru terkesan oleh karakter dan kesalehan misionaris ini. Dia menyadari bahwa tidak mungkin bisa memalsukan biografi orang yang punya kesalehan seperti itu. Dia kemudian mengambil keputusan yang bisa membahayakan hidupnya, yaitu menanggalkan keyakinan ateis dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Memimpin dengan Teladan

Ketika Jenderal George C. Marshall menjabat sebagai komandan di Sekolah Infantri di Fort Benning, di melihat kantornya yang dalam kondisi buruk. Dia bisa saja memerintahkan anak buahnya untuk memperbaiki tempat kerjanya itu. Tapi dia tidak melakukannya. Dia justru mengambil perkakas pertukangan dan memperbaiki sendiri kantornya. Setelah itu dia mengecatnya. Perwira lain yang melihat itu menjadi malu. Mereka lalu mengikuti jejak atasannya yaitu memperbaiki pos mereka sendiri. Tak lama kemudian Fort Benning terlihat lebih indah.
::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Malam Dana

Seorang pengkhotbah kenamaan, Dr. George W. Truett, diundang oleh sebuah jemaat pada acara pengumpulan dana untuk pembangunan gedung gereja. Mereka membutuhkan dana sebesar $6500. Dr. George W. Truett sendiri sudah menyumbang sebesar $3000, tapi nampaknya anggota jemaat lain masih enggan memberikan sumbangan. Dengan sedikit kecewa dia berkata, "Apakah kalian berharap saya menyumbang sebesar $3500, untuk menutupi kekurangannya? Saya di sini 'kan cuma tamu?"

Tiba-tiba, ada seorang wanita yang duduk di barisan belakang yang berdiri. Dia berpaling kepada suaminya yang duduk di balkon dan bertanya, "Charlie, setuju nggak jika kita mempersembahkan rumah kita? Kemarin kita berhasil menjualnya seharga $3500. Jika Juruselamat telah memberikan hidupnya bagi kita, mengapa kita juga tidak memberikan pengorbanan untuk Dia?"

Truett melihat bahwa suami wanita itu mengangguk tanda setuju,"Ya, Jennie, aku juga memikirkan hal yang sama."

Wanita itu lalu berpaling pada Truett, dia berkata, "Jika dibutuhkan, maka kami akan menyerahkan semua tabungan kami sebesar $3500." Selama beberapa saat suasana berubah menjadi sangat hening. Beberapa orang menangis terharu. Kemudian satu per satu jemaat mulai memberikan sumbangan. Dalam waktu singkat, dana yang dibutuhkan terpenuhi sehingga Charlie dan Jennie tidak perlu mengorbankan rumah mereka.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Jangan Sembarangan Meniru

Meniru perilaku seseorang secara mentah-mentah bisa menimbulkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Hal ini pernah dialami oleh orang-orang yang diundang makan malam oleh Presiden Coolidge di Gedung Putih.

Sebagai orang awam, mereka tidak tahu etiket di meja makan pada acara resmi. Karena itu mereka sepakat untuk menirukan semua yang dilakukan oleh tuan rumah. Semua berjalan lancar sampai ketika sajian kopi dihidangkan. Presiden Coolidge lalu menuangkan kopi ke atas piring lépék. Para tamu melakukan hal yang sama. Presiden menambahkan gula dan krim. Para tamu juga menirukan. Kemudian Presiden membungkukkan badan dan menyodorkan piring lépék itu pada kucing!

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Bendera di Puncak Gunung

Suatu hari di tahun 1909, sekelompok pekerja tambang di Alaska yang populer disebut "Sourdoughs" sedang bercengkerama di sebuah bar di Fairbanks. Mereka sedang membicarakan orang luar seperti Dr. Frederick Cook yang telah mendaki gunung McKinley. Mereka berdebat apakah tim ekpsedisi Cook berhasil sampai di puncak, atau tidak. Untuk mencari kepastian, maka mereka memutuskan untuk mendaki sendiri gunung itu untuk mencari buktinya.

Setelah cukup lama mendaki, ada tiga pekerja tambang yang meninggalkan base camp dan mulai berjalan ke puncak di sisi utara. Mereka membawa donat, temos yang berisi coklat panas dan bendera dengan tiang kayu setinggi 4,2 meter.

Ketika mereka kembali ke Fairbanks, tidak seorang pun yang percaya bahwa para pekerja tambang ini telah sampai di puncak gunung. Alasannya karena mereka tidak melihat tiang bendera yang dipancangkan oleh mereka. Akan tetapi pada bulan Juni 1913, ketika pendaki gunung profesional sampai di puncak gunung, mereka terkejut karena melihat sudah ada tiang bendera yang dipancangkan di situ, yaitu bendera yang dibawa oleh para "Sourdoughs" itu.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Hidangan Makanan dari Dukun

John G. Paton, adalah misionaris yang dikirim ke South Sea Islands, Australia. Dia sering menghadapi bahaya karena bekerja di antara suku Aborigin yang belum mendengar Injil. Pada suatu saat, ada tiga dukun yang mengaku punya kekuatan untuk membunuh seseorang. Mereka mengumumkan niat akan menggunakan ilmu santet untuk membunuh Paton pada hari Minggu berikutnya. Untuk melaksanakan niatnya itu, mereka membutuhkan sisa makanan Paton. Mendengar rencana itu, Paton minta tiga buah plum. Dia menggigit sebagian, lalu sisanya diberikan kepada tiga orang yang akan menyantet dia.

Pada hari Minggu, John Paton mendatangi desa itu dengan langkah ringan dan senyuman menghiasi wajahnya. Warga desa saling berpandangan seolah tidak percaya bahwa yang dilihatnya itu adalah sang misionaris. Para dukun itu akhirnya mengakui bahwa mereka telah mengerahkan segala ilmunya untuk membunuh Paton, tapi gagal. Ketika ditanya penyebab kegagalan, mereka menjawab bahwa sang misionaris itu juga punya kekuatan yang mereka miliki. Akan tetapi Tuhan yang dilayani Paton ternyata lebih kuat daripada sesembahan mereka.

Sejak saat itu pengaruh Paton semakin menguat, sehingga dia bisa mengenalkan Kristus pada penduduk desa itu.

Bila Tukang Cukur Ingin Bersaksi

Pendeta W. E. Sangster(1900-1960) yang melayani di gereja Queen St di Scarborough, Inggris memiliki anggota jemaat yang berprofesi sebagai tukang cukur. Sebagai orang Kristen, dia ikut terpanggil untuk bersaksi kepada pelanggannya. Akan tetapi karena tidak dilakukan dengan bijak, hasilnya justru menggelikan. Suatu hari ada seorang pria yang ingin mencukurkan jenggotnya. Setelah mengoleskan busa ke pipi orang itu, si tukang cukur ini lalu mengambil pisau cukur yang tajam. Dia mengerahkan pisau cukur ke dagu pelanggannya sambil bertanya, "Pak, apakah Anda sudah siap menemui Tuhan?"Kontan pelanggan itu lari terbirit-birit.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Kasih Sejati

Kita perlu mengabarkan Injil kepada seluruh manusia. Meskipun orang menolak Injil, kita harus tetap mengasihi dia. Hal ini pernah dialami oleh Ralph Neighbour, pendeta gereja Baptis di West Memorial, Houston. Dia melayani seseorang dengan tulus, tetapi orang itu tetap menolak keselamatan. Ralph Neighbour bercerita:

Jack adalah Direktur dari sebuah perusahaan yang besar. Ketika menderita sakit kanker, perusahaan tempat dia bekerja, mencampakkan dia. Untuk membiayai pengobatan, dia menghabiskan seluruh asuransi kesehatan, tabungan dan harta bendanya. Bersama salah satu diaken, saya mengunjunginya. Teman saya bertanya, "Jack, Anda sudah menceritakan hidup Anda. Saya ingin tahu, apakah Anda sudah menyiapkan kehidupan setelah kematian?"

Wajah Jack menjadi merah padam. Dia berdiri dan berkata dengan marah, "Dasar orang Kristen! Yang kalian pikirkan hanya apa yang terjadi setelah saya mati. Jika Tuhan kalian itu Mahabesar, mengapa Dia tidak melakukan sesuatu yang nyata dalam kehidupan sehari-hari!" Dia lalu terus mengomel karena terpaksa tidak bisa memberikan warisan pada istrinya dan meninggalkan tabungan untuk pendidikan anak perempuannya. Dia lalu mengusir kami.

Sampai di luar, Diaken mengajak saya untuk kembali lagi. Saya menuruti. "Jack, saya minta maaf jika telah menyinggung Anda," kata Diaken,"Tapi saya ingin Anda mengetahui bahwa kami telah berbuat sesuatu untuk keluarga Anda. Persoalan pertama adalah dimana keluarga Anda akan tinggal nanti setelah Anda meninggal. Seorang pemborong di gereja kami bersedia menjual rumah Anda dan memberikan komisinya pada istri Anda. Saya menjamin, jika Anda mengijinkan, kami akan membayar uang kontrakan sampai rumah itu terjual. Kemudian saya sudah menghubungi pemilik apartemen. Dia menawarkan ruangan dengan tiga tempat tidur beserta peralatannya dengan gratis. Dia juga menawarkan pekerjaan dengan gaji $850/bulan pada istri Anda. Yang harus dilakukan istri Anda adalah menagih uang sewa dan mengawasi perawatan pipa air dan listrik di apartemen itu. Hasil penjualan dari rumah Anda bisa dipakai untuk biaya kuliah anak Anda. Singkatnya saya ingin mengatakan bahwa kebutuhan keluarga Anda sudah kami urus."

Mendengar itu, Jack menangis terharu. Beberapa lama kemudian dia meninggal, sayangnya dia tidak mau menerima Kristus sebagai Juruselamatnya. Meski begitu, dia sempat merasakan kasih Tuhan meskipun dia tetap mengeraskan hatinya. Istri Jack yang sangat tersentuh oleh kepedulian orang Kristen akhirnya menerima Kristus.