Berkah atau Musibah?

24 February 2008
Di Skotlandia, Clark dan istrinya punya rencana memboyong sembilan anak mereka untuk mengadu nasib di Amerika. Untuk mewujudkan impian ini, mereka mengumpulkan uang untuk ditabung. Setelah bertahun-tahun, akhirnya terkumpullah cukup uang untuk biaya perjalanan itu.

Seluruh keluarga sudah tak sabar menunggu hari keberangkatan. Sayangnya, tujuh hari sebelum keberangkatan, anak bungsu mereka digigit anjing. Dokter menjahit luka-luka bocah itu, lalu memasang bendera kuning di depan pintu rumah Clark. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan si Bocah ini terjangkit penyakit rabies. Untuk itu, dia harus dikarantina selama empat belas hari.

Pupus sudah impian keluarga ini. Mereka tidak mungkin bisa berangkat ke Amerika sesuai rencana. Sang ayah menjadi sangat kecewa dan marah, saat melihat kapal berangkat menuju benua harapan. Sang ayah menangis tersedu sambil mengomel-omel pada Tuhan karena kesialan yang disebabkan oleh anaknya itu.

Lima hari kemudian, tersiar kabar di seluruh Skotlandia bahwa kapal Titanic tenggelam. Kapal yang disombongkan tidak mungkin tenggelam itu menabrak gunung es dan tenggelam. Ratusan penumpang di atasnya ikut tenggelam. Keluarga Clark lolos dari maut karena tidak jadi menumpang kapal itu.

Ketika Clark mendengar kabar itu dia segera memeluk anak bungsunya sambil berterimakasih karena sudah menyelamatkan keluarga mereka. Dia bersyukur pada Tuhan karena menyelamatkan hidup keluarganya dengan mengubah musibah menjadi berkah.

0 komentar: