Peternak yang Jujur

26 March 2008

Saat masih menjadi peternak, Theodore Roosevelt bersama beberapa anak buahnya sedang memberi tanda pada sapi-sapi mereka dengan besi panas. Sapi-sapi itu sengaja dilepas di padang luas, sehingga mereka harus memberi tanda kepemilikan pada ternak-ternak itu.

Mereka sudah menyalakan api unggun. Salah satu koboi menangkap seekor sapi dengan tali laso, dan siap mengecap sapi itu dengan besi panas. Tiba-tiba Roosevelt menyadari kalau mereka sudah memasuki wilayah peternakan Gregor Lang, tetangga Roosevelt.

Menurut aturan yang disepakati sesama peternak, seharusnya sapi itu milik Lang. Ketika koboi bersiap menancapkan besi panas, Roosevelt berkata, "Tunggu dulu, bukankah itu seharusnya menjadi milik Gregor Long?"

"Betul, bos," jawab koboi itu.

"Tapi kamu tetap akan memberikan tanda milikku pada sapi itu?" lanjut Roosevelt.

"Ya," kata anak buahnya.

"Letakkan besi itu!" perintah Roosevelt "lalu pergilah dari sini. Saya tidak memperkerjakan kamu lagi. Orang yang mau mencuri untukku, suatu saat akan mencuri dariku juga."

Seekor Gajah Bernama Bozo


Ratusan tahun lalu, ada seekor gajah sirkus bernama Bozo yang sangat populer di Inggris. Anak-anak senang mengerumuni kadangnya dan melemparkan kacang kepadanya. Tapi tiba-tiba terjadi perubahan sifat pada gajah itu. Beberapa kali dia berusaha membunuh pawangnya. Ketika anak-anak mendekati kandangnya, dia menunjukkan sikap agresif pada pengunjung. Hal ini memaksa pemilik sirkus untuk membunuh gajah itu. Namun dasar orang yang tamak, dia masih tetap ingin mendapatkan uang di akhir hidup gajah itu. Dia akan membuat pertunjukkan untuk mengeksekusi gajah itu dan menjual tiket pada pengunjung.

Pada hari pertunjukkan, tenda sirkus itu sudah dipenuhi pengunjung. Bozo, berada di dalam sangkar di tengah-tengah tempat pertunjukkan. Di dekatnya, ada orang berdiri sambil membawa senapan berkekuatan tinggi sudah bersiap menembak. Sang manajer berdiri di dekat kandang, siap untuk memberi tanda pada penembak. Tiba-tiba ada seorang pria yang berjalan dari antara penonton dan menghampiri si manajer. "Saya kira penembakan ini tidak pelu dilakukan," katanya pada manajer.

"Gajah ini bertingkah buruk. Dia harus dibunuh sebelum mencelakai orang," jawab manajer. "Anda salah," kata pria ini,"Izinkan saya untuk masuk ke kandang itu selama selama dua menit saja, dan saya akan membuktikan kalau Anda salah," kata pria itu.

Manajer memandang pria itu dengan wajah keheranan. "Anda bisa terbunuh, di sana," katanya.

"Saya kira tidak," tukas pria itu, "boleh nggak nih saya masuk?"

Manajer berpikir sejenak. Dia mencium bau uang karena hal ini bisa menjadi pertunjukan yang spektakuler. Sekalipun jika pria ini nanti dibunuh oleh binatang itu, publisitas yang didapat dari liputan media akan menghasilkan pemasukan yang besar. Dia setuju mengizinkan pria ini masuk. "Tapi sebelum masuk, Anda harus menanda-tangani perjanjian bahwa pihak pengelola sirkus tidak harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa pada Anda."

Pria itu setuju dan menanda-tangani surat perjanjian, lalu bersiap untuk masuk kandang. Manajer mengumumkan pada penonton apa yang akan dilakukan oleh pria ini. Pengunjung melihat dengan tegang, saat pria itu masuk ke dalam kandang. Melihat ada orang asing masuk kandangnya, gajah itu mengangkat belalainya dan mengeluarkan suara yang keras. Dia bersiap melakukan penyerangan. Pria itu tetap tenang. Dia malah tersenyum dan berbicara pada bintang. Suasana sangat hening sehingga sebagian orang bisa mendengar suara pria itu. Tampaknya dia berbicara dengan bahasa asing. Saat pria itu terus berbicara, pelan-pelan gajah itu mulai menunjukkan sikap bersahabat. Dengan penih keyakinan, pria itu lalu menghampiri gajah dan menyentuh belalainya. Gajah itu membalas dengan melingkarkan belalainya di pinggang pria, lalu bersama-sama berjalan berkeliling. Penonton bertepuk tangan.

Pria itu lalu mengucapkan salam perpisahan pada gajah dan keluar dari kandang."Dia sudah baikan,"kata pria ini pada manajer,"Dia itu gajah India dan tidak ada orang yang bicara dengannya dalam bahasa Hindustan. Dia cuma kangen rumahnya, kok."

Pria itu lalu pergi, diikuti tatapan mata heran sang manajer. Manajer mengambil kertas perjanjian dan mencari tahu nama pria itu. Namanya Rudyard Kipling.

Mengabaikan Peringatan



Sebuah angin badai menyapu Inggris, tahun 1881. Hal ini membuat nelayan di sana tidak bisa melaut. Termasuk juga nelayan-nelayan yang berjemaat di sebuah gereja di Evemouth. Sudah seminggu mereka terpaksa hanya tinggal di rumah saja.

Suatu hari, tiba-tiba matahari bersinar cerah di langit yang biru. Tampaknya badai sudah berlalu, sehingga para nelayan mulai melaut lagi. Empat puluh kapal bersiap meninggalkan dermaga. Sebelum berangkat, kepala dermaga memperingatkan mereka bahwa badai akan datang lagi. Dia meminta mereka supaya mengurungkan niatnya untuk melaut. Namun mereka mengabaikan peringatan itu dan tetap melaut juga.

Beberapa jam kemudian, angin badai menyapu laut itu dan hanya sedikit nelayan yang kembali. Ada sekitar lima atau enam nelayan di tiap kapal, dan hampir semuanya tewas dalam bencana angin badai itu. Akibatnya gereja di tempat itu tinggal memiliki jemaat sebanyak tiga orang.

Selalu Waspadalah!



Pembalap Argentina, Juan Manuel Fangio selamat dari kecelakaan pada balapan Grand Prix di Monaco (1950) karena dia cermat dalam melihat ketidak-beresan. Setelah putaran pertama, ketika dia akan melewati tikungan yang rawan kecelakaan untuk kedua kalinya, dia memperhatikan ada yang aneh. Dia melihat wajah para penonton tidak melihat ke arah mobilnya, namun berpaling ke arah lain.

"Jika mereka tidak melihat saya, pasti mereka melihat sesuatu yang lebih menarik di tikungan itu," demikian pikir Fangio. Maka dia memutuskan untuk mengurangi gas, menginjak pedal rem dan berbelok di tikungan dengan hati-hati. Keputusannya sangat tepat karena setelah belokan, jalur balap itu dipenuhi benda-benda yang berserakan akibat tabrakan kecelakaaan sebelumnya.

Peluru Kendali dari Sahabat


Dalam perangan antara Inggris vs Argentina memperebutkan kepulauan Falkland (1982), kapal perang Inggris, "HMS Sheffield" yang berobobot mati 3.500 ton, tenggelam oleh rudal yang ditembakkan pesawat jet Argentina.

Ini membuat heran banyak orang karena kapal perang modern ini sangat rawan terhadap serangan peluru kendali yang canggih. Penelitian lebih lanjut menyingkapkan misteri ini. Ternyata sistem pertahanan di kapal itu sebenarnya sudah mengetahui tentang datangnya serangan rudal itu. Komputer di kapal itu mengenalinya sebagai rudal Exocet buatan Perancis. Namun karena komputer itu sudah diprogram untuk menganggap Exocet sebagai rudal yang "bersahabat", maka komputer itu mengabaikan datangnya serangan itu. Akibatnya sungguh fatal.

Beberapa orang sebenarnya mengetahui bahwa perbuatan dosa itu sangat berbahaya. Akan tetapi karena mereka "memprogram" untuk menganggap "ruda dosa" itu sebagai "sahabat", maka akibatnya sungguh fatal.

Warna Bendera

25 March 2008

Sebuah kereta melaju pelan karena bermuatan penuh berisi pelajar-pelajar yang baru pulang dari sekolah. Karena kebanyakan penumpang, kereta ini tidak bisa berjalan dengan kecepatan penuh. Padahal kereta ini berjalan di jalur yang padat. Dengan kecepatan seperti itu, kereta ini bisa ditabrak oleh kereta lain dari belakang yang melaju dengan kecepatan lebih tinggi. Karena itu, pengawas di stasiun memerintahkan seorang petugas memberi peringatan pada masinis. Petugas melaksanakan tugas dengan melambaikan bendera pada masinis.

Karena merasa semuanya berjalan normal, para penumpang asyik bercakap-cakap sehingga suasana menjadi gaduh. Tiba-tiba terdengar bunyi peluit kereta api lain yang segera disusul dengan tabrakan yang dahsyat. Akibatnya sungguh mengenaskan.

Masinis dan petugas yang membawa bendera itu berhasil menyelamatkan diri dengan meloncat dari kereta sebelum tabrakan terjadi. Beberapa hari kemudian mereka diajukan ke muka pengadilan. Di dalam pemeriksaan di pengadilan, sang masinis ditanya,"Apakah Anda tidak melihat petugas melambaikan bendera sebagai tanda bahaya?"

Masinis menjawab, "Ya, saya melihatnya tapi dia melambaikan bendera kuning. Itu artinya keadannya aman sehingga saya tetap melanjutkan perjalanan kereta."

Petugas yang melambaikan bendera dipanggil."Bendera apa yang Anda lambaikan?" tanya hakim.

"Bendera merah"

"Apakah Anda yakin itu bendera merah?"

"Sangat yakin."

Kedua orang ini tetap ngotot mempertahankan pengakuannya masing-masing sehingga muncul dugaan salah satu dari orang ini mengalami buta warna. Hakim lalu menyuruh petugas untuk menunjukkan bendera yang dikibarkan sebagai barang bukti. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya misteri itu terpecahkan. Rupanya karena terlalu sering terpapar hujan dan panas, warna merah dari bendera itu menjadi luntur dan berubah menjadi kuning kusam.

Kaya tapi Pelit

John G. Wendel dan saudara perempuannya mungkin termasuk orang yang sangat menderita. Meskipun menerima warisan yang besar dari orangtua, tetapi mereka hanya memakainya sedikit sekali. Mereka berusaha menghemat pengeluaran untuk menjaga jumlah kekayaan mereka.

John berhasil meyakinkan kelima saudara perempuannya supaya mereka tidak menikah dan tinggal bersama di sebuah rumah di kota New York City selama 50 tahun. Ketika orang terakhir dalam keluarga itu meninggal tahun 1931, kekayaannya ditaksir lebih dari $100 juta. Dia meninggal dengan mengenakan baju yang dibuatnya sendiri, dan itu adalah satu-satunya baju yang dipakainya selama 25 tahun.

Saran yang Bijaksana


Sekitar tahun 512 S.M., ketika Darius I, raja dari Persia memimpin tentaranya sebelah utara Laut Hitam. Bangsa Scythia mengirim pesan kepadanya berupa seekor tikus, seekor katak, seekor burung dan lima anak panah. Darius lalu memanggil kaptennya. "Kemenangan kita sudah pasti," kata Darius ,"anak panah ini melambangkan bahwa bangsa Scythia akan meletakkan senjata mereka, katak melambangkan air dan danau, tikus melambangkan tanah yang akan menjadi milik kita, dan tentara mereka akan kabur seperti burung terbang."

Akan tetapi penasehat Darius memiliki pandangan lain. Dia berkata, "bangsa Scythia mengirimkan benda ini untuk memberikan pesan bahwa jika Anda tidak berlaku seperti burung yang terbang tinggi, atau katak yang bersembunyi dalam air, atau tikus yang bersembunyi di dalam liang tanah, maka Anda akan dibantai oleh pemanah-pemanah bangsa Scythia."

Darius mendengar kata-kata penasehatnya. Dia menilai tafsirannya benar sehingga dia lalu memerintahkan pasukannya untuk berbalik.

Bocah itu Mendengar Lonceng

Di dalam film serial"Focus on the Family," dikisahkan seorang bocah keturunan Afrika-Amerika (5 tahun) menderita sakit kanker paru-paru. Sel kanker sudah berada pada stasdium terakhir. Paru-parunya dipenuhi air yang membuatnya kesulitan untuk bernapas. Sungguh penderitaan yang amat berat, terutama bagi seorang bocah kecil.

Ibu dari bocah laki-laki ini adalah seorang penganut Kristen yang saleh dan sangat menyayanginya. Dia selalu mendampinginya melewati masa-masa yang menyakitkan. Dia sering meletakkan kepala anaknya di pangkuannya sambil menceritakan tentang kasih Tuhan. Tanpa disadari, sang ibu ini sedang menyiapkan anaknya untuk memasuki gerbang keabadian.

Menjelang akhir hidupnya, sang anak berkata pada ibunya bahwa dia mendengar lonceng. "Loncengnya berbunyi, Mama,"katanya,"saya bisa mendengarnya."

Ibunya memberitahukan hal ini pada perawat. Namun perawat menganggap anak itu sedang mengalami halusinasi akibat sakit yang dia rasakan. Perawat meninggalkan ruangan itu. Beberapa menit kemudian kembali lagi untuk memeriksa. Ternyata anak itu tetap mengatakan kalau mendengar suara lonceng.

Perawat berkata pada ibunya,"Saya yakin kalau anak Anda mendengar bunyi-bunyian yang sebenarnya tidak ada. Dia sedang berhalusinasi karena sakitnya ini." Sang ibu menarik anaknya hingga dekat ke pipnya lalu berkata sambil tersenyum, "Saya yakin tidak begitu. Dia tidak sedang berhalusinasi. Saya pernah berkata kepadanya bahwa jika merasa takut--saat itu dia kesulitan bernapas--maka saya memintanya untuk mendengar dengan cermat. Saya mengatakan bahwa dia akan mendengar bunyi lonceng dari sorga. Itulah yang sebenarnya dia maksudkan saat ini."

Anak ini sebelum akhirnya meninggal di atas pangkuan ibunya, terus-menerus berkata bahwa mendengar bunyi lonceng dari sorga dan bahwa malaikat telah menjemput dia. Sungguh anak yang pemberani.

Keadilan Versi Andrew Carnegie


Seorang penganut paham sosialis menemui Andrew Carnegie. Segera saja dia mengecam kekayaan yang dimiliki Andrew Carnegie, yang dia sebut sebagai salah satu bentuk dari ketidak-adilan. Menurut pahamnya, kekayaan itu harus dibagi sama rata.

Carnegie lalu minta sekretarisnya untuk menghitung kekayaannya. Sementara itu, Andrew Carnegie lalu mencari data angka jumlah penduduk dunia. Dia lalu menghitung-hitung di atas kertas lalu berkata pada sekretarisnya, "Berikan uang sebanyak l6 sen pada pria ini. Itulah bagian dia dari kekayaan saya."

Post It!

10 March 2008

Perusahaan 3M mendorong pada karyawannya untuk mengembangkan kreativitas mereka. Perusahan ini mengizinkan para penelitinya untuk memakai waktu sebanyak 15 persen dari jam kerja untuk mengerjakan penelitian yang menarik minat mereka.

Kebijaksanaan ini tidak hanya menyenangkan karyawan, yang lebih lagi justru sangat menguntungkan perusahaan itu sendiri. Seringkali terjadi ide yang muncul dari karyawan ini meningkatkan laba perusahan berlipat ganda.

Art Fry, salah satu karyawan perusahaan 3 M juga memanfaatkan 15 persen untuk waktu kreatif ini. Bermula dari kejengkelannya pada setiap hari Minggu ketika dia menyanyi sebagai anggota paduan suara gereja. Dia sering menyelipkan kertas-kertas kecil di antara buku lagu pujian untuk memberi tanda lagu-lagu yang akan dinyanyikan.. Namun yang menjengkelkan, kertas-kertas kecil ini sering berhamburan di lantai.

Tiba terlintas sebuah ide cemerlang. Dia ingat sebuah lem amplop yang ditemukan oleh teman sekerjanya. Semua orang menganggap temuan itu gagal karena lem itu kurang merekat kuat. "Saya lalu mengoleskan lem itu ke atas kertas," kata Fry sambil mengingat kejadian itu, "dan saya menemukan bahwa kertas ini tidak hanya bisa menjadi penanda buku yang baik, tapi juga bisa dipakai untuk menulis pesan singkat. Kertas ini bisa menempel lama, dan ketika kita melepaskannya, dia tidak meninggalkan bekas atau merusak bekas tempelannya." Temuan Art Fry yang dinamai "Post-it!" ini menjadi salah satu produk 3M yang paling mendatangkan keuntungan.

Dari Lilin Menjadi Sabun


Tahun 1879, produk terlaris yang dihasilkan oleh perusahaan Procter and Gamble adalah lilin. Namun ketika Thomas Alva Edison menemukan bola lampu pijar, perusahaan ini mengalami masalah. Penjualan lilin mengalami kemorosotan tajam karena banyak orang yang beralih ke alat penerang baru yang bebas asap itu. Orang hanya membeli lilin untuk keperluan tertentu.

Masa depan perusahaan ini tampaknya sangat suram. Namun sebuah "kecelakaan kerja" telah menjadi titik balik yang menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan. Suatu kali ada karyawan di pabrik Cincinnati yang kelupaan mematikan mesin ketika mereka beristirahat makan siang. Akibatnya? Terjadi adonan berbusa-busa yang meluap dan penuh dengan gelembung-gelembung udara. Mulanya karyawan ini berencana membuang adonan ini karena merasa kesal. Namun sebelumnya dia mencoba untuk membuat sabun dari adonan itu. Hasilnya adalah sabun yang bisa mengambang di air. Maka lahirlah produk yang bernama sabun Ivory, yang kemudian menjadi produk andalan Procter and Gamble.

Mengapa sabun yang bisa mengapung menjadi laris saat itu? Pada masa itu, beberapa orang di Cincinnati masih mandi di sungai Ohio. Dengan menggunakan sabun yang bisa mengapung, maka mereka tidak akan kehilangan sabun lagi ketika terlepas dari genggaman. Itulan sebabnya sabun Ivory menjadi sabun terlaris di Ohio, yang kemudian merambah ke seluruh negeri Amerika.

Jangan pernah menyerah, saat menemui masalah. Kreativitas bisa mengubah masalah menjadi berkah yang melimpah.

Ide Sepuluh-Sen


Saat F. W. Woolworth masih muda, dia menjadi penjaga toko. Dia memberikan usul pada bos-nya untuk menjual semua barangnya dengan harga yang sama yaitu sepuluh sen. Tujuannya untuk menghabiskan stok di gudang. Bos-nya setuju dan ternyata sukses besar.

Keberhasilan ini memberi inspirasi Woolworth untuk membuka toko sendiri yang menjual produk seharga lima sen dan sepuluh sen. Namun dia kekurangan modal. Karena itu dia mengajak bosnya untuk menyuplai barang, sebagai penyertaan modal bagi usahanya. Kali ini bos-nya menanggapi dengan dingin. "Tidak banyak barang yang bisa dijual dengan harga lima sen dan sepuluh sen."

Woolworth tidak menyerah. Dia melanjutkan usahanya meskipun tanpa dukungan dari bos-nya. Ternyata dia tidak hanya sukses membuka satu toko. Setelah melalui kerja keras, dia berhasil memiliki jaringan toko di seluruh negara Amerika. Beberapa waktu kemudian, saat melihat keberhasilan F. W. Woolworth, mantan bosnya mengakui dengan pahit,"Sepanjang saya ketahui, setiap kata yang saya pakai untuk membuat Woolworth patah semangat, saya justru mengalami kerugian jutaan dollar."

Digaji untuk Berpikir

Henry Ford menyewa pakar efisiensi untuk menilai tingkat efisiensi di pabriknya. Dia berkata, "Carilah karyawan yang tidak produktif. Katakan siapa namanya, maka saya akan memecat dia!"

Pakar itu lalu berkeliling pabrik sambil membawa catatan. Beberapa saat kemudian dia kembali ke kantor Henry Ford untuk memberi laporan.

"Saya menemukan masalah di salah satu karyawan administrasi Anda," katanya,"setiap kali saya melintas di dekatnya, dia sedang duduk sambil mengangkat kakinya ke atas meja. Pria ini tidak pernah mengerjakan apa-apa. Saya sangat menyarankan Anda untuk menyingkirkan orang ini."

Saat Henry Ford diberitahu namanya, dia menggelengkan kepala, sambil berkata, "Saya tidak bisa memecatnya. Saya menggaji orang ini hanya untuk berpikir. Memang pekerjaannya seperti itu."

Makanya, jangan terlalu cepat menghakimi seseorang. Tuhan saja baru menghakimi manusia pada akhir zaman nanti.

Antara Wrangler dan Strangler

Di Universitas Wisconsin terdapat kelompok brilian yang dibentuk oleh mahasiswa yang memiliki talenta tinggi dalam tulis-menulis. Mereka adalah para penulis puisi, novel dan essay. Mereka memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang luar biasa. Anak-anak muda yang punya masa depan cerah ini memiliki jadwal pertemuan secara teratur. Agendanya adalah saling mengritik. Di dalam pertemuan ini mereka biasa mengritik karya orang lain dengan tajam. Mereka berusaha menguliti karya orang lain tanpa ampun. Pertemuan itu menjadi "arena pembantaian" karya-karya sastra. Ada semacam kebangga pribadi jika bisa menjatuhkan karya orang lain. Klub ekslusif ini dinamakan "Strangler" alias "Pencekik".

Di kampus yang sama, juga terdapat kelompok yang anggotanya adalah para mahasisiwi yang juga punya talenta besar di bidang tulis-menulis. Organisasi ini menjadi semacam pesaing dari Stranglers. Itulah sebabnya, nama kelompok ini pun sengaja dibikin mirip, yakni "Wranglers" alias "Pendebat." Mereka juga saling membaca karya anggota lain. Namun terdapat perbedaan besar di antara dua kelompok. Kritik yang dilontarkan oleh kelompok wanita ini lebih lunak, positif dan memberi dorongan semangat. Bahkan kadangkala tidak ada kritik sama sekali. Karya yang paling jelek sekalipun tidak pernah dikecam, tetapi diberi saran untuk perbaikannya.

Dua puluh tahun kemudian, seorang alumnus universitas ini mengadakan penelitian karier yang dicapai oleh teman seangkatannya. Dia menemukan perbedaan prestasi antara kelompok Strangler dan Wrangler. Di antara anggota kelompok Strangler tidak satu pun yang berhasil menjadi penulis yang sukses. Sedangkan di antara kelompok Wrangler, ada enam orang yang menjadi penulis sukses, beberapa orang di antara adalah penulis ternama seperti Marjorie Kinnan Rawlings, yang menulis "The Yearling".

Talenta yang dimiliki oleh anggota di antara kedua kelompok ini hampir sama. Ilmu yang diajarkan juga tidak berbeda. Perbedaanya, mahasiswa di dalam kelompok Strangler saling "mencekik", tapi para mahasiswi di kelompok Wrangler memilih untuk saling mendorong.