Mewaspadai Nabi-nabi Palsu

29 August 2007

Bacaan Matius 7:15-23

Tuhan Yesus mengakhiri "Khotbah di Bukit" dengan peringatan tentang nabi-nabi palsu.  Yesus tahu bahwa di dalam jemaat Kristen akan muncul nabi-nabi. Dalam surat-suratnya, Paulus menulis ada orang Kristen yang bernubuat.  Mereka diberi karunia khusus dari Tuhan untuk mengerti dan menerangkan kehendak Tuhan dengan jelas.  Kadang-kadang, nabi Kristen juga menubuatkan peristiwa yang akan datang (misal Agabus dalam Kis. 11:28 dan 21:10,11), tapi pekerjaan utama nabi-nabi Kristen adalah mengajar. Dalam menjalankan tugas itu mereka ditolong dan diterangi oleh Roh Kudus.

Itu sebabnya, menjadi berbahaya jika nabi yang mengajar jemaat Kristen adalah nabi palsu, sebagaimana ditulis dalam Why 2:20: "wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku (yaitu orang Kristen).  Menggunakan bahasa dari Mat. 7:15, wanita Izebel ini "menyamar seperti domba." Ia menganggap dirinya sebagai orang Kristen, tapi membawa ajaran sesat.

Ini yang justru berbahaya.  Kalau ada orang yang terang-terangan menentang jemaat Kristen, maka kita mudah mengenali dan mewaspadai setiap perbuatannya.  Namun jika ada orang yang 'menyusup' ke dalam jemaat, maka kewaspadaan kita berkurang karena kita menganggapnya sebagai saudara seiman.  Seperti serigala yang menyamar sebagai domba, diam-diam dia menggerogoti dan menghancurkan jemaat. Dia menerkam 'domba-domba Allah' dengan leluasa.

Kita harus insaf bahwa sepanjang sejarah gereja muncul nabi-nabi palsu. Ingat saja tentang orang Anabaptis dengan khayalan-khayalannya di kota Munster pada zaman Luther.  Nabi-nabi palsu ada kemungkinan juga muncul di Indonesia.

Lalu bagaimana sikap kita? Kita harus bersikap kritis terhadap setiap ajaran.  Kritis itu berbeda dengan serba curiga.  Orang yang bersikap kritis tidak menelan mentah-mentah setiap ajaran yang diterimanya, tapi lebih dulu mengeceknya dari firman Tuhan.  Orang yang bersikap kritis memiliki pikiran terbuka.  Dia bersedia menerima ajaran yang baru atau meninggalkan keyakinan yang lama, asalkan itu sesuai dengan firman Tuhan. Dengan demikian, kita wajib menguasai pengetahuan tentang firman Allah.

Dalam perikop ini Yesus menamakan orang Kristen yang benar sebagai "sebatang pohon yang baik." Menurut ahli-ahli Perjanjian baru, istilah ini berarti bahwa seorang Kristen yang baik sudah mengalami perubahan yang mendasar/fundamental. Hati yang terbuka pada perkataan Kristus dan bagi Roh Kudus, adalah hati yang sudah mengalami perubahan asasi dan ingin hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Pohon yang ingin bertumbuh harus menyedot makanan dari sumber yang benar, yaitu firman Tuhan. Bukan dari sumber lain yang mematikan!

:::Purnawan (bahan dari Drs. J.J.de Heer, Tafsir Injil Matius)

0 komentar: