Tuhan Menyediakan

18 February 2008

Pada abad ke-17, seorang pengkhotbah Jerman bernama August H. Francke mendirikan panti asuhan bagi anak gelandangan di kota Halle. Suatu hari, ketika Francke sedang pusing memikirkan cara mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk panti asuhan itu, ada seorang janda Kristen miskin mendatangi dia. Dia meminta sumbangan sebesar satu Ducat, yaitu satu koin emas. Akan tetapi karena situasi keuangannya sedang kesulitan, dia dengan sopan menolak permintaan itu.

Mendengar penolakan itu, wanita menangis terisak-isak. Melihat air mata itu, hati Francke menjadi terharu. Dia lalu minta permisi sebentar untuk masuk kamarnya dan berdoa. Setelah mencari kehendak Tuhan, dia merasa mendapat bisikan dari Roh Kudus supaya memberikan uang pada wanita janda itu dan menyerahkan semua kebutuhannya pada Tuhan.

Dua minggu kemudian Francke menerima surat ucapan terimakasih dari janda itu. Dia menulis, karena kemurahan hati Francke, maka dia berdoa meminta Tuhan supaya mencurahkan berkat ke Panti Asuhan itu. Pada hari itu juga, Francke menerima 12 Ducat dari seorang wanita kaya dan 2 Ducat lagi dari temannya yang ada di Swedia. Dia merasakan Tuhan telah mengembalikan berkat berlipat-ganda dari uang yang dia berikan pada janda itu. Namun rupanya berkat itu belum berhenti. Francke mendapat kabar bahwa akan menerima sumbangan 500 batang emas dari pangeran Lodewyk Van Wurtenburg. Saat mendengar kabar itu, Francke bersyukur sambil menangis. Dengan berkorban bagi janda yang membutuhkan, ternyata dia mendapat berkat belipat-lipat.

Bantuan Pangan untuk Paderewski


Ada dua mahasiswa yang harus membiayai sendiri untuk kuliah di Leland Stanford University. Keuangan mereka menipis. Lalu muncul ide untuk menggelar pertunjukan resital piano oleh Jan Paderewski. Mereka berharap mendapat keuntungan dari pertunjukkan itu sehingga bisa membayar uang kuliah.

Manajer pianis itu meminta bayaran sebesar dua ribu dollar. Kedua mahasiswa itu lalu menyiapkan pentas itu. Di akhir pertunjukkan mereka menghitung uang yang didapat dari penjualan tiket masuk yang ternyata hanya terkumpul enam ratus dollar. Mereka lalu menemui musisi kawakan itu dan menyerahkan semua uang yang diperoleh. Mereka juga memberikan surat berhutang senilai seribu empat ratus dollar. Mereka berjanji segera membayar hutang, begutu mendapat uang.

"Tidak perlu," jawab Paderewski sambil merobek surat berhutang itu. Dia juga mengembalikan uang itu."Ambil kembali uang enam ratus dollar. Ambillah masing-masing sepuluh persen dari keuntungan yang didapat dari uang ini, untuk kalian. Sisanya nanti untuk saya,"

Tahun demi tahun berlalu, Paderewski menjadi orang nomor satu di Polandia. Lalu terjadilah perang yang menyengsarakan rakyat. Paderewski harus berjuang keras untuk menyediakan makanan bagi ribuan orang Polandia yang kelaparan. Untunglah ada seseorang yang menolong rakyat Polandia. Seorang dermawan dari Perancis mengirimkan ribuan ton makanan ke Polandia, dan masalah kelaparan pun teratasi.

Sebagai ucapan terimakasih, Paderewski pun berangkat ke Paris untuk menemui Herbert Hoover, sang dermawan itu. "Terimakasih kembali, bapak Paderewski,"jawab Hoover. "Mungkin Anda tidak ingat lagi, tapi Anda pernah menolong saya ketika saya masih menjadi mahasiswa."

Biografi Palsu

12 February 2008
Hudson Taylor adalah seorang misionaris yang dikagumi karena kegigihannya dalam menyebarkan Injil ke daratan China. Rupanya hal ini sempat membuat gerah pemerintah komunis China. Itulah sebabnya, mereka memberi perintah pada seorang penulis untuk menyusun biografi Hudson Taylor, tapi dengan tujuan untuk memalsukan fakta sehingga citra misionaris ini menjadi jelek. Mereka ingin mendiskreditkan nama Hudson Taylor.

Ketika sang pengarang mengumpulkan bahan-bahan dan mempelajari sejarah kehidupan Hudson Taylor, dia justru terkesan oleh karakter dan kesalehan misionaris ini. Dia menyadari bahwa tidak mungkin bisa memalsukan biografi orang yang punya kesalehan seperti itu. Dia kemudian mengambil keputusan yang bisa membahayakan hidupnya, yaitu menanggalkan keyakinan ateis dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Memimpin dengan Teladan

Ketika Jenderal George C. Marshall menjabat sebagai komandan di Sekolah Infantri di Fort Benning, di melihat kantornya yang dalam kondisi buruk. Dia bisa saja memerintahkan anak buahnya untuk memperbaiki tempat kerjanya itu. Tapi dia tidak melakukannya. Dia justru mengambil perkakas pertukangan dan memperbaiki sendiri kantornya. Setelah itu dia mengecatnya. Perwira lain yang melihat itu menjadi malu. Mereka lalu mengikuti jejak atasannya yaitu memperbaiki pos mereka sendiri. Tak lama kemudian Fort Benning terlihat lebih indah.
::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Malam Dana

Seorang pengkhotbah kenamaan, Dr. George W. Truett, diundang oleh sebuah jemaat pada acara pengumpulan dana untuk pembangunan gedung gereja. Mereka membutuhkan dana sebesar $6500. Dr. George W. Truett sendiri sudah menyumbang sebesar $3000, tapi nampaknya anggota jemaat lain masih enggan memberikan sumbangan. Dengan sedikit kecewa dia berkata, "Apakah kalian berharap saya menyumbang sebesar $3500, untuk menutupi kekurangannya? Saya di sini 'kan cuma tamu?"

Tiba-tiba, ada seorang wanita yang duduk di barisan belakang yang berdiri. Dia berpaling kepada suaminya yang duduk di balkon dan bertanya, "Charlie, setuju nggak jika kita mempersembahkan rumah kita? Kemarin kita berhasil menjualnya seharga $3500. Jika Juruselamat telah memberikan hidupnya bagi kita, mengapa kita juga tidak memberikan pengorbanan untuk Dia?"

Truett melihat bahwa suami wanita itu mengangguk tanda setuju,"Ya, Jennie, aku juga memikirkan hal yang sama."

Wanita itu lalu berpaling pada Truett, dia berkata, "Jika dibutuhkan, maka kami akan menyerahkan semua tabungan kami sebesar $3500." Selama beberapa saat suasana berubah menjadi sangat hening. Beberapa orang menangis terharu. Kemudian satu per satu jemaat mulai memberikan sumbangan. Dalam waktu singkat, dana yang dibutuhkan terpenuhi sehingga Charlie dan Jennie tidak perlu mengorbankan rumah mereka.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Jangan Sembarangan Meniru

Meniru perilaku seseorang secara mentah-mentah bisa menimbulkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Hal ini pernah dialami oleh orang-orang yang diundang makan malam oleh Presiden Coolidge di Gedung Putih.

Sebagai orang awam, mereka tidak tahu etiket di meja makan pada acara resmi. Karena itu mereka sepakat untuk menirukan semua yang dilakukan oleh tuan rumah. Semua berjalan lancar sampai ketika sajian kopi dihidangkan. Presiden Coolidge lalu menuangkan kopi ke atas piring lépék. Para tamu melakukan hal yang sama. Presiden menambahkan gula dan krim. Para tamu juga menirukan. Kemudian Presiden membungkukkan badan dan menyodorkan piring lépék itu pada kucing!

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Bendera di Puncak Gunung

Suatu hari di tahun 1909, sekelompok pekerja tambang di Alaska yang populer disebut "Sourdoughs" sedang bercengkerama di sebuah bar di Fairbanks. Mereka sedang membicarakan orang luar seperti Dr. Frederick Cook yang telah mendaki gunung McKinley. Mereka berdebat apakah tim ekpsedisi Cook berhasil sampai di puncak, atau tidak. Untuk mencari kepastian, maka mereka memutuskan untuk mendaki sendiri gunung itu untuk mencari buktinya.

Setelah cukup lama mendaki, ada tiga pekerja tambang yang meninggalkan base camp dan mulai berjalan ke puncak di sisi utara. Mereka membawa donat, temos yang berisi coklat panas dan bendera dengan tiang kayu setinggi 4,2 meter.

Ketika mereka kembali ke Fairbanks, tidak seorang pun yang percaya bahwa para pekerja tambang ini telah sampai di puncak gunung. Alasannya karena mereka tidak melihat tiang bendera yang dipancangkan oleh mereka. Akan tetapi pada bulan Juni 1913, ketika pendaki gunung profesional sampai di puncak gunung, mereka terkejut karena melihat sudah ada tiang bendera yang dipancangkan di situ, yaitu bendera yang dibawa oleh para "Sourdoughs" itu.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Hidangan Makanan dari Dukun

John G. Paton, adalah misionaris yang dikirim ke South Sea Islands, Australia. Dia sering menghadapi bahaya karena bekerja di antara suku Aborigin yang belum mendengar Injil. Pada suatu saat, ada tiga dukun yang mengaku punya kekuatan untuk membunuh seseorang. Mereka mengumumkan niat akan menggunakan ilmu santet untuk membunuh Paton pada hari Minggu berikutnya. Untuk melaksanakan niatnya itu, mereka membutuhkan sisa makanan Paton. Mendengar rencana itu, Paton minta tiga buah plum. Dia menggigit sebagian, lalu sisanya diberikan kepada tiga orang yang akan menyantet dia.

Pada hari Minggu, John Paton mendatangi desa itu dengan langkah ringan dan senyuman menghiasi wajahnya. Warga desa saling berpandangan seolah tidak percaya bahwa yang dilihatnya itu adalah sang misionaris. Para dukun itu akhirnya mengakui bahwa mereka telah mengerahkan segala ilmunya untuk membunuh Paton, tapi gagal. Ketika ditanya penyebab kegagalan, mereka menjawab bahwa sang misionaris itu juga punya kekuatan yang mereka miliki. Akan tetapi Tuhan yang dilayani Paton ternyata lebih kuat daripada sesembahan mereka.

Sejak saat itu pengaruh Paton semakin menguat, sehingga dia bisa mengenalkan Kristus pada penduduk desa itu.

Bila Tukang Cukur Ingin Bersaksi

Pendeta W. E. Sangster(1900-1960) yang melayani di gereja Queen St di Scarborough, Inggris memiliki anggota jemaat yang berprofesi sebagai tukang cukur. Sebagai orang Kristen, dia ikut terpanggil untuk bersaksi kepada pelanggannya. Akan tetapi karena tidak dilakukan dengan bijak, hasilnya justru menggelikan. Suatu hari ada seorang pria yang ingin mencukurkan jenggotnya. Setelah mengoleskan busa ke pipi orang itu, si tukang cukur ini lalu mengambil pisau cukur yang tajam. Dia mengerahkan pisau cukur ke dagu pelanggannya sambil bertanya, "Pak, apakah Anda sudah siap menemui Tuhan?"Kontan pelanggan itu lari terbirit-birit.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Kasih Sejati

Kita perlu mengabarkan Injil kepada seluruh manusia. Meskipun orang menolak Injil, kita harus tetap mengasihi dia. Hal ini pernah dialami oleh Ralph Neighbour, pendeta gereja Baptis di West Memorial, Houston. Dia melayani seseorang dengan tulus, tetapi orang itu tetap menolak keselamatan. Ralph Neighbour bercerita:

Jack adalah Direktur dari sebuah perusahaan yang besar. Ketika menderita sakit kanker, perusahaan tempat dia bekerja, mencampakkan dia. Untuk membiayai pengobatan, dia menghabiskan seluruh asuransi kesehatan, tabungan dan harta bendanya. Bersama salah satu diaken, saya mengunjunginya. Teman saya bertanya, "Jack, Anda sudah menceritakan hidup Anda. Saya ingin tahu, apakah Anda sudah menyiapkan kehidupan setelah kematian?"

Wajah Jack menjadi merah padam. Dia berdiri dan berkata dengan marah, "Dasar orang Kristen! Yang kalian pikirkan hanya apa yang terjadi setelah saya mati. Jika Tuhan kalian itu Mahabesar, mengapa Dia tidak melakukan sesuatu yang nyata dalam kehidupan sehari-hari!" Dia lalu terus mengomel karena terpaksa tidak bisa memberikan warisan pada istrinya dan meninggalkan tabungan untuk pendidikan anak perempuannya. Dia lalu mengusir kami.

Sampai di luar, Diaken mengajak saya untuk kembali lagi. Saya menuruti. "Jack, saya minta maaf jika telah menyinggung Anda," kata Diaken,"Tapi saya ingin Anda mengetahui bahwa kami telah berbuat sesuatu untuk keluarga Anda. Persoalan pertama adalah dimana keluarga Anda akan tinggal nanti setelah Anda meninggal. Seorang pemborong di gereja kami bersedia menjual rumah Anda dan memberikan komisinya pada istri Anda. Saya menjamin, jika Anda mengijinkan, kami akan membayar uang kontrakan sampai rumah itu terjual. Kemudian saya sudah menghubungi pemilik apartemen. Dia menawarkan ruangan dengan tiga tempat tidur beserta peralatannya dengan gratis. Dia juga menawarkan pekerjaan dengan gaji $850/bulan pada istri Anda. Yang harus dilakukan istri Anda adalah menagih uang sewa dan mengawasi perawatan pipa air dan listrik di apartemen itu. Hasil penjualan dari rumah Anda bisa dipakai untuk biaya kuliah anak Anda. Singkatnya saya ingin mengatakan bahwa kebutuhan keluarga Anda sudah kami urus."

Mendengar itu, Jack menangis terharu. Beberapa lama kemudian dia meninggal, sayangnya dia tidak mau menerima Kristus sebagai Juruselamatnya. Meski begitu, dia sempat merasakan kasih Tuhan meskipun dia tetap mengeraskan hatinya. Istri Jack yang sangat tersentuh oleh kepedulian orang Kristen akhirnya menerima Kristus.

D.L. Moody Bersaksi

Moody berjanji pada Tuhan bahwa setiap hari dia akan bersaksi, setidaknya pada satu orang. Suatu malam, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dia baru teringat bahwa belum bersaksi pada orang lain. Maka dia segera keluar rumah dan menemui seorang pria yang bersandar di sebuah tiang lampu jalan. "Apakah Anda orang Kristen?" tanya Moody. Tapi orang itu malah menjadi marah. Dia memukul Moody hingga terjerembab ke dalam selokan.

Beberapa hari kemudian, pria itu menemui majelis gereja dan mengeluh perilaku Moody. Menurutnya, Moody "melakukan hal yang lebih berbahaya bila dibandingkan dengan perbuatan baik 10 orang di Chicago." Menanggapi hal ini, majelis gereja lalu menegur D.L. Moody agar tidak terlalu gegabah dalam bersaksi.

Tiga bulan kemudian, saat menginap di YMCA, Moody dibangunkan oleh orang yang mengetuk pintu. Ternyata tamu itu adalah pria yang pernah diberi kesaksian oleh Moody pada malam itu. "Saya ingin berbincang-bincang soal jiwa saya," katanya kepada Moody. Dia meminta maaf atas perbuatan yang tidak menyenangkan yang dulu. Dia mengaku sejak malam itu dia menjadi gelisah. Moody lalu membimbing pria ini untuk mengenal Kristus. Pria ini kemudian menjadi pekerja yang rajin di dalam pelayanan Sekolah Minggu.

,

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Menginjili itu Gampang

Berikut ini adalah kisah Doug Nichols yang berusaha mengabarkan Injil di India. Mula-mula dia hampir frustasi karena gagal. Tapi dia berhasil menemukan cara untuk menyebarkan Kabar Baik itu. Doug bercerita:

"Saat melayani melalui Operation Mobilization di India tahun 1967, saya dirawat di sebuah sanitarium selama beberapa bulan karena menderita TBC (Tubercolosis). Setelah beberapa hari dirawat di sana, saya mencoba membagikan traktat pada pasien, dokter dan perawat, tapi tidak seorang pun yang mau menerima. Mereka tampaknya tidak suka pada orang Amerika kaya tapi dirawat di sanatorium milik pemerintah (mereka menganggap semua orang Amerika itu kaya). Mereka tidak tahu bahwa dengan melayani di O.M., saya sama miskinnya dengan mereka.

Saya menjadi sedih tidak punya kesempatan bersaksi karena hambatan bahasa dan tak ada orang yang mau menerima traktat atau Injil Yohanes.

Suatu malam, saya terbangun jam 2 pagi karena terbatuk-batuk. Ketika bermaksud meludahkan dahak, saya melihat ada pasien yang sudah tua di barisan ranjang seberang berusaha bangun dari tempat tidurnya juga. Dia ingin bangun dan berdiri di sisi tempat tidurnya, tetapi karena tubuhnya terlalu lemah, dia terjatuh lagi di tempat tidurnya. Saya tidak begitu mengerti apa yang akan dia lakukan. Dia akhirnya terbaring lagi karena kelelahan. Saya lalu mendengar dia menangis lirih.

Pagi harinya, saya baru mengetahui apa yang akan dilakukan pria itu. Dia sebenarnya hanya ingin berjalan ke kamar mandi! Akan tetapi karena sakit dan kelemahan tubuhnya, dia tidak bisa melakukan itu. Akibatnya karena tidak tahan lagi di buang air tempat tidur.

Begitu fajar, suasana di bangsal kami segera ribut. Pasien-pasien lain mengeluh dan mengomel-ngomel karena mencium bau yang tak sedap itu. Para perawat menjadi jengkel pada pria tua itu karena mereka harus membersihkan kotoran itu. Mereka memindahkan pria lemah itu dengan kasar. Bahkan seorang perawat menjadi sangat marah sehingga menampar wajahnya. Pria itu terlihat sangat malu dan terpukul. Dia hanya menundukkan kepala sambil menangis.

Keesokan malamnya, kira-kira jam 2 pagi, saya kembali terbangun karena terbatuk-batuk. Saya melihat pak Tua itu berusaha bangun lagi untuk ke kamar mandi. Sekali lagi, dia juga tidak kuat berdiri. Sama seperti Anda, saya juga tidak suka pada bau tidak sedap itu. Sebenarnya saya enggan terlibat jauh karena saya sendiri juga menderita sakit. Akan tetapi setelah melihat kejadian tadi pagi, maka saya turun dari tempat tidur dan menghampiri tempat tidurnya. Dia sedang menangis sendirian dan tidak menyadari kalau saya mendatangi dia. Saya menyentuh bahunya. Dia menatap saya. Saya hanya tersenyum lalu membopong tubuhnya.

Meskipun saya juga menderita sakit dan lemah, tapi saya jelas lebih kuat daripada dia. Lagipula, tubuhnya juga sangat ringan karena cukup lama menderita sakit TBC. Saya membawanya ke kamar mandi. Setelah, dia selesai membersihkan dirinya, saya kembali membopongnya ke tempat tidurnya. Saya membaringkan dia. Dia mencium pipi saya dan berkata sesuatu, sepertinya mengucapkan terimakasih.

Yang mengejutkan adalah apa yang terjadi di beberapa jam kemudian. Pasien lain yang belum saya kenal membangunkan saya pukul empat pagi, sambil membawa secangkir teh India yang hangat. Dia melakukan gerakan tangan (dia tidak bisa berbahasa Inggris), membuat isyarat bahwa dia meminta traktat yang saya tawarkan dulu. Saat matahari terbit, pasien-pasien lain mulai berdatangan. Mereka juga minta traktat. Seharian itu semakin banyak orang yang minta traktat dan Injil Yohanes. Mereka yang meminta ini termasuk perawat, pegawai administrasi, dan dokter. Beberapa hari kemudian, beberapa orang membuka hatinya pada Kristus sebagai Juruselamat setelah membaca Kabar Baik itu.

Apa yang dibutuhkan untuk menyampaikan Kabar Baik pada orang-orang ini? Yang jelas bukanlah kesehatan tubuh. Bukan juga kemampuan berbicara atau kecakapan intelektual untuk berdebat.Saya hanya membantu menolong pak tua ini. Semua orang juga bisa melakukan itu."

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Lolos dari Kejaran Suku Indian

John Colter adalah salah satu anggota dari tim ekspedisi yang dipimpin oleh Lewis and Clark. Pada zaman koboy, tim ini melakukan perjalanan yang sangat berbahaya ke wilayah bagian Barat dari Amerika.

Suatu hari, John Colter dan temannya sedang memeriksa perangkap dengan memakai kano di sungai Missouri River. Tanpa sadar dia terlalu jauh memasuki wilayah kekuasaan suku Indian Blackfoot. Mereka segera disergap oleh prajurit suku Indian. Teman John Colter terbunuh ketika dia berusaha kabur, tapi John Colter tertangkap.

Prajurit suku Indian menelanjangi pakaian dan sepatu John lalu menggelandangnya ke sebuah lembah. Mereka sengaja melepaskan John, setelah menunggu beberapa saat, para prajurit Indian segera memburunya. Kisah pelariannya ini lalu menjadi legenda. Dia berjalan selama 11 hari: mendaki gunung, melintasi lembah, dan bersembunyi di hutan. Jika dihitung jaraknya, dia menempuh perjalanan sepanjang 480 kilometer untuk meloloskan diri dari kejaran musuh.

Dipenjara Nafsunya Sendiri

Sejarah yang ditulis Thomas Costain dalam buku, The Three Edwards, menceritakan kisah Raynald III, bangsawan abad ke-14 di Belgia. Raynald memiliki berat badan yang luar biasa, sehingga sering diujuluki "Crassus". Kata ini berasal dari bahasa Latin yang berarti "gendut."

Suatu kali, Raynald bertengkar hebat dengan Edward, adiknya, yang kemudian berbuntut menjadi pemberontakan. Edward berhasil menangkap Raynald tetapi tidak membunuhnya. Dia menempatkan kakaknya di sebuah ruangan di kastil Nieuwkerk. Edward berjanji akan mengembalikan harta dan jabatan Raynald jika dia bisa keluar dari ruangan itu.

Bagi kebanyakan orang, hal ini tidak sulit dilakukan karena ruangan itu memiliki satu pintu dan beberapa jendela dalam ukuran yang normal. Bahkan pintunya pun tidak pernah ditutup atau dikunci.

Masalahnya adalah ukuran tubuh Raynald yang luar biasa besar. Dia tidak bisa melewati lubang pintu itu. Supaya bisa menikmati kebebasan, maka Raynald harus menurunkan berat badannya. Tapi Edward tidak kehilangan akal. Dia sangat mengenal tabiat kakaknya. Setiap hari dia memberikan makanan yang lezat-lezat kepada kakaknya itu. Akibatnya, alih-alih berdiet, badan Raynald malah semakin gemuk.

Jika ada orang yang mengecam Edward karena tindakannya ini, dia sudah punya jawaban: "Kakak saya bukan tahanan, kok. Dia boleh pergi kapan saja dia mau." Tapi itu sama saja bohong.

Raynald tinggal di ruangan itu selama 10 tahun dan baru dibebaskan setelah Edward tewas dalam sebuah pertempuran. Akan tetapi karena kondisi ksehatannya yang semakin memburuk, setahun kemudian dia menyusul kematian adiknya.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Memintakan Ampun Bagi Musuh

Kisah ini terjadi di Amerika pada zaman perang revolusi. Peter Miller adalah pendeta di Ephrata, Pennsylvania, yang menjalin persahabatan dengan George Washington. Di Ephrata ini ada seorang warga yang melakukan apa saja untuk menentang dan menghina Peter Miller. Namanya Michael Wittman.

Suatu hari, Michael Wittman ditangkap karena dituduh bertindak subversif dan dijatuhi hukuman mati. Mengetahui hal ini, Peter Miller berjalan kaki sejauh 112 kilometer ke Philadelphia untuk menyelamatkan nyawa "penentangnya" ini.

"Tidak, Peter," kata jenderal Washington menanggapi pemintaan Peter, "saya tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk menyelamatkan nyawa temanmu itu."

"Temanku? Siapa bilang dia temanku!" sahut pendeta tua itu. "Dia adalah musuh bebuyutanku."

"Apa?" kata Washington dengan kaget. "Kamu berjalan kaki sepanjang 112 kilometer hanya untuk menyelamatkan nyawa musuhmu?" Seketika itu juga pendirian Washington berubah. Dia memberikan pengampunan kepada Michael Wittman dari hukuman mati.

Peter Miller lalu mengajak Michael Wittman pulang ke Ephrata-bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai teman.