Selalu Waspadalah!

26 March 2008


Pembalap Argentina, Juan Manuel Fangio selamat dari kecelakaan pada balapan Grand Prix di Monaco (1950) karena dia cermat dalam melihat ketidak-beresan. Setelah putaran pertama, ketika dia akan melewati tikungan yang rawan kecelakaan untuk kedua kalinya, dia memperhatikan ada yang aneh. Dia melihat wajah para penonton tidak melihat ke arah mobilnya, namun berpaling ke arah lain.

"Jika mereka tidak melihat saya, pasti mereka melihat sesuatu yang lebih menarik di tikungan itu," demikian pikir Fangio. Maka dia memutuskan untuk mengurangi gas, menginjak pedal rem dan berbelok di tikungan dengan hati-hati. Keputusannya sangat tepat karena setelah belokan, jalur balap itu dipenuhi benda-benda yang berserakan akibat tabrakan kecelakaaan sebelumnya.

Peluru Kendali dari Sahabat


Dalam perangan antara Inggris vs Argentina memperebutkan kepulauan Falkland (1982), kapal perang Inggris, "HMS Sheffield" yang berobobot mati 3.500 ton, tenggelam oleh rudal yang ditembakkan pesawat jet Argentina.

Ini membuat heran banyak orang karena kapal perang modern ini sangat rawan terhadap serangan peluru kendali yang canggih. Penelitian lebih lanjut menyingkapkan misteri ini. Ternyata sistem pertahanan di kapal itu sebenarnya sudah mengetahui tentang datangnya serangan rudal itu. Komputer di kapal itu mengenalinya sebagai rudal Exocet buatan Perancis. Namun karena komputer itu sudah diprogram untuk menganggap Exocet sebagai rudal yang "bersahabat", maka komputer itu mengabaikan datangnya serangan itu. Akibatnya sungguh fatal.

Beberapa orang sebenarnya mengetahui bahwa perbuatan dosa itu sangat berbahaya. Akan tetapi karena mereka "memprogram" untuk menganggap "ruda dosa" itu sebagai "sahabat", maka akibatnya sungguh fatal.

Warna Bendera

25 March 2008

Sebuah kereta melaju pelan karena bermuatan penuh berisi pelajar-pelajar yang baru pulang dari sekolah. Karena kebanyakan penumpang, kereta ini tidak bisa berjalan dengan kecepatan penuh. Padahal kereta ini berjalan di jalur yang padat. Dengan kecepatan seperti itu, kereta ini bisa ditabrak oleh kereta lain dari belakang yang melaju dengan kecepatan lebih tinggi. Karena itu, pengawas di stasiun memerintahkan seorang petugas memberi peringatan pada masinis. Petugas melaksanakan tugas dengan melambaikan bendera pada masinis.

Karena merasa semuanya berjalan normal, para penumpang asyik bercakap-cakap sehingga suasana menjadi gaduh. Tiba-tiba terdengar bunyi peluit kereta api lain yang segera disusul dengan tabrakan yang dahsyat. Akibatnya sungguh mengenaskan.

Masinis dan petugas yang membawa bendera itu berhasil menyelamatkan diri dengan meloncat dari kereta sebelum tabrakan terjadi. Beberapa hari kemudian mereka diajukan ke muka pengadilan. Di dalam pemeriksaan di pengadilan, sang masinis ditanya,"Apakah Anda tidak melihat petugas melambaikan bendera sebagai tanda bahaya?"

Masinis menjawab, "Ya, saya melihatnya tapi dia melambaikan bendera kuning. Itu artinya keadannya aman sehingga saya tetap melanjutkan perjalanan kereta."

Petugas yang melambaikan bendera dipanggil."Bendera apa yang Anda lambaikan?" tanya hakim.

"Bendera merah"

"Apakah Anda yakin itu bendera merah?"

"Sangat yakin."

Kedua orang ini tetap ngotot mempertahankan pengakuannya masing-masing sehingga muncul dugaan salah satu dari orang ini mengalami buta warna. Hakim lalu menyuruh petugas untuk menunjukkan bendera yang dikibarkan sebagai barang bukti. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya misteri itu terpecahkan. Rupanya karena terlalu sering terpapar hujan dan panas, warna merah dari bendera itu menjadi luntur dan berubah menjadi kuning kusam.

Kaya tapi Pelit

John G. Wendel dan saudara perempuannya mungkin termasuk orang yang sangat menderita. Meskipun menerima warisan yang besar dari orangtua, tetapi mereka hanya memakainya sedikit sekali. Mereka berusaha menghemat pengeluaran untuk menjaga jumlah kekayaan mereka.

John berhasil meyakinkan kelima saudara perempuannya supaya mereka tidak menikah dan tinggal bersama di sebuah rumah di kota New York City selama 50 tahun. Ketika orang terakhir dalam keluarga itu meninggal tahun 1931, kekayaannya ditaksir lebih dari $100 juta. Dia meninggal dengan mengenakan baju yang dibuatnya sendiri, dan itu adalah satu-satunya baju yang dipakainya selama 25 tahun.

Saran yang Bijaksana


Sekitar tahun 512 S.M., ketika Darius I, raja dari Persia memimpin tentaranya sebelah utara Laut Hitam. Bangsa Scythia mengirim pesan kepadanya berupa seekor tikus, seekor katak, seekor burung dan lima anak panah. Darius lalu memanggil kaptennya. "Kemenangan kita sudah pasti," kata Darius ,"anak panah ini melambangkan bahwa bangsa Scythia akan meletakkan senjata mereka, katak melambangkan air dan danau, tikus melambangkan tanah yang akan menjadi milik kita, dan tentara mereka akan kabur seperti burung terbang."

Akan tetapi penasehat Darius memiliki pandangan lain. Dia berkata, "bangsa Scythia mengirimkan benda ini untuk memberikan pesan bahwa jika Anda tidak berlaku seperti burung yang terbang tinggi, atau katak yang bersembunyi dalam air, atau tikus yang bersembunyi di dalam liang tanah, maka Anda akan dibantai oleh pemanah-pemanah bangsa Scythia."

Darius mendengar kata-kata penasehatnya. Dia menilai tafsirannya benar sehingga dia lalu memerintahkan pasukannya untuk berbalik.

Bocah itu Mendengar Lonceng

Di dalam film serial"Focus on the Family," dikisahkan seorang bocah keturunan Afrika-Amerika (5 tahun) menderita sakit kanker paru-paru. Sel kanker sudah berada pada stasdium terakhir. Paru-parunya dipenuhi air yang membuatnya kesulitan untuk bernapas. Sungguh penderitaan yang amat berat, terutama bagi seorang bocah kecil.

Ibu dari bocah laki-laki ini adalah seorang penganut Kristen yang saleh dan sangat menyayanginya. Dia selalu mendampinginya melewati masa-masa yang menyakitkan. Dia sering meletakkan kepala anaknya di pangkuannya sambil menceritakan tentang kasih Tuhan. Tanpa disadari, sang ibu ini sedang menyiapkan anaknya untuk memasuki gerbang keabadian.

Menjelang akhir hidupnya, sang anak berkata pada ibunya bahwa dia mendengar lonceng. "Loncengnya berbunyi, Mama,"katanya,"saya bisa mendengarnya."

Ibunya memberitahukan hal ini pada perawat. Namun perawat menganggap anak itu sedang mengalami halusinasi akibat sakit yang dia rasakan. Perawat meninggalkan ruangan itu. Beberapa menit kemudian kembali lagi untuk memeriksa. Ternyata anak itu tetap mengatakan kalau mendengar suara lonceng.

Perawat berkata pada ibunya,"Saya yakin kalau anak Anda mendengar bunyi-bunyian yang sebenarnya tidak ada. Dia sedang berhalusinasi karena sakitnya ini." Sang ibu menarik anaknya hingga dekat ke pipnya lalu berkata sambil tersenyum, "Saya yakin tidak begitu. Dia tidak sedang berhalusinasi. Saya pernah berkata kepadanya bahwa jika merasa takut--saat itu dia kesulitan bernapas--maka saya memintanya untuk mendengar dengan cermat. Saya mengatakan bahwa dia akan mendengar bunyi lonceng dari sorga. Itulah yang sebenarnya dia maksudkan saat ini."

Anak ini sebelum akhirnya meninggal di atas pangkuan ibunya, terus-menerus berkata bahwa mendengar bunyi lonceng dari sorga dan bahwa malaikat telah menjemput dia. Sungguh anak yang pemberani.

Keadilan Versi Andrew Carnegie


Seorang penganut paham sosialis menemui Andrew Carnegie. Segera saja dia mengecam kekayaan yang dimiliki Andrew Carnegie, yang dia sebut sebagai salah satu bentuk dari ketidak-adilan. Menurut pahamnya, kekayaan itu harus dibagi sama rata.

Carnegie lalu minta sekretarisnya untuk menghitung kekayaannya. Sementara itu, Andrew Carnegie lalu mencari data angka jumlah penduduk dunia. Dia lalu menghitung-hitung di atas kertas lalu berkata pada sekretarisnya, "Berikan uang sebanyak l6 sen pada pria ini. Itulah bagian dia dari kekayaan saya."

Post It!

10 March 2008

Perusahaan 3M mendorong pada karyawannya untuk mengembangkan kreativitas mereka. Perusahan ini mengizinkan para penelitinya untuk memakai waktu sebanyak 15 persen dari jam kerja untuk mengerjakan penelitian yang menarik minat mereka.

Kebijaksanaan ini tidak hanya menyenangkan karyawan, yang lebih lagi justru sangat menguntungkan perusahaan itu sendiri. Seringkali terjadi ide yang muncul dari karyawan ini meningkatkan laba perusahan berlipat ganda.

Art Fry, salah satu karyawan perusahaan 3 M juga memanfaatkan 15 persen untuk waktu kreatif ini. Bermula dari kejengkelannya pada setiap hari Minggu ketika dia menyanyi sebagai anggota paduan suara gereja. Dia sering menyelipkan kertas-kertas kecil di antara buku lagu pujian untuk memberi tanda lagu-lagu yang akan dinyanyikan.. Namun yang menjengkelkan, kertas-kertas kecil ini sering berhamburan di lantai.

Tiba terlintas sebuah ide cemerlang. Dia ingat sebuah lem amplop yang ditemukan oleh teman sekerjanya. Semua orang menganggap temuan itu gagal karena lem itu kurang merekat kuat. "Saya lalu mengoleskan lem itu ke atas kertas," kata Fry sambil mengingat kejadian itu, "dan saya menemukan bahwa kertas ini tidak hanya bisa menjadi penanda buku yang baik, tapi juga bisa dipakai untuk menulis pesan singkat. Kertas ini bisa menempel lama, dan ketika kita melepaskannya, dia tidak meninggalkan bekas atau merusak bekas tempelannya." Temuan Art Fry yang dinamai "Post-it!" ini menjadi salah satu produk 3M yang paling mendatangkan keuntungan.

Dari Lilin Menjadi Sabun


Tahun 1879, produk terlaris yang dihasilkan oleh perusahaan Procter and Gamble adalah lilin. Namun ketika Thomas Alva Edison menemukan bola lampu pijar, perusahaan ini mengalami masalah. Penjualan lilin mengalami kemorosotan tajam karena banyak orang yang beralih ke alat penerang baru yang bebas asap itu. Orang hanya membeli lilin untuk keperluan tertentu.

Masa depan perusahaan ini tampaknya sangat suram. Namun sebuah "kecelakaan kerja" telah menjadi titik balik yang menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan. Suatu kali ada karyawan di pabrik Cincinnati yang kelupaan mematikan mesin ketika mereka beristirahat makan siang. Akibatnya? Terjadi adonan berbusa-busa yang meluap dan penuh dengan gelembung-gelembung udara. Mulanya karyawan ini berencana membuang adonan ini karena merasa kesal. Namun sebelumnya dia mencoba untuk membuat sabun dari adonan itu. Hasilnya adalah sabun yang bisa mengambang di air. Maka lahirlah produk yang bernama sabun Ivory, yang kemudian menjadi produk andalan Procter and Gamble.

Mengapa sabun yang bisa mengapung menjadi laris saat itu? Pada masa itu, beberapa orang di Cincinnati masih mandi di sungai Ohio. Dengan menggunakan sabun yang bisa mengapung, maka mereka tidak akan kehilangan sabun lagi ketika terlepas dari genggaman. Itulan sebabnya sabun Ivory menjadi sabun terlaris di Ohio, yang kemudian merambah ke seluruh negeri Amerika.

Jangan pernah menyerah, saat menemui masalah. Kreativitas bisa mengubah masalah menjadi berkah yang melimpah.

Ide Sepuluh-Sen


Saat F. W. Woolworth masih muda, dia menjadi penjaga toko. Dia memberikan usul pada bos-nya untuk menjual semua barangnya dengan harga yang sama yaitu sepuluh sen. Tujuannya untuk menghabiskan stok di gudang. Bos-nya setuju dan ternyata sukses besar.

Keberhasilan ini memberi inspirasi Woolworth untuk membuka toko sendiri yang menjual produk seharga lima sen dan sepuluh sen. Namun dia kekurangan modal. Karena itu dia mengajak bosnya untuk menyuplai barang, sebagai penyertaan modal bagi usahanya. Kali ini bos-nya menanggapi dengan dingin. "Tidak banyak barang yang bisa dijual dengan harga lima sen dan sepuluh sen."

Woolworth tidak menyerah. Dia melanjutkan usahanya meskipun tanpa dukungan dari bos-nya. Ternyata dia tidak hanya sukses membuka satu toko. Setelah melalui kerja keras, dia berhasil memiliki jaringan toko di seluruh negara Amerika. Beberapa waktu kemudian, saat melihat keberhasilan F. W. Woolworth, mantan bosnya mengakui dengan pahit,"Sepanjang saya ketahui, setiap kata yang saya pakai untuk membuat Woolworth patah semangat, saya justru mengalami kerugian jutaan dollar."

Digaji untuk Berpikir

Henry Ford menyewa pakar efisiensi untuk menilai tingkat efisiensi di pabriknya. Dia berkata, "Carilah karyawan yang tidak produktif. Katakan siapa namanya, maka saya akan memecat dia!"

Pakar itu lalu berkeliling pabrik sambil membawa catatan. Beberapa saat kemudian dia kembali ke kantor Henry Ford untuk memberi laporan.

"Saya menemukan masalah di salah satu karyawan administrasi Anda," katanya,"setiap kali saya melintas di dekatnya, dia sedang duduk sambil mengangkat kakinya ke atas meja. Pria ini tidak pernah mengerjakan apa-apa. Saya sangat menyarankan Anda untuk menyingkirkan orang ini."

Saat Henry Ford diberitahu namanya, dia menggelengkan kepala, sambil berkata, "Saya tidak bisa memecatnya. Saya menggaji orang ini hanya untuk berpikir. Memang pekerjaannya seperti itu."

Makanya, jangan terlalu cepat menghakimi seseorang. Tuhan saja baru menghakimi manusia pada akhir zaman nanti.

Antara Wrangler dan Strangler

Di Universitas Wisconsin terdapat kelompok brilian yang dibentuk oleh mahasiswa yang memiliki talenta tinggi dalam tulis-menulis. Mereka adalah para penulis puisi, novel dan essay. Mereka memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang luar biasa. Anak-anak muda yang punya masa depan cerah ini memiliki jadwal pertemuan secara teratur. Agendanya adalah saling mengritik. Di dalam pertemuan ini mereka biasa mengritik karya orang lain dengan tajam. Mereka berusaha menguliti karya orang lain tanpa ampun. Pertemuan itu menjadi "arena pembantaian" karya-karya sastra. Ada semacam kebangga pribadi jika bisa menjatuhkan karya orang lain. Klub ekslusif ini dinamakan "Strangler" alias "Pencekik".

Di kampus yang sama, juga terdapat kelompok yang anggotanya adalah para mahasisiwi yang juga punya talenta besar di bidang tulis-menulis. Organisasi ini menjadi semacam pesaing dari Stranglers. Itulah sebabnya, nama kelompok ini pun sengaja dibikin mirip, yakni "Wranglers" alias "Pendebat." Mereka juga saling membaca karya anggota lain. Namun terdapat perbedaan besar di antara dua kelompok. Kritik yang dilontarkan oleh kelompok wanita ini lebih lunak, positif dan memberi dorongan semangat. Bahkan kadangkala tidak ada kritik sama sekali. Karya yang paling jelek sekalipun tidak pernah dikecam, tetapi diberi saran untuk perbaikannya.

Dua puluh tahun kemudian, seorang alumnus universitas ini mengadakan penelitian karier yang dicapai oleh teman seangkatannya. Dia menemukan perbedaan prestasi antara kelompok Strangler dan Wrangler. Di antara anggota kelompok Strangler tidak satu pun yang berhasil menjadi penulis yang sukses. Sedangkan di antara kelompok Wrangler, ada enam orang yang menjadi penulis sukses, beberapa orang di antara adalah penulis ternama seperti Marjorie Kinnan Rawlings, yang menulis "The Yearling".

Talenta yang dimiliki oleh anggota di antara kedua kelompok ini hampir sama. Ilmu yang diajarkan juga tidak berbeda. Perbedaanya, mahasiswa di dalam kelompok Strangler saling "mencekik", tapi para mahasiswi di kelompok Wrangler memilih untuk saling mendorong.

Istri yang Iri Hati


Samuel Beckett adalah seorang penulis novel dan naskah drama yang terkenal di Irlandia. Meski begitu ada seorang yang tidak mengagumi dia, yaitu Suzanne, istrinya sendiri. Pernikahan Beckett justru dibumbui dengan kepahitan karena sikap istrinya yang sangat iri seiring dengan kesuksesan suaminya sebagai penulis.

Suatu hari di tahun 1969, Suzanne menerima telepon. Dia mendengar sebentar, berbicara singkat, lalu menutup telepon. Dia berpaling pada Beckett dengan wajah tidak senang, dan berkata lirih, "Wah, bencana besar!" Mengapa dia berkata begitu? Apakah dia baru saja menerima kabar buruk? Ternyata tidak. Dia baru saja mendapat kabar bahwa Beckett menerima penghargaan Nobel untuk karya Sastra!

Gadis yang Mengeraskan Hatinya

Seorang wanita muda yang dibesarkan di dalam keluarga Kristen dan selalu diberi pesan tentang perlunya persiapan menyambut kedatangan Kristus.. meski begitu, dia memilih untuk memilih gaya hidup dunia. Bertentangan dengan ibunya yang saleh, gadis ini hidup hura-hura dari satu pesta ke pesta lain.Meski berkali-kali diingatkan agar berpaling kepada Kristus, tetapi dia tetap mengeraskan hatinya.

Hingga akhirnya dia menderita sakit yang serius. Semua ilmu kedokteran telah dicoba tetapi hasilnya tetap nihil. Kondisinya malah semakin memburuk. Bayangan kematian sudah terlihat di wajahnya. Meski begitu, dia tetap menolak untuk meminta pengampunan dosa pada Tuhan.

Tiba-tiba dia terbangun di tengah malam dengan wajah ketakutan. Dengan suara bergetar dia bertanya mada ibunya, "Apa itu Yehezkiel 7:8-9?"

"Apa maksudmu?", tanya ibunya.

Anaknya menjawab bahwa dia baru saja bermimpi yang jelas sekali. Menurutnya, dia merasa ada yang datang ke ruangan dan berkata dengan amat jelas, "Bacalah Yehezkiel 7:8-9." Karena tidak hapal ayat itu, maka ibunya mengambil Alkitab dan mencari ayat yang dimaksud. Saat membacanya dalam hati, dia menjadi kaget. Meski begitu, dia tetap membacakan untuk anaknya yang sudah menjelang ajal: "Sekarang dengan segera Aku akan mencurahkan amarah-Ku atasmu dan melampiaskan murka-Ku kepadamu, Aku akan menghakimi engkau selaras dengan tingkah lakumu dan membalaskan kepadamu segala perbuatan-perbuat yang keji. Aku tidak akan merasa sayang dan tidak akan kenal belas kasihan; selaras dengan tingkah lakumu akan Kubalaskan kepadamu dan perbuatan-perbuatanm yang keji akan tertimpa atasmu. Maka kamu akan mengetahui, bahwa Aku, Tuhanlah, yang memusnahkan. (Yehezkiel 7:8-9)"

Giliran sang anak yang terkejut. Wajahnya mendadak menjadi pucat. Dia membenamkan wajahnya dalam-dalam ke dalam guling dan menangis terisak-isak. Tak berapa lama kemudian dia berada di keabadian.

Keinginan Seorang Penderita Kanker

Dalam sebuah acara konferemsi untuk para pendeta di Spokane, Chuck Swindoll diminta untuk berkhotbah di perkemahan Kristen California. Pada hari pertama ada seorang pria mendatanginya untuk mengatakan betapa dia sangat ingin mendengar khotbah Dr. Swindoll secara langsung. Sekarang dia senang karena akhirnya bisa mewujudkan keinginannya itu.

Malamnya, Swindoll memperhatikan pria itu duduk di barisan terdepan. Namun baru beberapa menit berkhotbah, pria itu tertidur. Swindoll mengira mungkin orang ini terlalu letih setelah seharian menempuh perjalanan panjang. Akan tetapi hal yang sama terulang kembali pada malam-malam berikutnya. Hal ini sangat mengganggu perasaan Swindoll.

Pada malam terakhir, istri pria ini menemui Swindoll untuk meminta maaf atas kelakuan suaminya. Dia lalu menjelaskan bahwa suaminya didiagnosa dokter menderita sakit kanker stadium akhir. Untuk meringankan penderitaan akibat rasa sakit, dokter memberi obat yang membuatnya mengantuk. Suaminya ini memiliki ambisi besar untuk mendengar khotbah Dr. Swindoll secara langsung sebelum dia meninggal. Kini keinginannya sudah terkabul.