Membeli Mukjizat

08 November 2007

Tess (8 tahun) mendengar Ayah dan Ibunya membicarakan keadaan Andrew, adiknya yang sakit. Mereka tidak punya uang lagi. Bahkan bulan depan lagi mereka harus keluar dari apartemen karena menunggak pembayaran sewa.

     Andrew harus dioperasi, tapi biayanya sangat mahal. Keluarga  itu sudah tidak tahu siapa yang bisa dipinjami uang lagi. Tess mendengar Ayahnya berkata kepada Ibunya yang sedang menangis, "hanya mukjizat yang bisa menyelamatkan anak kita."

     Tess lalu pergi ke kamarnya. Dia membuka celengannya dan mengeluarkan semua uang logam yang ada di dalamnya. Dia menghitungnya dengan cermat. Setelah itu dia memasukkan seluruh uang koin itu ke dalam topi dan diam-diam menyelinap pergi ke luar rumah.

     Dia berjalan menuju apotik "Rexal" yang memasang gambar Kepala Suku Indian di atas pintunya. Dia menunggu dengan sabar, tetapi rupanya apotiker tidak memperhatikannya karena terlalu sibuk.

     Tess mengetuk-ketukan sepatunya ke lantai, tapi sang apotiker tetap diam saja. Dia lalu berdehem, tapi tidak ada hasil juga. Tess lalu menuangkan semua uang logamnya ke etalase yang terbuat dari kaca.  Suara gemerincing uang logam itu akhirnya menarik perhatian penjaga apotik.

     "Kamu ingin apa?"tanya apotiker dengan suara agak jengkel. "Adik saya sekarang ada di Chicago. Dia sakit parah. Saya ingin membeli mukjizat," kata Tess.

     "Kamu ingin beli, apa?" tanya apotiker agak bingung

     "Ada sesuatu di kepala Andrew yang membuatnya sakit. Kata Ayah, hanya mukjizat yang bisa menyelamatkan dia. Berapa harga mukjizat?"

     "Adik kecil, kami tidak menjual mukjizat," kata apotiker dengan suara lembut.

     "Dengar, saya punya uang. Saya akan membayarnya. Jika masih kurang, saya akan menambahi nanti. Tolong katakan, berapa harganya?"

 

     Rupanya percakapan itu didengar adik apotiker itu. Pria itu berlutut di dekat Tess dan bertanya, "Mukjizat seperti apa yang dibutuhkan adikmu?"

     "Saya tidak tahu," jawab Tess "Yang saya tahu, dia sakit parah. Kata Ibu, dia harus dioperasi. Tapi Ayah sudah tidak punya uang. Jadi saya pakai uang tabungan saya."

     "Berapa yang kamu punya?" tanya pria itu.

     Dengan suara yyang hampir tidak terdengar, Tess menjawab," Satu dollar sebelas sen. Cuma ini yang saya punya. Tapi saya akan cari lagi kalau masih kurang."

     "Wah kebetulan," sahut pria itu sambil tersenyum. "Harga mukjizat itu memang satu dollar sebelas sen."

     Pria itu lalu menerima uang, lalu menggandeng tangan Tess. "Antarkan saya ke rumahmu. Saya ingin ketemu orang tuamu. Saya ingin mengetahui mukijizat jenis apa yang dibutuhkan adikmu."

     Pria yang menggandeng Tess itu bernama Dr. Carlton Armstrong. Dia adalah seorang dokter spesialis bedah syaraf.

     Tak berapa lama, Andrew menjalani operasi yang berjalan sukses. Biayanya gratis. Beberapa hari kemudian, Andrew diperbolehkan pulang. Ayah dan Ibunya membicarakan kejadian yang mengherankan itu. "Operasi itu benar-benar mukjizat.  Saya tidak tahu, berapa biayanya kalau kita harus membayar?"

     Tess hanya tersenyum. Biayanya hanya satu dollar sebelas sen, plus iman anak kecil!

.........................................................................................................
Karena Anda telah diberkati oleh kisah-kisah ini, sekarang giliran Anda memberkati penulis blog ini dengan mengklik iklan-iklan Google yang dipasang di blog ini. Terimakasih.

0 komentar: