Jangan Sembarangan Meniru

12 February 2008
Meniru perilaku seseorang secara mentah-mentah bisa menimbulkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Hal ini pernah dialami oleh orang-orang yang diundang makan malam oleh Presiden Coolidge di Gedung Putih.

Sebagai orang awam, mereka tidak tahu etiket di meja makan pada acara resmi. Karena itu mereka sepakat untuk menirukan semua yang dilakukan oleh tuan rumah. Semua berjalan lancar sampai ketika sajian kopi dihidangkan. Presiden Coolidge lalu menuangkan kopi ke atas piring lépék. Para tamu melakukan hal yang sama. Presiden menambahkan gula dan krim. Para tamu juga menirukan. Kemudian Presiden membungkukkan badan dan menyodorkan piring lépék itu pada kucing!

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Bendera di Puncak Gunung

Suatu hari di tahun 1909, sekelompok pekerja tambang di Alaska yang populer disebut "Sourdoughs" sedang bercengkerama di sebuah bar di Fairbanks. Mereka sedang membicarakan orang luar seperti Dr. Frederick Cook yang telah mendaki gunung McKinley. Mereka berdebat apakah tim ekpsedisi Cook berhasil sampai di puncak, atau tidak. Untuk mencari kepastian, maka mereka memutuskan untuk mendaki sendiri gunung itu untuk mencari buktinya.

Setelah cukup lama mendaki, ada tiga pekerja tambang yang meninggalkan base camp dan mulai berjalan ke puncak di sisi utara. Mereka membawa donat, temos yang berisi coklat panas dan bendera dengan tiang kayu setinggi 4,2 meter.

Ketika mereka kembali ke Fairbanks, tidak seorang pun yang percaya bahwa para pekerja tambang ini telah sampai di puncak gunung. Alasannya karena mereka tidak melihat tiang bendera yang dipancangkan oleh mereka. Akan tetapi pada bulan Juni 1913, ketika pendaki gunung profesional sampai di puncak gunung, mereka terkejut karena melihat sudah ada tiang bendera yang dipancangkan di situ, yaitu bendera yang dibawa oleh para "Sourdoughs" itu.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Hidangan Makanan dari Dukun

John G. Paton, adalah misionaris yang dikirim ke South Sea Islands, Australia. Dia sering menghadapi bahaya karena bekerja di antara suku Aborigin yang belum mendengar Injil. Pada suatu saat, ada tiga dukun yang mengaku punya kekuatan untuk membunuh seseorang. Mereka mengumumkan niat akan menggunakan ilmu santet untuk membunuh Paton pada hari Minggu berikutnya. Untuk melaksanakan niatnya itu, mereka membutuhkan sisa makanan Paton. Mendengar rencana itu, Paton minta tiga buah plum. Dia menggigit sebagian, lalu sisanya diberikan kepada tiga orang yang akan menyantet dia.

Pada hari Minggu, John Paton mendatangi desa itu dengan langkah ringan dan senyuman menghiasi wajahnya. Warga desa saling berpandangan seolah tidak percaya bahwa yang dilihatnya itu adalah sang misionaris. Para dukun itu akhirnya mengakui bahwa mereka telah mengerahkan segala ilmunya untuk membunuh Paton, tapi gagal. Ketika ditanya penyebab kegagalan, mereka menjawab bahwa sang misionaris itu juga punya kekuatan yang mereka miliki. Akan tetapi Tuhan yang dilayani Paton ternyata lebih kuat daripada sesembahan mereka.

Sejak saat itu pengaruh Paton semakin menguat, sehingga dia bisa mengenalkan Kristus pada penduduk desa itu.

Bila Tukang Cukur Ingin Bersaksi

Pendeta W. E. Sangster(1900-1960) yang melayani di gereja Queen St di Scarborough, Inggris memiliki anggota jemaat yang berprofesi sebagai tukang cukur. Sebagai orang Kristen, dia ikut terpanggil untuk bersaksi kepada pelanggannya. Akan tetapi karena tidak dilakukan dengan bijak, hasilnya justru menggelikan. Suatu hari ada seorang pria yang ingin mencukurkan jenggotnya. Setelah mengoleskan busa ke pipi orang itu, si tukang cukur ini lalu mengambil pisau cukur yang tajam. Dia mengerahkan pisau cukur ke dagu pelanggannya sambil bertanya, "Pak, apakah Anda sudah siap menemui Tuhan?"Kontan pelanggan itu lari terbirit-birit.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Kasih Sejati

Kita perlu mengabarkan Injil kepada seluruh manusia. Meskipun orang menolak Injil, kita harus tetap mengasihi dia. Hal ini pernah dialami oleh Ralph Neighbour, pendeta gereja Baptis di West Memorial, Houston. Dia melayani seseorang dengan tulus, tetapi orang itu tetap menolak keselamatan. Ralph Neighbour bercerita:

Jack adalah Direktur dari sebuah perusahaan yang besar. Ketika menderita sakit kanker, perusahaan tempat dia bekerja, mencampakkan dia. Untuk membiayai pengobatan, dia menghabiskan seluruh asuransi kesehatan, tabungan dan harta bendanya. Bersama salah satu diaken, saya mengunjunginya. Teman saya bertanya, "Jack, Anda sudah menceritakan hidup Anda. Saya ingin tahu, apakah Anda sudah menyiapkan kehidupan setelah kematian?"

Wajah Jack menjadi merah padam. Dia berdiri dan berkata dengan marah, "Dasar orang Kristen! Yang kalian pikirkan hanya apa yang terjadi setelah saya mati. Jika Tuhan kalian itu Mahabesar, mengapa Dia tidak melakukan sesuatu yang nyata dalam kehidupan sehari-hari!" Dia lalu terus mengomel karena terpaksa tidak bisa memberikan warisan pada istrinya dan meninggalkan tabungan untuk pendidikan anak perempuannya. Dia lalu mengusir kami.

Sampai di luar, Diaken mengajak saya untuk kembali lagi. Saya menuruti. "Jack, saya minta maaf jika telah menyinggung Anda," kata Diaken,"Tapi saya ingin Anda mengetahui bahwa kami telah berbuat sesuatu untuk keluarga Anda. Persoalan pertama adalah dimana keluarga Anda akan tinggal nanti setelah Anda meninggal. Seorang pemborong di gereja kami bersedia menjual rumah Anda dan memberikan komisinya pada istri Anda. Saya menjamin, jika Anda mengijinkan, kami akan membayar uang kontrakan sampai rumah itu terjual. Kemudian saya sudah menghubungi pemilik apartemen. Dia menawarkan ruangan dengan tiga tempat tidur beserta peralatannya dengan gratis. Dia juga menawarkan pekerjaan dengan gaji $850/bulan pada istri Anda. Yang harus dilakukan istri Anda adalah menagih uang sewa dan mengawasi perawatan pipa air dan listrik di apartemen itu. Hasil penjualan dari rumah Anda bisa dipakai untuk biaya kuliah anak Anda. Singkatnya saya ingin mengatakan bahwa kebutuhan keluarga Anda sudah kami urus."

Mendengar itu, Jack menangis terharu. Beberapa lama kemudian dia meninggal, sayangnya dia tidak mau menerima Kristus sebagai Juruselamatnya. Meski begitu, dia sempat merasakan kasih Tuhan meskipun dia tetap mengeraskan hatinya. Istri Jack yang sangat tersentuh oleh kepedulian orang Kristen akhirnya menerima Kristus.

D.L. Moody Bersaksi

Moody berjanji pada Tuhan bahwa setiap hari dia akan bersaksi, setidaknya pada satu orang. Suatu malam, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dia baru teringat bahwa belum bersaksi pada orang lain. Maka dia segera keluar rumah dan menemui seorang pria yang bersandar di sebuah tiang lampu jalan. "Apakah Anda orang Kristen?" tanya Moody. Tapi orang itu malah menjadi marah. Dia memukul Moody hingga terjerembab ke dalam selokan.

Beberapa hari kemudian, pria itu menemui majelis gereja dan mengeluh perilaku Moody. Menurutnya, Moody "melakukan hal yang lebih berbahaya bila dibandingkan dengan perbuatan baik 10 orang di Chicago." Menanggapi hal ini, majelis gereja lalu menegur D.L. Moody agar tidak terlalu gegabah dalam bersaksi.

Tiga bulan kemudian, saat menginap di YMCA, Moody dibangunkan oleh orang yang mengetuk pintu. Ternyata tamu itu adalah pria yang pernah diberi kesaksian oleh Moody pada malam itu. "Saya ingin berbincang-bincang soal jiwa saya," katanya kepada Moody. Dia meminta maaf atas perbuatan yang tidak menyenangkan yang dulu. Dia mengaku sejak malam itu dia menjadi gelisah. Moody lalu membimbing pria ini untuk mengenal Kristus. Pria ini kemudian menjadi pekerja yang rajin di dalam pelayanan Sekolah Minggu.

,

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Menginjili itu Gampang

Berikut ini adalah kisah Doug Nichols yang berusaha mengabarkan Injil di India. Mula-mula dia hampir frustasi karena gagal. Tapi dia berhasil menemukan cara untuk menyebarkan Kabar Baik itu. Doug bercerita:

"Saat melayani melalui Operation Mobilization di India tahun 1967, saya dirawat di sebuah sanitarium selama beberapa bulan karena menderita TBC (Tubercolosis). Setelah beberapa hari dirawat di sana, saya mencoba membagikan traktat pada pasien, dokter dan perawat, tapi tidak seorang pun yang mau menerima. Mereka tampaknya tidak suka pada orang Amerika kaya tapi dirawat di sanatorium milik pemerintah (mereka menganggap semua orang Amerika itu kaya). Mereka tidak tahu bahwa dengan melayani di O.M., saya sama miskinnya dengan mereka.

Saya menjadi sedih tidak punya kesempatan bersaksi karena hambatan bahasa dan tak ada orang yang mau menerima traktat atau Injil Yohanes.

Suatu malam, saya terbangun jam 2 pagi karena terbatuk-batuk. Ketika bermaksud meludahkan dahak, saya melihat ada pasien yang sudah tua di barisan ranjang seberang berusaha bangun dari tempat tidurnya juga. Dia ingin bangun dan berdiri di sisi tempat tidurnya, tetapi karena tubuhnya terlalu lemah, dia terjatuh lagi di tempat tidurnya. Saya tidak begitu mengerti apa yang akan dia lakukan. Dia akhirnya terbaring lagi karena kelelahan. Saya lalu mendengar dia menangis lirih.

Pagi harinya, saya baru mengetahui apa yang akan dilakukan pria itu. Dia sebenarnya hanya ingin berjalan ke kamar mandi! Akan tetapi karena sakit dan kelemahan tubuhnya, dia tidak bisa melakukan itu. Akibatnya karena tidak tahan lagi di buang air tempat tidur.

Begitu fajar, suasana di bangsal kami segera ribut. Pasien-pasien lain mengeluh dan mengomel-ngomel karena mencium bau yang tak sedap itu. Para perawat menjadi jengkel pada pria tua itu karena mereka harus membersihkan kotoran itu. Mereka memindahkan pria lemah itu dengan kasar. Bahkan seorang perawat menjadi sangat marah sehingga menampar wajahnya. Pria itu terlihat sangat malu dan terpukul. Dia hanya menundukkan kepala sambil menangis.

Keesokan malamnya, kira-kira jam 2 pagi, saya kembali terbangun karena terbatuk-batuk. Saya melihat pak Tua itu berusaha bangun lagi untuk ke kamar mandi. Sekali lagi, dia juga tidak kuat berdiri. Sama seperti Anda, saya juga tidak suka pada bau tidak sedap itu. Sebenarnya saya enggan terlibat jauh karena saya sendiri juga menderita sakit. Akan tetapi setelah melihat kejadian tadi pagi, maka saya turun dari tempat tidur dan menghampiri tempat tidurnya. Dia sedang menangis sendirian dan tidak menyadari kalau saya mendatangi dia. Saya menyentuh bahunya. Dia menatap saya. Saya hanya tersenyum lalu membopong tubuhnya.

Meskipun saya juga menderita sakit dan lemah, tapi saya jelas lebih kuat daripada dia. Lagipula, tubuhnya juga sangat ringan karena cukup lama menderita sakit TBC. Saya membawanya ke kamar mandi. Setelah, dia selesai membersihkan dirinya, saya kembali membopongnya ke tempat tidurnya. Saya membaringkan dia. Dia mencium pipi saya dan berkata sesuatu, sepertinya mengucapkan terimakasih.

Yang mengejutkan adalah apa yang terjadi di beberapa jam kemudian. Pasien lain yang belum saya kenal membangunkan saya pukul empat pagi, sambil membawa secangkir teh India yang hangat. Dia melakukan gerakan tangan (dia tidak bisa berbahasa Inggris), membuat isyarat bahwa dia meminta traktat yang saya tawarkan dulu. Saat matahari terbit, pasien-pasien lain mulai berdatangan. Mereka juga minta traktat. Seharian itu semakin banyak orang yang minta traktat dan Injil Yohanes. Mereka yang meminta ini termasuk perawat, pegawai administrasi, dan dokter. Beberapa hari kemudian, beberapa orang membuka hatinya pada Kristus sebagai Juruselamat setelah membaca Kabar Baik itu.

Apa yang dibutuhkan untuk menyampaikan Kabar Baik pada orang-orang ini? Yang jelas bukanlah kesehatan tubuh. Bukan juga kemampuan berbicara atau kecakapan intelektual untuk berdebat.Saya hanya membantu menolong pak tua ini. Semua orang juga bisa melakukan itu."

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Lolos dari Kejaran Suku Indian

John Colter adalah salah satu anggota dari tim ekspedisi yang dipimpin oleh Lewis and Clark. Pada zaman koboy, tim ini melakukan perjalanan yang sangat berbahaya ke wilayah bagian Barat dari Amerika.

Suatu hari, John Colter dan temannya sedang memeriksa perangkap dengan memakai kano di sungai Missouri River. Tanpa sadar dia terlalu jauh memasuki wilayah kekuasaan suku Indian Blackfoot. Mereka segera disergap oleh prajurit suku Indian. Teman John Colter terbunuh ketika dia berusaha kabur, tapi John Colter tertangkap.

Prajurit suku Indian menelanjangi pakaian dan sepatu John lalu menggelandangnya ke sebuah lembah. Mereka sengaja melepaskan John, setelah menunggu beberapa saat, para prajurit Indian segera memburunya. Kisah pelariannya ini lalu menjadi legenda. Dia berjalan selama 11 hari: mendaki gunung, melintasi lembah, dan bersembunyi di hutan. Jika dihitung jaraknya, dia menempuh perjalanan sepanjang 480 kilometer untuk meloloskan diri dari kejaran musuh.

Dipenjara Nafsunya Sendiri

Sejarah yang ditulis Thomas Costain dalam buku, The Three Edwards, menceritakan kisah Raynald III, bangsawan abad ke-14 di Belgia. Raynald memiliki berat badan yang luar biasa, sehingga sering diujuluki "Crassus". Kata ini berasal dari bahasa Latin yang berarti "gendut."

Suatu kali, Raynald bertengkar hebat dengan Edward, adiknya, yang kemudian berbuntut menjadi pemberontakan. Edward berhasil menangkap Raynald tetapi tidak membunuhnya. Dia menempatkan kakaknya di sebuah ruangan di kastil Nieuwkerk. Edward berjanji akan mengembalikan harta dan jabatan Raynald jika dia bisa keluar dari ruangan itu.

Bagi kebanyakan orang, hal ini tidak sulit dilakukan karena ruangan itu memiliki satu pintu dan beberapa jendela dalam ukuran yang normal. Bahkan pintunya pun tidak pernah ditutup atau dikunci.

Masalahnya adalah ukuran tubuh Raynald yang luar biasa besar. Dia tidak bisa melewati lubang pintu itu. Supaya bisa menikmati kebebasan, maka Raynald harus menurunkan berat badannya. Tapi Edward tidak kehilangan akal. Dia sangat mengenal tabiat kakaknya. Setiap hari dia memberikan makanan yang lezat-lezat kepada kakaknya itu. Akibatnya, alih-alih berdiet, badan Raynald malah semakin gemuk.

Jika ada orang yang mengecam Edward karena tindakannya ini, dia sudah punya jawaban: "Kakak saya bukan tahanan, kok. Dia boleh pergi kapan saja dia mau." Tapi itu sama saja bohong.

Raynald tinggal di ruangan itu selama 10 tahun dan baru dibebaskan setelah Edward tewas dalam sebuah pertempuran. Akan tetapi karena kondisi ksehatannya yang semakin memburuk, setahun kemudian dia menyusul kematian adiknya.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Memintakan Ampun Bagi Musuh

Kisah ini terjadi di Amerika pada zaman perang revolusi. Peter Miller adalah pendeta di Ephrata, Pennsylvania, yang menjalin persahabatan dengan George Washington. Di Ephrata ini ada seorang warga yang melakukan apa saja untuk menentang dan menghina Peter Miller. Namanya Michael Wittman.

Suatu hari, Michael Wittman ditangkap karena dituduh bertindak subversif dan dijatuhi hukuman mati. Mengetahui hal ini, Peter Miller berjalan kaki sejauh 112 kilometer ke Philadelphia untuk menyelamatkan nyawa "penentangnya" ini.

"Tidak, Peter," kata jenderal Washington menanggapi pemintaan Peter, "saya tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk menyelamatkan nyawa temanmu itu."

"Temanku? Siapa bilang dia temanku!" sahut pendeta tua itu. "Dia adalah musuh bebuyutanku."

"Apa?" kata Washington dengan kaget. "Kamu berjalan kaki sepanjang 112 kilometer hanya untuk menyelamatkan nyawa musuhmu?" Seketika itu juga pendirian Washington berubah. Dia memberikan pengampunan kepada Michael Wittman dari hukuman mati.

Peter Miller lalu mengajak Michael Wittman pulang ke Ephrata-bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai teman.

Kegigihan Fotografer

14 January 2008
Edward Steichen, tidak akan menjadi fotografer tingkat dunia apabila dia cepat menyerah pada saat melihat hasil jepretannya yang pertama. Pada usia 16 tahun, Steichen muda membeli sebuah kamera dan memotret sebanyak 50 kali. Sayangnya, hanya satu yang menghasilkan foto yang bagus, yaitu potret kakak perempuannya di dekat piano. Ayahnya menilai hasilnya sangat jelek. Tapi ibunya meyakinkan Steichen bahwa walaupun hanya satu, namun hasilnya lumayan bagus, sehingga bisa menembus 49 kesalahan pemotretan lainnya.

Dorongan semangat dari ibunya ini ternyata memberi semangat pada remaja ini untuk menekuni hobinya. Ternyata pujian ibunya tidak sia-sia.

Talenta yang Terkubur

Dante Bartiel Rossetti, adalah penyair puisi dan seniman ternama pada abad ke-19. Suatu hari ada seorang kakek mendatangi dia sambil membawa beberapa sketsa dan lukisan. Dia meminta Rossetti melihat dan menilai sketsa dan lukisan itu. Dia ingin tahu apakah karya itu sudah bagus atau setidaknya ada potensi terpendam.

Rossetti mengamati dengan seksama. Dalam sekejap dia tahu bahwa karya itu tidak menunjukkan adanya talenta seni sama sekali. Dengan bahasa sehalus mungkin dia mengatakan hal itu dengan jujur. Dia merasa tidak enak mengatakan hal itu, tetapi dia tidak mau berbohong.

Kakek itu merasa kecewa sekali, tetapi dia menghormati penilaian Rossetti. Dia minta maaf karena sudah menyita waktu Rossetti. Sebelum pulang dia mengajukan permintaan sekali lagi agar Rossetti bersedia memberikan penilaian karya lukisan yang lain. Kali ini karya seorang siswa jurusan seni.

Rossetti mengamati lukisan yang disodorkan. Dia terlihat sangat antusias mengamati lukisan itu karena ada talenta seni dalam lukisan itu. "Nah, yang ini baru bagus," kata Rossetti, "anak muda ini memiliki talenta seni yang luar biasa. Dia harus dibimbing dan diberi semangat di dalam meniti karir sebagai seniman. Dia punya masa depan yang cerah asalkan dia mau bekerja keras."

Mendengar kata-kata Rossetti, mata kakek itu tampak berkaca-kaca. "Ngomong-ngomong, siapa sih seniman muda ini? Apakah dia anak Anda?" tanya Rossetti

"Bukan," jawab kakek itu dengan raut muka sedih. "Lukisan ini adalah karya saya 40 tahun yang lalu. Andai saja dulu saya mendengarkan pujian ini, maka......" dia tidak meneruskan ucapannya. Dia hanya menghela napas panjang. "Saya terlalu cepat putus asa dan segera menyerah."

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com/purnawan/index.php

Kristus Sudah Cukup Bagiku

02 January 2008

Suatu malam ketika sedang berlangsung pertemuan di Bala Keselamatan di Citadel-Chicago, Booth Tucker berkhotbah tentang simpati yang diberikan Yesus. Usai kebaktian, seorang pria menghampiri dia dan berkata,"jika istri Anda baru saja meninggal, seperti istri saya, dan bayi Anda terus menangis mencari ibunya, tentu Anda tidak akan berkata seperti yang Anda khotbahkan tadi"

Tragisnya, beberapa hari kemudian istri Tucker meninggal dunia karena tabrakan dengan kereta api. Jenasahnya disemayamkan di gereja Citadel Chicago. Setelah kebaktian, Tucker mengamati wajah istrinya, lalu berpaling ke arah jemaat. Dia berkata, "beberapa hari lalu ada seorang pria mengatakan bahwa saya tidak akan berkata-kata tentang simpati yang diberikan Yesus jika istri saya baru saja meninggal. Jika pria itu ada di sini, saya ingin mengatakan kepadanya bahwa bagi saya Kristus sudah cukup. Hati saya hancur, tapi di sana masih ada lagu yang diberikan oleh Yesus. Saya ingin mengatakan pada pria itu bahwa Yesus Kritus telah memberi penghiburan pada saya hari ini."

Jika Dokter Sakit Flu

Billie Burke adalah seorang artis terkenal. Suatu kali wanita cantik ini berwisata dengan kapal pesiar melintasi samudera Atlantik. Saat duduk di geladak kapal, dia melihat di meja lain ada seorang pria yang sedang menderita sakit flu.

     "Apakah Anda sedang merasa tidak enak badan," tanyanya dengan iba. Pria itu mengangguk.

     "Sebaiknya Anda pergi ke kamar Anda dan minum jus jeruk yang banyak. Minum dua tablet aspirin dan berselimut setebal mungkin. Nanti kalau sudah berkeringat, maka sakit demamnya bisa hilang. Percayalah pada kata-kata saya. Saya Billie Burke dari Hollywood."

     Pria itu tersenyum lalu mengenalkan diri, "Terimakasih untuk nasihatnya. Saya Dokter. Mayo dari klinik Mayo."

Buku Harian

Charles Francis Adams, adalah seorang politisi dan diplomat pada abad ke-19. Dia rajin menulis buku harian. Suatu malam dia menulis: "Hari ini pergi memancing bersama anakku. Membuang-buang waktu saja!"

     Anaknya, Brook Adams, juga rajin menulis buku harian. Dia menulis: "Hari ini pergi memancing bersama ayah. Wah, hari yang paling menyenangkan dalam hidupku!"

     Sang ayah menganggap telah membuang waktu dengan sia-sia saat pergi memancing bersama anaknya. Tapi anaknya menganggapnya sebagai peristiwa yang indah.