Murid Bandel Bernama Mark Eklund

07 November 2007

Seorang guru kelas 3 di SD Saint Mary di Morris, Minnesota menceritakan pengalamannya tentang muridnya yang mengharukan: "Saya ditugasi mengajar di kelas ini. Dari  34 murid, semuanya patuh pada saya, kecuali seorang murid bernama Mark Eklund.

     Penampilannya sangat rapi, tapi sangat aktif. Mark senang sekali mengobrol ketika diajar. Saya berkali-kali harus menegur dia. Yang membuat saya terkesan adalah reaksinya setiap kali saya tegur. Dengan wajah tulus dia berkata,"Terimakasih, Bu karena telah menegur saya." Pertama kali, saya terkejut mendapat tanggapan seperti itu, tetapi lama-kelamaan saya terbiasa mendengarnya.

     Suatu hari kesabaran saya habis ketika melihat Mark bicara terus dan saya pun melakukan kesalahan yang biasa dilakukan oleh guru yang masih pemula.  Saya berkata pada Mark, "kalau kamu ngomong lagi, maka saya akan memplester mulutmu." Belum ada sepuluh detik, ketika Chuck melapor, "Bu, Mark ngomong lagi." Saya sebenarnya tidak menyuruh murid lain untuk mengawasi Mark, tapi karena sudah menyebutkan hukuman di depan kelas, maka saya harus konsisten. Saya berjalan ke meja saya, menarik laci dan mengambil gulungan plester. Tanpa berkata sepatah kata pun saya menuju ke meja Mark, menyobek dua lembar plester dan menempelkan di mulut Mark hingga membentuk huruf "X". Saya kembali ke meja saya sambil melirik ke arah Mark. Dari sudut mata saya melihat Mark mengedipkan mata kepada saya. Seketika itu juga saya tidak bisa menahan tawa saya.  Saya berbalik ke meja Mark dan membuka plesternya sambil menggeleng-gelengkan kepala.  Kata pertama yang keluar dari mulut Mark adalah, "Terimakasih, Bu, karena sudah menegur saya."

     Di akhir tahun, saya meninggalkan kelas itu karena diminta mengajar matematika di tingkat  SMP. Beberapa tahun kemudian, Mark kembali menjadi murid saya lagi. Dia tampak lebih tampan dan semakin sopan. Dia mendengarkan pelajaran dengan tekun dan tidak banyak ngomong.

     Pada suatu hari Jum'at, kami mengalami hari yang berat. Saya mengajarkan konsep yang baru yang sangat rumit. Saya merasakan suasana yang semakinn tegang. Siswa tampak frustasi. Maka saya memutuskan menghilangkan suasana yang tidak enak ini.

     Saya meminta siswa melupakan sejenak pelajaran yang sedang dihadapi. Saya mengajak mereka mengambil selembar kertas, lalu menuliskan nama teman-teman mereka dengan memberi jarak di antara nama itu. Kemudian saya meminta mereka mencari hal-hal baik yang dimiliki teman-temannya, lalu menuliskan di bawah namanya. Saya lalu minta kertas-kertas itu dikumpulkan. Saat menyerahkan kertas itu, Mark berkata,"terimakasih karena sudah mengajar saya, Bu. Selamat berakhir pekan."

     Hari Sabtu, saya menuliskan nama setiap murid pada setiap lembar kertas yang terpisah.  Saya lalu menuliskan kebaikan-kebaikan yang dikatakan teman-temannya tentang dirinya. Hari Senin saya membagikan lembaran itu pada murid-murid sesuai dengan namanya.  Semua murid tampak senang. Berbagai komentar muncul: "Benarkah?", "Saya tidak menyadari kalau disenangi teman", "Saya tidak tahu kalau punya hal baik seperti ini."

     Beberapa tahun berlalu, saya sudah melupakan hal itu.  Suatu hari, ketika saya pulang dari berlibur, ayah dan ibu saya menjemput di bandara. Tidak seperti biasanya, sikap kedua orangtuaku terlihat aneh. Ibu memberi kode sesuatu pada ayah.  Ayah lalu berdehem. Saya berdebar-debar karena tahu kebiasaan ini dilakukan Ayah sebelum berbicara masalah yang sangat penting. "Tadi malam keluarga Eklund menelepon kita," katanya. "Benarkah? Wah, saya lama sekali tidak berjumpa Mark.  Bagaimana kabarnya, ya?" tanya saya. Sekali lagi Ayah berdehem. "Mark terbunuh di Vietnam," jelas Ayah pelan. "Pemakamannya besok pagi dan orangtuanya minta kamu untuk datang."

     Saat melayat, saya melihat wajah Mark yang sangat gagah dan dewasa dengan seragam militernya. "Mark, saya mau memberikan semua plester di dunia asalkan kamu mau bicara lagi," kata saya dalam hati sambil mengamati wajahnya. Banyak teman-teman Mark yang datang melayat. Selesai penguburan mantan teman-teman sekelas Mark dan saya berkunjung ke rumah orangtuanya. Ayah dan ibunya terlihat sengaja menunggu kedatangan saya. "Kami ingin menunjukkan sesuatu pada Anda," kata ayah Mark. Dia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. "Benda ini selalu dibawa Mark kemana-mana. Saya kira Anda mengenalnya" Dengan hati-hati dia membuka lipatan kertas yang mulai lusuh itu. Tampaknya kertas itu sudah dibuka dan dilipat berkali-kali. Saya segera mengenali kertas itu yang berisi daftar hal-hal baik yang dipunyai Mark. Saya yang menuliskannya di kertas itu berdasarkan tulisan teman-temannya.

      "Terimakasih untuk hal ini," kata ibu Mark. "Mark sangat  menghargai benda ini." Teman-teman sekelas Mark ikut berkumpul. "Saya masih punya daftar itu. Saya meletakannya di dalam laci meja saya," kata Charlie sambil tersenyum. Istri Chuck berkata,"Chuck minta saya menaruh daftar itu di dalam album pernikahan kami." "Saya juga masih menyimpan. Saya simpan di buku harian." Kemudian Vicki membuka buku sakunya dan menunjukkan kertas yang berisi daftar kebaikannya. "Saya yakin, kita semua menyimpan daftar itu," kata Vicki dengan mata berbinar-binar.

     Saya menjadi sangat terharu.  Saya duduk dan menangis."

 

Kepercayaan yang Tak Sia-sia


Apakah Anda pernah mendengar kisah Charlie Riggs? Lebih dari lima puluh tahun lalu, dia menyerahkan hidup pada Kristus. Dia lalu dimuridkan oleh orang muda bernama Lorne Sanny, yang pernah dimuridkan oleh Dawson Trotman, pendiri Navigator.

Charlie rindu sekali bertumbuh dalam Kristus, tetapi kemajuannya sangat lambat dan tidak cocok menjadi pemimpin. Suatu saat Lorne menulis surat pada Dawson Trotman. Dia mengeluh karena hanya punya Charlie Riggs sebagai rekan kerja, dan menilai bahwa Charlie tidak punya bakat. Trotman membalas surat,"tetaplah bersama dia. Anda tidak tahu rencana Tuhan bagi dia." Maka Lorne Sanny tetap bekerja bersama Charlie Riggs.

Beberapa tahun kemudian, ada seorang pengkotbah muda bernama Billy Graham yang namanya mulai terkenal. Tahun 1952, Navigator "meminjamkan" Charlie Riggs pada tim Billy Graham untuk melakukan pelayanan follow-up dari setiap KKR yang diadakan Billy Graham. Charlie mempunyai rencana untuk segera kembali ke Navigator begitu tugasnya di tim Billy Graham sudah selesai. Namun rupanya dia dinilai bekerja dengan baik, sehingga diminta tetap bergabung.

Tahun 1957, Billy Graham akan mengadakan KKR di tempat yang sangat terkenal di New York, yaitu di Madison Square Garden. Tiba-tiba ketua panitia KKR harus diganti. Siapa yang bisa menggantikannya? Ketua jemaat menyarankan agar posisi itu diserahkan pada Charlie Riggs, tetapi Billy Graham masih ragu-ragu. "Tapi yang bisa dia lakukan adalah berdoa dan mengutip ayat Alkitab," kata Billy Graham memberi alasan.

Tapi ketua jemaat berhasil meyakinkan Billy Graham, sehingga Charlie Riggs dipercaya mengisi posisi itu. Dan Charlie pun tidak menyia-siakan kepercayaan itu. Dia bekerja dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, acara KKR di New York itu berlangsung sukses, bahkan menjadi model bagi penyelenggaraan acara KKR di tempat-tempat lain selama bertahun-tahun. Billy Graham berkata, "Saya semula tidak menyangka dia bisa melakukannya. Tetapi saya yakin bahwa Charlie sangat bergantung pada Roh Kudus, yang saya tahu Tuhan melakukannya melalui Charlie."

Charlie Riggs pensiun setelah puluhan tahun melayani Tuhan secara efektif. Apa rahasianya? Bagaimana mungkin orang yang hanya punya sedikit pendidikan formal bisa mencapai posisi setinggi itu dan demikian lama?

Charlie Riggs berkata, "Saya selalu minta Tuhan masuk ke dalam kepala saya. Itulah sebabnya, ketika saya mendapat tugas, kalau tidak ditolong oleh Tuhan maka saya tidak bisa apa-apa."

Lukisan Terindah

Lebih dari dua ribu tahun lalu, ada seorang seniman muda bernama Timanthes yang belajar melukis di bawah bimbingan guru ternama. Setelah bertahun-tahun belajar, Timanthes berhasil menghasilkan lukisan yang sangat indah. Sayangnya, setelah itu Timanthes lebih suka duduk berlama-lama sambil mengagumi hasil karyanya itu.

     Suatu pagi, ketika dia datang lagi untuk menikmati karyanya, dia terkejut karena lukisannya itu sudah berlepotan dengan cipratan cat.  Dengan marah dia mendatangi gurunya. Dengan jujur sang Guru mengakui bahwa dia sengaja mengotori lukisan itu. "Saya melakukannya demi kebaikanmu sendiri. Lukisan itu telah menghambat kemajuanmu. Sekarang mulailah melukis lagi. Coba lihat apakah kamu bisa bikin yang lebih baik lagi, atau tidak!"

     Timanthes menuruti nasihat gurunya.  Dia membuat lukisan lagi yang diberi judul "Pengorbanan Iphigenia". Lukisan ini termasuk salah satu karya klasik yang terbaik.

Indahnya Kebersamaan Natal

29 August 2007

Setiap kali mendengat kata "Gunungkidul", banyak orang membayangkan situasi yang serba sulit: Sulit minum, sulit makan dan sulit prasarana. Demikianlah adanya yang saya alami pada masa kecil saya.

Meski begitu, keadaan itu tidak mengurangi kesan indah saat merayakan Natal di kabupaten termiskin di DIY. Di desa saya tidak ada tradisi merayakan Natal dalam keluarga karena masih kuatnya ikatan sosial di warga. Semua hal inginnya dikerjakan bersama-sama. Bahkan warga yang non-Kristiani pun ikut membantu.

Seminggu sebelum Natal, anak-anak Sekolah Minggu dikerahkan untuk membersihkan balai desa yang akan dipakai untuk acara perayaan Natal.  Pada hari H-1, anak-anak SM membawa sebatang kayu bakar, sepiring beras dan lembaran daun pisang yang sudah dilipat rapi. Mereka menghantarkan barang-barang itu ke rumah Majelis, yang dijadikan "dapur umum". Sorenya, Pria-pria dewasa muncul untuk mempersiapkan tempat, seperti membuat panggung, menata kursi, dan membuat dekorasi. Sedangkan di dapur umum, sudah gaduh celotehan wanita dan ibu-ibu yang sibuk memasak.  Di dalam gedung gereja kami yang mungil, anak-anak SM juga serius latihan drama, hapalan ayat, baca puisi dan gerak lagu. Semua orang melakukan dengan sukacita.

Usai Kebaktian Natal, malamnya kami merayakan Natal. Dulu belum ada listrik. Tidak ada soundsystem, alat musik atau kelap-kelip lampu phon Natal. Yang ada adalah kedap-kedip lampu petromaks dan lilin yang dihembus angin. Kami memakai peralatan seadanya untuk memeriahkan Natal. Korden disulap menjadi baju gembala, kapas menjadi janggut, pucuk daun jati untuk pemerah pipi, jelaga untuk menghitami wajah.

Saat makan tiba, masing-masing orang diberi nasi hangat yang dibungkus daun pisang. Ketika dibuka, muncul harum yang khas. Meski lauknya 'hanya' telur separo, urap dan kering tempe, tapi makanan itu masih tetap membikin saya kangen. Sayangnya, sekarang memilih pesan nasi kardusan. Alasannya lebih praktis dan modern! (Wwn)

Warisan Iman

Di dalam Alkitab, kita membaca dua orang orang Ibu yang mewariskan kesalehan iman pada anaknya. Ibu yang pertama bernama Lois. Namanya punya arti  "disetujui" atau "dikehendaki". Lois adalah seorang penganut Yahudi yang tinggal di Listra (sebuah kota di negara Turki). Sebagian besar penduduk kota menyembah dewa-dewa Yunani, tetapi Lois tetap beriman pada Allah yang satu.
Lois memiliki anak perempuan bernama Eunike. Dia mengajarkan Taurat pada Eunike. Meskipun  menikah dengan pria Yunani, Eunike tetap teguh pada imannya. Hal ini cocok dengan arti nama Eunike, yaitu kemenangan atau sukacita kemenangan. Dia telah menang atas godaan dan tekanan untuk menyembah illah lain.
Ibu yang kedua bernama Eunike. Dia mempunyai anak bernama Timotius. Artinya "orang yang takut pada Tuhan".  Eunike mendidik anaknya supaya takut pada Tuhan.
Penguasaan mereka atas Taurat merupakan persiapan untuk Kabar Baik yang dibawa  Paulus ketika berkunjung ke Derbe dan Listra. Lois, Eunike dan Timotius menerima keselamatan itu.
Pada kunjungan Paulus yang kedua, dia mendengar kesalehan anak muda yang menjadi bahan perbincangan di jemaat Listra dan Ikonium. Paulus memutuskan mengajak anak muda itu, yaitu Timotius, untuk mengiring perjalanannya.
Timotius mengikuti Paulus ke Prigia, Galatia, Misia, Troas, Filipi dan  Berea. Dia juga bergabung dengan Paulus ketika di Atena, yang kemudian bersama Silas diutus  Paulus ke Tesalonika. Dia mendampingi Paulus ke Korintus dan menetap di Efesus. Lalu diutus ke Makedonia. Setelah itu, menemani Paulus ke Asia. Ketika Paulus dipenjara di Roma, Timotius mengunjunginya. Kemudian ikut dipenjara juga. Ketika Paulus dipenjara lagi, dia menulis surat pada Timotius untuk membawakan jubah, kitab-kitab dan perkamen yang tertinggal di Troas.
Paulus sangat terkesan pada kesetiaan dan kesungguhan pelayanan Timotius. Dalam surat-suratnya, Paulus sebanyak 17 kali. Secara pribadi, Paulus memuji memuji, iman Timotius yang tulus ikhlas, yaitu "iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu."(2 Timotius 1:5)
Meskipun ada banyak nenek yang disebutkan dalam Alkitab, tetapi hanya Paulus yang menyebut kata "nenek" secara khusus. Catatan tentang Timotius ini menunjukkan pelatihan kerohanian yang positif di dalam rumah tangga yang saleh. Lois dan Eunike telah mengambil tanggungjawab untuk meneruskan warisan iman sehingga membesarkan seorang anak muda yang menjadi berkat banyak orang hingga saat ini. [Wwn]

Marah, tapi tak Berdosa

Bolehkah kita menjadi marah? Boleh saja. Allah saja punya rasa marah. Karena kita diciptakan sesuai dengan gambar-Nya, maka kita juga punya rasa marah. Kemarahan itu bukan sesuatu yang jahat. Kemarahan dapat menjadi dosa jika kita membiarkannya tidak terkontrol dan merusak orang lain.

Paulus menasihati, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa" (Ef.4:26). Dia tidak melarang kemarahan, asalkan memenuhi syarat, yaitu tidak 'berbuat dosa'. Lalu bagaimana caranya marah yang benar?

Pertama, harus terkendali.  Kemarahan sebaiknya bukan dalam bentuk hasrat yang menggebu dan tak terkendali.  Penyebabnya harus beralasan dan diarahkan kepada ketidak-adilan. Misalnya, kita boleh marah ketika melihat anak kecil yang disiksa orangtuanya. Dalam kemarahan ini, pikiran masih tetap mengendalikan emosi kita. "Orang bijaksana tidak cepat marah; orang bodoh tidak dapat menahan dirinya." (Ams.14:29 BIS)

 "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." (Amsal 16:32) Jenis kemarahan ini bukan akibat langsung dari frustasi yang muncul secara mendadak.

Kedua, tidak ada rasa benci, dendam dan sakit hati.  Kemarahan yang merupakan serangan balasan hanya akan mempersulit situasi. Tujuan kemarahan adalah untuk memperbaiki situasi atau kelakuan orang lain di sekitar kita. Misalnya, anak Anda ketahuan membolos. Anda pasti marah, tapi kemarahan itu bukan karena Anda membenci anak Anda. Justru karena sebaliknya."Orang yang memberi teguran akhirnya lebih dihargai daripada orang yang memberi sanjungan." (Ams.28:23)

Ketiga, motivasinya tidak didasari rasa egois.  Apabila motivasinya adalah egois, maka kesombongan dan sakit hati biasanya terlibat di dalamnya. Kita memarahi bukan untuk menunjukkan diri kita lebih hebat atau lebih saleh. Landasannya adalah kasih dan kerendahan hati. [purnawan]

Keluarga yang Sukses dan Gagal

Seperti apakah keluarga yang ideal itu? Sungguh sulit menjawab pertanyaan ini. Bahkan ketika kita mencarinya di Alkitab, kita akan kesulitan mencari sebuah keluarga yang sempurna. Ada saja kekurangan keluarga itu.  Meski begitu, kita dapat melihat ada beberapa keluarga yang dapat dijadikan teladan karena taat pada panggilan Allah.

Kita mulai dari keluarga Nuh. Allah memanggil Nuh dan 7 anggota keluarganya untuk diselamatkan dari bencana air bah.  Mereka harus membuat bahtera super besar. Perintah ini terkesan mengada-ada, tapi keluarga Nuh taat pada panggilan Allah.  Mereka membuat bahtera diiringi sorotan mata sinis para tetangga.

Lalu apa kekurangan Nuh? Setelah bencana air bah, Nuh menjadi petani anggur. Suatu kali dia minum anggur sampai mabuk dalam keadaan telanjang di kemahnya.

Keluarga Abraham dipanggil Allah untuk memberikan banyak keturunan dan salah satu di antaranya akan menjadi Sumber Keselamatan manusia. Pada mulanya, Sara isterinya, tertawa mendengar panggilan ini. Dia merasa tidak mungkin punya anak  karena sudah tua. Sedangkan kekurangan Abraham adalah takut mengakui Sara sebagai isterinya, ketika berada di Mesir. Akan tetapi mereka taat pada rencana Allah.

Keluarga Maria dan Yusuf, dipanggil Allah untuk melahirkan Yesus. Mereka mengalami beberapa kesulitan, namun tetap taat pada panggilan Allah.  Meski Yusuf pernah berniat akan meninggalkan Maria, tapi dia membatalkannya setelah ditemui oleh malaikat.

Keluarga Lois berhasil mendidik anak dan cucunya untuk takut pada Tuhan.  Mereka hidup di tengah bangsa kafir, tetapi mereka tetap menyembah Allah yang benar.  Meski Eunike bersuamikan pria yang tidak menyembah Allah, tapi dia tetap mengajarkan firman Allah kepada Timotius, anaknya.

Rahasia kesuksesan keluarga-keluarga di atas adalah "taat pada panggilan Tuhan." Meski pernah mengalami kegagalan, tapi mereka tetap setia pada panggilannya.  Demikian juga keluarga Kristen masa kini. Kita tidak perlu takut pada kegagalan, sebab kegagalan adalah sebuah pembelajaran supaya kualitas keluarga kita semakin baik. Untuk itu, mari kita belajar dari kegagalan yang dialami keluarga-keluarga lainnya di dalam Alkitab:

Keluarga Ishak: gagal dalam membagi kasih sayang pada anak-anak mereka. Ishak lebih sayang pada Esau; Ribkah, isterinya, lebih mengasihi Yakub.

Keluarga Yakub: gagal mengajarkan kerukunan di antara anak-anak.  Karena rasa cemburu, saudara-saudaranya mencelakai dan menjual Yusuf sebagai budak.

Keluarga Imam Eli: gagal mendidik anak-anaknya, Hofni dan Pinehas, untuk menghormati Tuhan. Mereka sering menjarah korban persembahan di bait Allah.

Keluarga Manoah: gagal mendidik Simson dalam memilih isteri.  Simson ngotot mengambil wanita Filistin, yang tidak mengenal Allah, sebagai isterinya.

Keluarga Daud: gagal dalam menjaga kekudusan pernikahan. Daud berselingkuh dengan Betsyeba, Uria. Daud juga gagal mendidik Absalom, anaknya, sehingga memberontak terhadapnya.

Keluarga Ananias dan Safira:gagal dalam menjaga kejujuran.  Mereka membohongi Petrus soal jumlah uang hasil penjualan sebidang tanah.

Dari Alkitab ini, kita bisa belajar bahwa di antara keluarga yang gagal ini, ada yang bangkit kembali. Contohnya, Daud dan Simson lalu meminta ampun pada Tuhan. Dan Tuhan pun memulihkan mereka. Namun ada pula yang taat keras kepala. Contohnya, Ananias dan Safira yang akhirnya dihukum mati. Terhadap keluarga yang taat, Allah telah berjanji: "Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk mencelakakan kamu, tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan." (Yer. 29:11 BIS) Nah, mau pilih mana? [purnawan]

Mewaspadai Nabi-nabi Palsu

Bacaan Matius 7:15-23

Tuhan Yesus mengakhiri "Khotbah di Bukit" dengan peringatan tentang nabi-nabi palsu.  Yesus tahu bahwa di dalam jemaat Kristen akan muncul nabi-nabi. Dalam surat-suratnya, Paulus menulis ada orang Kristen yang bernubuat.  Mereka diberi karunia khusus dari Tuhan untuk mengerti dan menerangkan kehendak Tuhan dengan jelas.  Kadang-kadang, nabi Kristen juga menubuatkan peristiwa yang akan datang (misal Agabus dalam Kis. 11:28 dan 21:10,11), tapi pekerjaan utama nabi-nabi Kristen adalah mengajar. Dalam menjalankan tugas itu mereka ditolong dan diterangi oleh Roh Kudus.

Itu sebabnya, menjadi berbahaya jika nabi yang mengajar jemaat Kristen adalah nabi palsu, sebagaimana ditulis dalam Why 2:20: "wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku (yaitu orang Kristen).  Menggunakan bahasa dari Mat. 7:15, wanita Izebel ini "menyamar seperti domba." Ia menganggap dirinya sebagai orang Kristen, tapi membawa ajaran sesat.

Ini yang justru berbahaya.  Kalau ada orang yang terang-terangan menentang jemaat Kristen, maka kita mudah mengenali dan mewaspadai setiap perbuatannya.  Namun jika ada orang yang 'menyusup' ke dalam jemaat, maka kewaspadaan kita berkurang karena kita menganggapnya sebagai saudara seiman.  Seperti serigala yang menyamar sebagai domba, diam-diam dia menggerogoti dan menghancurkan jemaat. Dia menerkam 'domba-domba Allah' dengan leluasa.

Kita harus insaf bahwa sepanjang sejarah gereja muncul nabi-nabi palsu. Ingat saja tentang orang Anabaptis dengan khayalan-khayalannya di kota Munster pada zaman Luther.  Nabi-nabi palsu ada kemungkinan juga muncul di Indonesia.

Lalu bagaimana sikap kita? Kita harus bersikap kritis terhadap setiap ajaran.  Kritis itu berbeda dengan serba curiga.  Orang yang bersikap kritis tidak menelan mentah-mentah setiap ajaran yang diterimanya, tapi lebih dulu mengeceknya dari firman Tuhan.  Orang yang bersikap kritis memiliki pikiran terbuka.  Dia bersedia menerima ajaran yang baru atau meninggalkan keyakinan yang lama, asalkan itu sesuai dengan firman Tuhan. Dengan demikian, kita wajib menguasai pengetahuan tentang firman Allah.

Dalam perikop ini Yesus menamakan orang Kristen yang benar sebagai "sebatang pohon yang baik." Menurut ahli-ahli Perjanjian baru, istilah ini berarti bahwa seorang Kristen yang baik sudah mengalami perubahan yang mendasar/fundamental. Hati yang terbuka pada perkataan Kristus dan bagi Roh Kudus, adalah hati yang sudah mengalami perubahan asasi dan ingin hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Pohon yang ingin bertumbuh harus menyedot makanan dari sumber yang benar, yaitu firman Tuhan. Bukan dari sumber lain yang mematikan!

:::Purnawan (bahan dari Drs. J.J.de Heer, Tafsir Injil Matius)

Rahasia Hidup Bahagia

Ada seorang pria sedang berbicara dengan Tuhan  Tuhan berkata: "Kau boleh mengajukan tiga permohonan. Aku akan mengabulkannya."

"Tuhan, tapi aku ingin Tuhan mengambil istriku. Aku sudah tidak tahan hidup bersamanya,"kata pria itu.

 "Terjadilan seperti yang kau minta."

Maka matilah isterinya. Pada saat upacara penguburan, tiba pria ini berubah pikiran. "Tuhan, dulu istriku ini adalah wanita yang baik.  Selama dia hidup, aku tidak pernah menghargainya,"kata pria itu. "Tuhan tolong hidupkan dia lagi."

Tuhan menjawab, "Permohonanmu yang kedua sudah terkabul."

Tersisa satu permohonan lagi. Dia menjadi bingung, lalu minta pertimbangan teman-temannya.

"Minta uang saja";"Minta kesehatan saja";"Minta keabadiaan saja." Berbagai saran ini malah semakin membuatnya bingung.

"Apa permohonan ketigamu?" tanya Tuhan.

Pria ini tertawa kecut, "Tuhan saya ini bingung. Saya tidak tahu apa yang harus kuminta! Dapatkah Engkau katakan apa yang harus kuminta?"

Tuhan tertawa keras, lalu berkata,"Baik Aku akan memberitahukan apa yang harus kau minta. Mintalah untuk menjadi bahagia tanpa peduli seperti apa pun keadaanmu. Itulah permintaan terbaik."

Setiap orang pasti ingin hidup berbahagia. Tapi seperti apakah hidup yang disebut berbahagia itu?

Dalam permulaan kitab Mazmur diebutkan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang "kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam."

Ciri-cirinya yang seperti ini mirip dengan pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Orang itu berhasil dalam segala usahanya.

Pertama, tidak egois. Buah yang dihasilkan oleh sebatang pohon, selalu diberikan pada pihak lain.  Pohon tidak pernah memakai buahnya untuk kepentingan diri sendiri.  Orang yang berbahagia tidak egois. Banyak orang yang merasa berbahagia pada saat dia mau berbagi berkat dengan orang lain.

 

Kedua, Bersyukur dan menghitung berkat. Orang yang bersyukur pasti berbahagia. Sungguh tidak mungkin Anda merasa bersyukur, tetapi tidak berbahagia. Meski dalam keadaan tertekan, pemazmur masih bisa bersyukur. "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (Mzm. 42:11)

Ada latihan sederhana yang dapat dipraktikkan dalam bersyukur. Pejamkan mata dan pikirkan kejadian hari kemarin, satu demi satu; dari pagi sampai sore. Untuk setiap kejadiannya katakan "Terimakasih. Aku sungguh beruntung dapat mengalaminya."

Mungkin Anda teringat sesuatu yang tidak menyenangkan. Berhentilah sejenak dan katakan pada diri sendiri, "Hal yang alami ini terjadi semata-mata demi kebaikanku."

Ketiga, Melakukan latihan iman. Perhatikan ayat 3: "Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:3)

Orang yang sudah merenungkan firman Tuhan dan melakukannya tidak langsung berbuah.  Dia harus menunggu waktunya untuk berbuah.  Meski begitu dia menantikan dengan sabar. Dia menyadari bahwa ada proses yang harus dilalui hingga tiba waktunya berbuah. Dia harus berakar, bertumbuh dan kadangkala harus dipangkas.  Namun dia melaluinya dengan ketekunan. (baca: Yak.1:2-4)

Berikut latihan iman sederhana. Pikirkan tentang masa depan Anda dan katakanlah dalam hati,"Semuanya akan menjadi baik. Semuanya akan menjadi baik." Selesai Anda melakukan latihan ini, Anda akan merasa tenang dan bahagia.  Hal ini dapat terjadi karena iman telah menghibur Anda bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan dan bahwa segala sesuatu akan memberi arti yang sangat besar terhadap kebahagiaan kita [Purnawan]

Tiga Dimensi Kehidupan Rohani

        Kalau kita menyimak kehidupan Henokh, Nuh dan Ayub, kita akan mendapatkan satu rahasia keunggulan iman mereka, yaitu mereka "hidup bergaul dengan Allah" (Kej.5:22;Kej.6:9;Ayub 29:4). Seperti yang ditulis dalam Mazmur 25:14:""TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." Lewat pergaulan ini, seseorang akan mengalami perubahan.

Lalu dimana kita kita dapat bergaul dengan Allah? Di gereja! Dalam melaksanakan rencana keselamatan atas dunia ini, Allah hanya bermitra kerja dengan kerja.  Allah memanggil orang-orang percaya untuk menghayati, membangun dan menunjukkan iman di dalam gereja.

Dengan cara apa saja gereja dapat menumbuhkan kerohanian kita? Melalui tiga fungsinya, yaitu: Persekutuan, Kesaksian dan Pelayanan.

Beberapa aspek yang berkaitan dengan Persekutuan adalah:

a.   Pembangunan jemaat. Jemaat dipelihara, dipimpin dan diperlengkapi.

b.  Ibadah: Kesempatan untuk bersekutu dengan Allah dan sesama orang percaya.

c.   Doa: Alat untuk memelihara persekutuan kita dengan Tuhan dan mengarahkan kehidupan kita ke arah hidup yang benar.

d.  Sakramen: Baptis suci sebagai tanda dan meterai bahwa kita telah diselamatkan. Perjamuan Suci untuk menghayati kembali dan merayakan keselamatan yang diberikan melalui pengorbanan Yesus.

Dalam dimensi Kesaksian gereja dipanggil untuk memberitakan keselamatan yang penuh di dalam Kristus dan kedatangan Kerajaan Allah. Pengutusan ini menentukan hakekat dan keberadaan gereja di dunia ini, sehingga gereja yang tidak bersaksi tidak dapat disebut sebagai gereja lagi.

Gereja tidak boleh melarikan diri dan menutup dirinya dari dunua. Dia harus memberikan perhatiannya kepada masalah-masalah dunia. Masalah-masalah yang ada di dunia ini tidak boleh dihadapi dengan sikap acuh tak acuh. Semua masalah yang terjadi di dunia ini tidak terlepas dari rencana Keselamatan Allah atas dunia ini. Maka justru dengan menunjukkan perhatian yang serius atas berbagai persoalan di dunia, gereja menyatakan dirinya sebagai yang diutus Tuhan.

Jika kita membaca Alkitab, maka kita akan melihat bahwa Tuhan menaruh perhatian besar kepada penderitaan manusia di dunia. Itu sebabnya, gereja dipanggil oleh Tuhan untuk melayani. Pelayanan ini yang terutama ditujukan kepada kelompok orang yang menderita, tertindas, tersesat, terbelakang, tersisih, lapar dan telanjang. Ciri khas pelayanan Kristen adalah kasih dan kebenaran Kristus. Ada banyak bentuk pelayanan, misalnya: menghibur orang kesusahan; menolong orang yang membutuhkan bantuan; memberi bea siswa; menjadi sahabat bagi orang tersisih; memberikan pekerjaan kepada pengangguran; mendamaikan orang yang berselisih dsb.

Kalau digambarkan dalam sebuah lingkaran, idealnya ketika aspek ini berbagi tempat secara seimbang. Namun sayangnya, ada beberapa orang Kristen yang hanya bersedia bersekutu saja tapi tidak mau bersaksi. Ada beberapa lagi yang lebih sibuk melayani, tetapi enggan bersaksi.  Jikalau Anda menghendaki mengalami pertumbuhan rohani, maka Anda harus berada di dalam gereja; dan di dalam gereja itu Anda terlibat di dalam tiga dimensi fungsi gereja secara proporsional: bersekutu, bersaksi dan melayani.

[disarikan dari buku "Tumbuh dalam Kristus"/Purnawan]

Jangan Saling Menjauh

17 December 2006
Kisah ini benar terjadi. Sebut saja Dimas. Sejak masih muda, dia sangat aktif dalam kegiatan gereja. Isterinya juga seorang aktivis gereja. Di dalam masyarakat, Dimas dikenal sangat aktif dalam kegiatan sosial. Dia punya kepedulian yang sangat tinggi. Ada banyak orang yang sudah dibantunya.
Sayangnya, pernikahannya yang telah dijalani selama puluhan tahun itu justru berada di ambang perpecahan. Selama beberapa bulan, mereka hidup terpisah di dua kota yang berbeda. Hingga suatu ketika terdengar kabar mengejutkan. Dimas meninggal, ketika sedang bersama wanita lain di kamar sebuah hotel.
Dalam suratnya, Paulus memberi izin kepada pasangan suami-isteri untuk saling menjauh, tapi ada syaratnya: (1). Sudah disepakati; dan (2). Untuk sementara. Tujuannya, untuk memberi kesempatan pada setiap pihak untuk berdoa tanpa gangguan. Dengan demikian, sesudahnya akan terjadi rekonsiliasi. Jika “pisah ranjang” dilakukan tanpa syarat dan tujuan ini, maka bahayanya masing-masing pihak tidak dapat menahan godaan nafsu jahat.
Keluarga Blessing, Paulus menulis: “Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri; yang berkuasa atas tubuhnya adalah suaminya. Begitu juga suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri; yang berkuasa atas tubuhnya adalah istrinya” (1 Kor.7:4). Dengan memegang prinsip ini, maka perselingkuhan dapat dihindarkan. Ketika mendapat godaan maka seorang suami akan berpikir, “tubuhku ini adalah milik isteriku. Aku tidak berhak untuk menyalahgunakannya.” Demikian juga halnya bagi seorang isteri [Purnawan].

Transformasi Bangsa

10 December 2006
"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." - (Mazmur 119:105)

Tahun 1787 pada usia 33, Kapten Bligh diberi tugas memimpin sebuah kapal dagang bernama "Bounty". Kapal itu memulai pelayaran pada 23 December 1787.
Pada April 1789, terjadi pemberonatakan di kapal yang digalang oleh sahabat Bligh sendiri, yaitu Fletcher Christian. Kalimat berikut ini diambil dari buku harian Bligh, 28 April:"Sebelum fajar, Christian dan nahkoda ..menerobos masuk kabin ketika aku masih tertidur, mengikat tanganku dengan tali dan mengancam akan membunuh jika aku berteriak..."
Hari itu juga, Bligh bersama 8 pengikut setianya diturunkan dari kapalnya di atas sebuah sampan. Biasanya orang yang mendapat perlakuan ini ini akan berakhir dalamn kematian, tetapi Bligh adalah pelaut yang hebat. Mereka mendarat dengan selamat di pulau Timor pada 14 Juni. Mereka menempuh jarak 3618 mil laut selama 47 hari.
Kapten Bligh berhasil pulang ke Inggris untuk melaporkan kejahatan itu. Para pelaut yang memberontak itu dihukum gantung.
Duapuluh tahun berlalu. Kisah ini terlupakan. Hingga ada pelaut yang menemukan pulau yang tidak ada di peta ini. Mereka terkesima ketika mendarat di pulau ini. Di sana tidak ada penyakit, kejahatan atau orang mabuk. Yang ada hanyalah kerukunan dan harmoni.
Ternyata ada ceritanya: Dari delapan pengikut Bligh yang mendarat, semuanya dibunuh penduduh lokal, kecuali Alexander Smith. Di dalam keputus-asaan, Smith mengaduk-aduk barang-barang milik teman-temannya untuk mencari whiski. Tapi yang ditemukannya adalah Alkitab. Dia membacanya dan menjadi Kristen. Dia lalu mengenalkan Kristus pada seluruh penduduk di pulau Timor itu, dan bersama-sama menjalankan Firman Tuhan. Luar biasa, Firman Tuhan bisa mengubahkan isi pulau itu dari suku yang kejam menjadi suku yang ramah.
Apa yang kita bisa pelajari dari kisah ini? Firman Tuhan bisa mengubah perilaku, tidak hanya satu orang, tapi perilaku satu bangsa. Inilah yang disebut tranformasi yang sesungguhnya.

Tuhan, Aku rindu Engkau mengubah karakter bangsa Indonesia sehingga kami mengalami transformasi ke arah yang lebih baik. Kabulkan permohonanku ini, Tuhan.

Pahlawan Iman

"Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya". (Ibrani 10:35)

Uskup Festus Kivengere dari Uganda menceritakan penganiayaan yang dilakukan diktator Idi Amin terhadap orang Kristen Uganda, 1973:" 10 Februari adalah hari yang tak terlupakan... Saya diijinkan penguasa untuk berbicara dengan orang-orang yang akan dihukum mati.... Tangan mereka diborgol dan kaki mereka dirantai. Mereka diturunkan di tengah stadion dari sebuah truk. Pasukan penembak sudah siap di situ
Ketika mendekat, saya melihat wajah mereka berseri-seri. Mereka berkata, 'Uskup, terimakasih karena sudah datang. Saya ingin bersaksi. Ketika saya ditangkap, di penjara saya menerima Yesus sebagai Juruselamat. Dia menghapus dosa-dosaku! Sorga kini terbuka dan tidak ada lagi yang mengahalngi antara saya dengan Tuhan! Tolong beritahu anak dan istri saya bahwa saya sudah bersama Yesus. Katakan juga supaya mereka juga menerima Dia.'
"Dua orang lagi bercerita kisah yang sama. Saya merasa harus mengatakan semua itu kepada para tentara itu, dengan bahasa yang mereka mengerti. Tentara yang berdiri dengan senjata terkokang itu terlihat kebingungan.
"Tiga orang itu berdiri menghadap regu penembak dengan tegar. Mereka mengangkat tangan dan melambaikan ke arah penonton. Penonton ikut melambaikan tangan. Suara tembakan memecah keheningan, lalu ketiganya bersama Yesus…"
"Minggu berikutnya, saya menceritakan pembunuhan tiga orang ini dalam kebaktian di kota kelahiran salah satu orang yang mati itu. Pada mulanya, jemaat terlihat berduka. Akan tetapi ketika saya menceritakan kesaksian orang itu, perkabungan itu berubah menjadi puji-pujian pada Tuhan! Banyak orang yang berbalik kepada Tuhan."
Dalam Ibrani 11, kita membaca daftar orang-orang yang menderita karena iman mereka. "Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan." (Ibrani 11:37). Tidak hanya di Uganda atau di Israel, di Indonesia pun ada banyak orang Kristen yang menjadi martir Allah. Ada baiknya kalau kita mendokumentasikan kepahlawanan mereka sehingga bisa menjadi sumber teladan bagi banyak orang. (Wwn)

Tuhan, ajarku supaya bisa meneladani keteguhan hati para martir di dalam mempertahankan iman mereka. Beri aku kekuatan ketika aku harus mempertanggunjawabkan imanku di hadapan orang lain.

Tuhan tidak Butuh Orang Hebat

"Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu." (1 Tesalonika 1:5)

Apakah Anda merasa tidak punya cukup kemampuan untuk melayani Tuhan? Jika jawabannya, 'ya', maka Anda tidak sendirian. Paulus juga merasa begitu. Meskipun punya otak cerdas, Paulus mengakui kalau dia tidak pandai berkhotbah," Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh." (1 Korintus 2:3-4). Bahkan pengkritiknya mengatakan:"perkataan-perkataannya tidak berarti." (2 Korintus 10:10)
Susah dibayangkan memang, seorang rasul untuk orang non-Yahudi, orang yang paling banyak menulis surat-surat dalam Alkitab, yang membawa Injil ke Roma,dan yang merintis banyak gereja, tetapi menurut para pengkritiknya payah dalam berkhotbah!
Bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa Tuhan memilih orang yang tidak bisa bicara efektif? Mengapa Tuhan tidak memilih orator ulung saja untuk menyampaikan kabar yang penting ini? Jawabnya, Tuhan memilih Paulus supaya orang lain melihat bahwa kekuatan pesan yang disampaikan Paulus bukan terletak pada kemampuan dirinya melainkan dari kekuatan adi kodrati.
Melayani Tuhan tidak harus selalu menjadi pengkhotbah. Kita bisa melayani Tuhan dengan, misalnya dengan menjadi pekerja sosial atau relawan untuk lembaga-lembaga sosial. Misalnya, kita bisa menjadi tenaga penyuluh sukarela tetntang bahaya AIDS, narkoba, atau aborsi di lingkungan kita. Tuhan tidak membutuhkan orang-orang yang hebat, karena dia sudah Maha Hebat. Tuhan hanya menghendaki kepercayaan dan ketaatan kita. (wwn)

Tuhan, pakailah aku dengan segala keberadaanku. Aku percaya dengan anugerah-Mu, aku bisa melakukan perkara besar.

40 Martir Sebastian

40 Martir Sebastian
"Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa" (2 Korintus 6:4-5)

Tahun 320, Licinius yang jadi kaisar Romawi Timur, menganiaya orang Kristen. Dia memerintahkan semua tentaranya untuk menyangkali Kristus. Tapi di wilayah Sebaste (sekarang Sivas, Turki), ada 40 tentara yang menolak perintah itu. Mereka ditelanjangi dan direndam dalam danau beku di malam hari.
Untuk menggoda mereka, para perwira membuat api unggun di pinggir danau, lengkap dengan selimut, air hangat, makanan dan minuman panas. "Datanglah ke sini kalau kamu mau menolak imannmu," teriak mereka.Tapi ada seorang ibu dari tentara termuda menyemangati mereka dari pinggir danau.
Dengan berani, tentara Kristen ini menjawab, "Kalian boleh merampas senjata dan tubuh kami, tetapi jiwa kamia dalah milik Kristus." Mereka lalu berangkulan sambil menyanyi lagu kemenangan
Menjelang malam, ada seorang yang tidak tahan. Dia lari ke pinggir danau. Tapi lalu ada kejadian luar biasa. Di antara perwira itu ternyata ada yang diam-diam percaya pada Kristus. Dia lalu menanggalkan bajunya dan bergabung ke dalam es untuk menggantikan orang yang tidak tahan siksaan itu. Saat fajar, keempat puluh tentara Kristen itu ditemukan mati membeku.
Setiap kali membaca kisah kemartiran, saya selalu mendapat penguatan dan diberkati dari kegigihan iman mereka. Tapi saya juga merasa jadi malu pada diri sendiri, karena saya kadangkala mencari banyak dalih supaya tidak perlu menunjukkan iman di hadapan umum. Tetapi Paulus menegaskan dengan menanggung semua kesesakan,kesukaran dan penderitaan dengan sabar itulah kita bisa menunjukkan sebagai "pelayan Allah."
Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi martir, tetapi semua orang dipanggil menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi artinya mengatakan kebenaran di depan banyak orang. Tidak ada saksi yang bersaksi dengan diam-diam. Ini bukan pilihan. Ini adalah kewajiban kita.