40 Martir Sebastian
"Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa" (2 Korintus 6:4-5)
Tahun 320, Licinius yang jadi kaisar Romawi Timur, menganiaya orang Kristen. Dia memerintahkan semua tentaranya untuk menyangkali Kristus. Tapi di wilayah Sebaste (sekarang Sivas, Turki), ada 40 tentara yang menolak perintah itu. Mereka ditelanjangi dan direndam dalam danau beku di malam hari.
Untuk menggoda mereka, para perwira membuat api unggun di pinggir danau, lengkap dengan selimut, air hangat, makanan dan minuman panas. "Datanglah ke sini kalau kamu mau menolak imannmu," teriak mereka.Tapi ada seorang ibu dari tentara termuda menyemangati mereka dari pinggir danau.
Dengan berani, tentara Kristen ini menjawab, "Kalian boleh merampas senjata dan tubuh kami, tetapi jiwa kamia dalah milik Kristus." Mereka lalu berangkulan sambil menyanyi lagu kemenangan
Menjelang malam, ada seorang yang tidak tahan. Dia lari ke pinggir danau. Tapi lalu ada kejadian luar biasa. Di antara perwira itu ternyata ada yang diam-diam percaya pada Kristus. Dia lalu menanggalkan bajunya dan bergabung ke dalam es untuk menggantikan orang yang tidak tahan siksaan itu. Saat fajar, keempat puluh tentara Kristen itu ditemukan mati membeku.
Setiap kali membaca kisah kemartiran, saya selalu mendapat penguatan dan diberkati dari kegigihan iman mereka. Tapi saya juga merasa jadi malu pada diri sendiri, karena saya kadangkala mencari banyak dalih supaya tidak perlu menunjukkan iman di hadapan umum. Tetapi Paulus menegaskan dengan menanggung semua kesesakan,kesukaran dan penderitaan dengan sabar itulah kita bisa menunjukkan sebagai "pelayan Allah."
Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi martir, tetapi semua orang dipanggil menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi artinya mengatakan kebenaran di depan banyak orang. Tidak ada saksi yang bersaksi dengan diam-diam. Ini bukan pilihan. Ini adalah kewajiban kita.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment