Ludes Dilalap Api

27 December 2007

Thomas Edison adalah penemu microphone, phonograph, lampu pijar, accu, film bersuara dan lebih dari 1000 temuan lainnya. Suatu malam di bulan Desember 1914, dia sedang merampungkan karyanya yaitu baterai penyimpan tenaga yang sudah dia kerjakan selama 10 tahun. Proyek ini telah menghabiskan banyak biaya. Tiba-tiba terjadi kebakaran di ruangan penyimpanan film.Padahal di ruangan itu tersimpan bahan-bahan yang mudah sekali terbakar. Dalam sekejap ruangan itu dilalap api.

Pemadam kebakaran yang didatangkan dari delapan kota sekitarnya tidak mampu memadamkan api. Tanpa ampun, api melalap aset senilai sekitar dua juta dollar (Bangunan itu hanya diasuransikan sebesar $238,000).

Apakah musibah itu memukul semangat sang Penemu? Charles (24 tahun), anak Thomas Edison bersaksi: Dia melihat ayahnya sedang berdiri melihat kebakaran itu dengan tenang. Wajahnya berkilat-kilat karena memantulkan nyala lidah-lidah api. Rambutnya yang mulai memutih berkibar-kibar ditiup angin. "Saya menaruh kasihan pada ayah," kata Charles,"dia sudah berusia 67 tahun, sudah tidak muda lagi. Segala miliknya sudah dilalap api." Tiba-tiba Edison berteriak padanya. "Charles, dimana ibumu?" Charles mengatakan kalau dia tidak tahu."Carilah dan ajak dia ke sini. Dia tidak akan pernah melihat pemandangan seperti ini lagi," perintah Edison .

Paginya, Edison melihat sisa-sisa kebakaran dan berkata,"ada keuntungan besar dari musibah ini. Semua kesalahan kita ikut terbakar. Puji Tuhan, kita bisa memulai yang baru."

Tiga minggu setelah kebakaran, Edison merampungkan karya temuan phonograph.

Peran Kakek Boutros Boutros-Ghali

25 December 2007

Boutros Boutros-Ghali, adalah orang pertama yang menjadi Sekeratris Jenderal PBB. Ternyata dia memiliki tradisi politik dalam keluarganya. Kakeknya, yang bernama, Boutros Ghali, adalah satu-satunya Perdana Menteri Mesir yang Kristen. Dia dibunuh tahun 1910. Penduduk Kairo mengelu-elukan pembunuh yang berasal dari suatu kelompok keagamaan garis keras.

Keluarga Boutros Ghali tidak ingin rakyat Mesir melupakan jasa almarhum. Karena itu mereka mengambil namanya, Boutros (Petrus) untuk diberikan kepada nama cucunya. Mereka juga membangun gereja di Kairo untuk mengenang sang Perdana Menteri.

Pada nisan Boutros Ghali tertulis kata-kata: "Tuhanlah yang menjadi saksi bahwa aku telah mengabdikan segenap kemampuanku kepada negeri ini."

Boutros Boutros-Ghali mengaku bahwa kakeknya sangat mempengaruhi dirinya. Dia berkata,

"Bagi seorang anak yang tumbuh dewasa dengan teladan seperti itu, menimbulkan dampak yang sangat besar. Saya merasa telah mengkhianati tradisi keluarga kami jika saya tidak mau mengemban peran politik."

Nasihat yang Bagus

23 December 2007

Seorang remaja berusia 16 tahun bernama William pergi merantau untuk mengadu keberuntungan. Dia pergi dengan menumpang kapal. Di atas kapal itu dia berkenalan dan bercakap-cakap dengan kapten kapal. Kepadanya, William bercerita bahwa keluarganya sangat miskin. Karena itulah dia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota. Satu-satunya modal yang dia miliki adalah ketrampilan membuat lilin dan sabun.

Kapten kapal yang sudah tua ini lalu mengajak Willam berdoa bersama. Setelah itu dia memberikan nasihat:"William, seseorang akan menjadi pembuat sabun terkemuka di New York. Dan orang itu mungkin saja kamu. Jadilah orang yang baik. Serahkan hatimu pada Kristus. Berikan pada Tuhan , apa yang menjadi hak-Nya. Buatlah sabun dengan cara yang jujur. Berikan takaran timbangan dengan tepat. Saya yakin, kamu akan menjadi orang yang beruntung dan kaya."

Bocah yang sedang mendengarkan nasihat dari orang saleh ini bernama William Colgate. Di kemudian hari, dia menjadi menjadi pengusaha sukses di bidang peralatan mandi. Salah satunya produk pasta gigi yang memakai namanya sebagai mereknya, yaitu "Colgate". Dia sukses karena mematuhi nasihat kapten kapal itu, termasuk kepatuhan memberikan persembahan jutaan dollar kepada Tuhan.

Taman Eden di Pulau Gersang

22 December 2007

Di dalam buku "The Americanization of Edward Bok," Edward Bok menuliskan kisah tentang kakeknya yang tinggal di Denmark. Suatu kali sang kakek diberi perintah oleh raja Denmark untuk memimpin pasukan berperang melawan para bajak laut. Bok dan pasukannya membangun markas di sebuah pulau karang yang terpencil. Setelah beberapa tahun mereka berhasil menumpas para bajak laut itu.

     Bok menghadap Raja untuk melaporkan hasil pekerjaannya. Raja merasa senang, lalu menanyakan apa yang diingini Bok sebagai hadiah. Bok hanya meminta pulau yang selama bertahun-tahun dia tinggali. Raja menjadi sangat heran karena pulau itu sangat gersang. Mengapa Bok ingin tinggal di sana? "Saya ingin menanam pohon dan menyulap pulau itu menjadi indah," jawab Bok. Tapi raja Denmark menganggap itu sebagai keinginan gila. Pulau itu sering dilanda angin badai. Dia tidak mungkin bisa menanam pohon besar di sana.

     Tapi karena Bok sangat ngotot maka Raja mengabulkan permintaannya. Bok lalu kembali ke pulau itu dan membangun rumah di sana. Setelah itu memboyong istrinya ke sana. Kemudian dia bekerja keras menanam pohon dan tumbuhan lainnya di pulau itu. Sedikit demi sedikit pulau itu berubah menjadi hijau. Setiap pagi ada burung yang berkicau. Padahal sebelumnya tidak ada seekor burung pun di pulau itu.

     Pulau itu lalu menjadi tempat wisata dan dikunjungi ribuan turis setiap tahun. Saat meninggal dunia, di batu nisannya tertulis kata-kata:"Buatlah dunia ini lebih indah dan lebih baik karena Anda ada di atasnya."

     Tapi kisahnya belum berakhir di sini. Edward Bok, sang cucu, yang telah menjadi warga negara Amerika punya keyakinan bahwa setiap orang juga bisa melakukan hal yang sama. Untuk itu, orang itu harus pensiun pada usia 50 tahun dan membaktikan sisa umurnya untuk membuat dunia ini lebih indah dan lebih baik untuk ditinggali. Dia membuktikan ucapannya itu. Pada usia 50 tahun dia pensiun sebagai editor Ladies' Home Journal.

     Suatu hari, saat bertamasya ke Florida tengah, di mengunjungi Iron Mountain, yang berketinggian 98 meter dari atas permukaan laut. Itu adalah tempat tertinggi di Florida. Tiba-tiba terlintas gagasan di kepalanya: mengapa tidak mengulangi karya kakeknya di Amerika? Dia membeli tanah itu dan mulai bekerja. Usahanya berhasil. Tempat itu sekarang ini disebut Mountain Lake Sanctuary, di Lake Wales, Florida. Ketika meninggal, Edward Bok mewariskan tempat itu kepada negara bagian Florida, dan sekarang menjadi tempat tujuan wisata utama. Di atas batu nisan Edward Bok tertulis kata-kata yang mirip dengan tulisan di batu nisan kakeknya: "Buatlah dunia ini sedikit lebih indah dan lebih baik karena Anda ada di dalamnya."

   

Gagal Menjadi Misionaris

Tahun 1920, seorang pemuda bernama Oswald Smith mengikuti seleksi untuk penerimaan calon misionaris. Dia punya kerinduan yang sangat besar untuk melayani sebagai misionaris. Dia berdoa, "Tuhan, saya ingin menjadi misionaris bagi Engkau. Tolong bukakan pintu untuk saya."

     Dia merasa akhirnya doanya dijawab saat dia punya kesempatan mengikuti seleksi itu. Akan tetapi saat dia mengerjakan ujian, situasinya berbalik. Hasil ujian menunjukkan bahwa Oswald Smith tidak memenuhi persyaratan sebagai misionaris. Dia kecewa berat, padahal dia punya keinginan yang kuat. Apa yang harus dilakukan sekarang? Ketika Oswald Smith berdoa, Tuhan menaruh ide lain dalam pikirannya. Jika dia tidak bisa pergi sebagai misionaris, maka dia bisa menjadi pengirim misionaris. Itulah yang dia kerjakan. Oswald Smith lalu mendirikan gereja The People di Toronto, Kanada. Pada zamannya, gereja ini mengirimkan lebih banyak misionaris dibandingkan dengan gereja-gereja lainnya.

Harta dalam Keluarga

19 December 2007

Samuel Wesley, ayah John Wesley, adalah seorang pendeta yang setia. Di antara jemaat yang dia gembalakan, ada seorang yang tidak menyukai dia. Tanggal 9 Februari 1709, tiba-tiba api melalap rumahnya di Epworth. Kemungkinan besar, api itu disulut oleh jemaat yang tidak suka padanya. Pada saat api masih menyala-nyala, John Wesley yang belum genap berusia enam tahun berdiri di lantai atas dengan kebingungan. Dua orang tetangganya menolong John. Seorang berdiri di atas bahu yang lain dan menarik John keluar melalui jendela. Pertolongan itu itu diberikan tepat waktu, karena beberapa saat kemudian atap rumah itu runtuh.

     Samuel Wesley lalu mengumpulkan keluarga dan semua tetangganya. Dia berkata,"Mari kita berdoa. Mari kita mengucap syukur pada Tuhan. Dia telah menyelamatkan delapan anak kami. Biarlah rumah itu terbakar. Saya sudah cukup kaya dengan keluarga saya."

      Samuel Wesley melayani selama 40 tahun di Epworth. Meskipun pelayanannya tidak begitu berhasil, tapi dia berhasil mendidik anaknya yang kemudian menjadi Penginjil ternama. Namanya John Wesley. Ketika bertumbuh dewasa dan mulai melayani, John Wesley sering menyebut dirinya sebagai "puntung yang telah ditarik dari api?"  (Zakharia 3:2; Amos 4:11)

Sang Badut Grimaldi

Dalam khotbahnya, C.H. Spurgeon pernah menceritakan kisah ini: Tahun 1835, seorang pria memeriksakan diri kepada seorang dokter di Florence, Italia. Dia merasakan kecemasan yang luar biasa.  Karena kesulitan tidur, akhirnya seluruh badannya menjadi lemas. Dia tidak punya nafsu makan dan enggan bertemu dengan teman-temannya.

     Dokter lalu memeriksa dia dan mendapati bahwa kondisi tubuh orang ini  sebenarnya sehat saja. Dokter menyimpulkan bahwa pasiennya ini perlu bersantai. Dia lalu memberitahukan bahwa ada rombongan sirkus yang sedang main di kota itu. Di sirkus itu ada badut yang menjadi bintang pertunjukan. Namanya Grimaldi. "Saya menyarankan Anda menonton pertunjukan sirkus itu," saran dokter, "Grimaldi adalah badut terlucu di dunia. Dia akan membuat Anda tertawa sehingga menyembuhkan kesedihan Anda."

     "Tidak bisa," jawab pasien dengan putus asa," Itu tidak akan menyembuhkan karena sayalah yang bernama Grimaldi itu!"

Tragedi Fyodor Dostoevsky

13 December 2007

Fyodor Dostoevsky adalah seorang pengarang yang berbakat. Pada usia 25 tahun dia menulis novel "Rakyat Miskin" yang berhasil memikat pembaca di Rusia. Dia segera menjadi tenar. Sayangnya dia suka berpesta dan mabuk-mabukan.

      Suatu hari dia mengkritik Czar Rusia dengan pedas. (Pada saat itu, orang tidak berani mengkritik kekuasaan Czar.) Dia ditangkap di St. Petersburg dan dijatuhi hukuman mati bersama dengan beberapa pemberontak lain.

      Pagi hari di bulan Desember yang dingin, dia digelandang ke lapangan tembak. Pakaian putih sudah dikenakan padanya. Matanya ditutup. Bunyi suara kokangan senjata bergema di tengah kesunyian pagi. Sunyi beberapa saat. Tiba-tiba terdengar langkah sepatu yang membawa kabar bahwa Czar membatalkan hukuman mati. Sebagai gantinya Dostoevsky harus kerja paksa selama 10 tahun di penjara Siberia yang sangat dingin.

      Di penjara itu, satu-satunya buku yang boleh dibaca Dostoevsky adalah Alkitab Perjanjian Baru. Dalam buku itulah dia menemukan sesuatu yang indah, yaitu kebenaran sejati yang melampui ideologi sosialis. Dia menemukan Kristus dan sejak saat itu hidupnya berubah.

     Menjelang hari-hari pembebasannya, dia menulis surat kepada teman yang membantunya bertumbuh di dalam Kristus: "Memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang lebih indah, yang lebih dalam, yang lebih mengerti, yang lebih masuk akal, yang lebih manusiawi dan yang lebih sempurna daripada Kristus; Bukan saja tidak ada, saya mengatakan pada diri saya dengan cinta yang menyala-nyala, melainkan juga bahwa tidak mungkin akan ada. Selain itu, jika ada orang yang membuktikan pada saya bahwa Kristus itu berada di luar kebenaran, dan memang ada kebenaran lain di luar Kristus, maka saya memutuskan akan memilih tetap bersama Kristus daripada dengan kebenaran itu."

     Setelah Dostoevsky dibebaskan,dengan bersemangat dia menuliskan pengalamannya selama di penjara di dalam dua buku berjudul, "The House of the Dead" dan "Crime and Punishment". Dia juga menulis karya-karya besar yang lain.  Sayangnya, setelah itu dia jarang sekali pergi gereja. Iman kekristenannya tidak lagi bertumbuh. Dia enggan mempelajari Alkitab dan jarang bersekutu dengan saudara seiman. Selain itu, tidak ada orang Kristen yang berusaha memuridkan dia. Dia mulai mabuk-mabukan dan berjudi yang membuatnya jatuh miskin. Dia meninggal di dalam kemiskinan.

Mimpi Besar James Irwin

Malam itu tidak jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Setelah makan malam, James Irwin asyik bermain-main, sedangkan  Mama dan Papanya memilih bersantai setelah letih seharian bekerja. Saat itu sedang terjadi bulan purnama. Sinar bulan menerobos melalui jendela.

     Sang Mama melihat jam dinding. "Jimmy, sekarang waktunya tidur. Pergilah ke kamarmu. Nanti Mama menyusul," perintahnya kepada James Irwin. Tidak seperti biasanya, Jimmy menuruti perintah itu. Dia langsung naik tangga ke lantai atas tanpa memprotes.

     Sejam kemudian, Mamanya memeriksa kamar anaknya. Dia heran karena melihat anaknya sedang mengamati bulan yang terlihat melalui jendela kamarnya.

     "Kamu sedang apa, Jimmy?"

     "Sedang melihat bulan, Ma."

     "Sekarang sudah malam. Tidurlah."

     Dengan sedikit enggan, anak itu berkata, "Mama, suatu saat nanti aku akan berjalan di bulan itu."  Mamanya hanya mendengus. Dia pikir adalah biasa jika seorang anak punya cita-cita yang aneh.

     Tapi siapa menduga ternyata James Irwin serius dengan keinginannya. Dia terus memupuk mimpi yang mulai bertumbuh itu. Harapannya nyaris pupus, ketika dia mengalami kecelakaan sepeda motor yang parah. Banyak tulangnya yang patah. Tapi, dia tidak berhenti mengejar mimpinya hingga mimpinya menjadi kenyataan ketika James Irwin menapakkan kakinya di permukaan bulan. Dia adalah salah satu dari 12 orang yang terpilih untuk mengikuti misi pendaratan di bulan.

Talenta itu Murah

10 December 2007

Bertoldo de Giovanni adalah seorang seniman tetapi tidak begitu ternama. Namun jika disebutkan nama guru yang telah mendidik Bertoldo, maka banyak orang yang mengenalnya. Bertoldo adalah murid Donatello seorang seniman pematung terkenal pada saat itu. Dia juga punya seorang murid yang nantinya akan menjadi seniman pematung terkenal sepanjang masa. Namanya Michelangelo.

     Ketika menjadi murid Bertoldo, Michelangelo baru berusia 14 tahun tetapi sudah menunjukkan bakat yang luar biasa. Bertoldo menyadari bahwa orang yang berbakat biasanya lebih suka bermain-main daripada serius berlatih. Karena itu, Bertoldo berusaha memaksa anak didiknya itu untuk selalu serius belajar. Suatu hari saat masuk studio seninya Bertoldo mendapati Michelangelo sedang iseng memain-mainkan patung hasil karyanya sendiri. Bertoldo menjadi geram. Dia  mengambil palu besar, lalu menghancurkan patung itu hingga berkeping-keping. Dia melakukan itu sambil berteriak, "Michelangelo, talenta itu murah; tapi ketekunan itu sangat mahal!"

Menyerah Tanpa Syarat

Pada akhir September 1864, jenderal Nathan Bedford Forrest memimpin tentara Konfederasi berjalan dari Decatur, Alabama, ke Nashville. Akan tetapi supaya bisa sampai ke Nashville, Forrest harus lebih dahulu mengalahkan tentara Union di Athens, Alabama. Komandan tentara Union, kolonel Wallace Campbell, menolak untuk menyerah.

     Forrest mengajak Campbell untuk mengadakan pertemuan empat mata. Setelah itu Forrest mengajak Campbell menginspeksi tentara Konfederasi di sebuah perkemahan. Selesai melihat pasukan di perkemahan itu, mereka lalu pergi ke perkemahan lain. Begitu kedua jenderal ini meninggalkan perkemahan itu, para tentara yang ada di sana cepat-cepat membongkar perkemahan dan berpindah tempat baru.  Mereka mendirikan perkemahan di tempat baru dan bersiap-siap menerima kunjungan Forrest dan Campbell .

     Campbell tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikibuli musuh. Dia tidak tahu dia sebenarnya sedang menginspeksi pasukan lama tapi di posisi yang baru. Hal ini menimbulkan kesan seolah-olah jumlah tentara Konfederasi sangat banyak. Melihat itu, nyali jenderal Cambell menjadi surut. Dia merasa dengan lawan sebanyak itu, pihaknya tidak mungkin memenangkan pertempuran. Akhirnya dia memutuskan menyerahkan diri pada tentara Konfederasi tanpa syarat.

ny Crosby tak Ingin Bisa Melihat

08 December 2007

Francis Jane Crosby terlahir normal pada tanggal 24 Maret 1820. Ketika masih berusia enam minggu, dia menderita infeksi di matanya. Lalu ada seorang yang mengaku-aku sebagai dokter yang mencoba-coba mengobati mata Fanny. Dia meletakkan semangkuk bubur panas di atas kelopak matanya. Akibatnya mata Fanny justru menjadi buta.
Beberapa bulan kemudian, ayah Fanny meninggal dunia. Untuk menghidupi keluarga, Ibunya lalu bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Fanny kecil dititipkan pada neneknya. Dengan sabar, sang nenek mendidik Fanny kecil. Dia sering membacakan Alkitab dan menjelaskan iman Kristen pada Fanny. Ketika Fanny merasa sedih karena tidak bisa bermain seperti anak-anak lain, neneknya lalu mengajarkan cara berdoa pada Tuhan.
Selain itu, ada juga seorang wanita kaya bernama Ny. Hawley yang membantu Fanny menghapal Alkitab. Fanny mampu menghapal kitab Taurat, Injil, Amsal, Kidung Agung dan Mazmur. Kemampuan menghapalnya ini membuat orang lain terkagum-kagum, tetapi Fanny merasa biasa saja. Meski begitu, dia merasa bersyukur sebab dengan kebutaaannya ini malah membuatnya gampang untuk menghapal.
Fanny tidak pernah merasa sedih karena kebutaannya ini. Bahkan ketika masih berusia delapan tahun, dia menulis puisi:
Oh, aku anak yang sangat berbahagia,
meskipun tidak bisa melihat!
Aku memutuskan bahwa di dunia ini,
aku akan berpuas hati!
Banyak berkat kunikmati,
yang tidak orang lain dapati!
Untuk menangis atau berduka karena aku buta,
Aku tak akan melakukannya.
Pada usia 12 tahun, Fanny bersekolah di Institut untuk Orang Buta di New York. Dia lalu mengajar di tempat itu sambil terus menulis puisi. Pada tahun 1858, Fanny menikah dengan Alexander van Alstine, seorang pemain organ terkenal di New York. Fanny sendiri sebenarnya juga pandai bermain harpa dan piano. Beberapa tahun kemudian, Fanny diminta penerbit buku "Bigelow and Main" untuk menulis 3 lagu setiap minggu, yang akan dimuat dalam terbitan untuk Sekolah Minggu.
Hingga meninggal Fanny telah menulis 9000 himne. Banyak lagu ciptaannya yang digemari banyak orang dan menjadi abadi. Sampai kini, orang-orang Kristen masih sering menyanyikan lagu-lagu ciptaannya, seperti "Blessed Assurance"(Kuberbahagia, Yakin Teguh)," "All the Way My Savior Leads Me"(Di Jalan 'Ku Diiring), "Pass Me Not, O Gentle Savior"(Mampirlah, dengar Doaku) " Safe in the Arms of Jesus" (S'lamat di Tangan Yesus), "Jesus, Keep Me Near the Cross"(Pada Kaki SalibMu) "I Am Thine, O Lord" (Aku Milik-Mu, Yesus, Tuhanku) dan masih banyak lagi.
Tuhan merencanakan yang terindah bagi Fanny dengan kebutaan itu. Hal ini sangat disadari oleh Fanny. Dia tidak pernah menyesali kekurangannya itu. Dia malah berkata: "[Kebutaan] ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya." Dia juga berkata, "Apakah jika saya tidak buta, hidup saya bisa seindah sekarang ini?" Di kesempatan lain dia berkata:" Tampaknya ini memang berkat dari Tuhan, yaitu bahwa saya harus buta seumur hidup. Dan saya bersyukur untuk perkecualian ini. Seandainya besok saya ditawari untuk bisa melihat dunia ini dengan sempurna, saya tidak akan menerimanya. Saya mungkin tidak akan pernah bernyanyi memuji Tuhan, jika saya lebih tertarik pada penglihatan yang lebih indah dan menarik."
Suatu kali ada pendeta yang menaruh rasa iba pada Fanny. Dia berkata," Sungguh kasihan. Yang Maha kuasa melimpahkan bakat yang berlimpah-limpah pada Anda, tetapi tidak memberikan penglihatan pada Anda."
Fanny langsung menjawab, “Jika aku bisa dilahirkan lagi, saya akan mengajukan permintaan agar dilahirkan dalam keadaan buta."
“Lho, mengapa begitu?”tanya hamba Tuhan dengan kaget.
“Karena saat saya sampai di Sorga nanti, saya ingin yang pertama kali saya lihat adalah Juruselamat saya."

Selamat Sampai di Rumah

03 December 2007

Seorang misionaris dari Inggris melayani di Portugal selama lebih dari 50 tahun. Namanya Eric Barker. Dia tetap setia melayani, meskipun dalam kondisi yang buruk sekalipun. Namun ketika pecah Perang Dunia II, keadaan menjadi gawat. Barker diberi saran agar memulangkan istri dan anaknya yang berusia delapan tahun demi keselamatan mereka. Barker menuruti nasihat itu. Dia juga mengungsikan adik perempuannya dan tiga anaknya dengan naik kapal yang sama. Barker sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di ladang pelayanan.

     Pada hari Minggu berikutnya, sebelum berkhotbah dia memberi pengumuman di depan jemaat, "Saya baru saja menerima kabar bahwa semua keluarga saya sudah sampai di rumah dengan selamat!" Setelah itu, dia melanjutkan kebaktian itu seperti biasanya.

     Beberapa hari kemudian, jemaat baru mengetahui makna sebenarnya dari kata-kata Barker itu. Rupanya sebelum kebhaktian itu, Barker mendapat kabar bahwa sebuah kapal selam musuh telah menembakkan terpedo ke kapal penumpang yang mengangkut keluarganya. Kapal itu tenggelam. Sebagai orang Kristen, Barker punya keyakinan bahwa semua keluarganya telah sampai di "rumah" yang abadi dengan selamat. Barker tahu pasti bahwa keluarganya bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka. (Mazmur 107:30)

Surat dari si Terhukum Mati

Herman Lange, adalah orang Kristen Jerman yang dihukum mati oleh tentara Nazi pada Perang Dunia II. Di dalam selnya, pada malam sebelum dieksekusi, Lange menulis surat kepada orang tuanya. Dia mengatakan bahwa ada dua hal yang terlintas di pikirannya saat itu: "Pertama, saya dalam perasaan sukacita. Kedua saya dipenuhi dengan pengharapan yang besar." Dia lalu menulis penghiburan yang indah: "Saya menaruh iman saya di dalam Kristus, dan pada hari ini saya memiliki iman yang lebih kuat lagi kepadanya." Akhirnya dia meninggalkan pesan agar orang tuanya membaca Perjanjian Baru: "perhatikanlah keinginanmu, dimana kamu bisa menemukan kebahagiaan atas karunia yang menjadikan kita sebagai anak-anak Tuhan. Apa yang akan terjadi pada anak Tuhan? Kepada siapakah aku harus takut? Justru sebaliknya, aku bersukacita!"

Bila Tugas Sudah Selesai.

01 December 2007

Tanggal 21 Desember 1899, setelah memberikan khotbah singkat dalam KKR di Kansas City, D. L. Moody pulang dalam keadaan sakit. Kepada keluarganya dia berkata, "Saya tidak akan pernah menyerah. Saya ingin hidup selama mungkin sepanjang saya masih berguna. Tapi jika pekerjaan sudah selesai, maka saya ingin berhenti."

     Paginya, Moody terbangun setelah semalaman tidak bisa tidur. Dia berkata, "Bumi berlalu, Sorga terbentang di hadapanku." Anaknya yang bernama Will, menyangka ayahnya sedang bermimpi. "Bukan. Ini bukan mimpi, Will. Indah sekali. Mirip sekali dengan kerasukan. Jika ini yang disebut kematian, maka ini sangat manis. Tidak ada lembah kegelapan di sini. Tuhan memanggilku, dan aku harus berangkat."