D.L. Moody Bersaksi

12 February 2008
Moody berjanji pada Tuhan bahwa setiap hari dia akan bersaksi, setidaknya pada satu orang. Suatu malam, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dia baru teringat bahwa belum bersaksi pada orang lain. Maka dia segera keluar rumah dan menemui seorang pria yang bersandar di sebuah tiang lampu jalan. "Apakah Anda orang Kristen?" tanya Moody. Tapi orang itu malah menjadi marah. Dia memukul Moody hingga terjerembab ke dalam selokan.

Beberapa hari kemudian, pria itu menemui majelis gereja dan mengeluh perilaku Moody. Menurutnya, Moody "melakukan hal yang lebih berbahaya bila dibandingkan dengan perbuatan baik 10 orang di Chicago." Menanggapi hal ini, majelis gereja lalu menegur D.L. Moody agar tidak terlalu gegabah dalam bersaksi.

Tiga bulan kemudian, saat menginap di YMCA, Moody dibangunkan oleh orang yang mengetuk pintu. Ternyata tamu itu adalah pria yang pernah diberi kesaksian oleh Moody pada malam itu. "Saya ingin berbincang-bincang soal jiwa saya," katanya kepada Moody. Dia meminta maaf atas perbuatan yang tidak menyenangkan yang dulu. Dia mengaku sejak malam itu dia menjadi gelisah. Moody lalu membimbing pria ini untuk mengenal Kristus. Pria ini kemudian menjadi pekerja yang rajin di dalam pelayanan Sekolah Minggu.

,

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Menginjili itu Gampang

Berikut ini adalah kisah Doug Nichols yang berusaha mengabarkan Injil di India. Mula-mula dia hampir frustasi karena gagal. Tapi dia berhasil menemukan cara untuk menyebarkan Kabar Baik itu. Doug bercerita:

"Saat melayani melalui Operation Mobilization di India tahun 1967, saya dirawat di sebuah sanitarium selama beberapa bulan karena menderita TBC (Tubercolosis). Setelah beberapa hari dirawat di sana, saya mencoba membagikan traktat pada pasien, dokter dan perawat, tapi tidak seorang pun yang mau menerima. Mereka tampaknya tidak suka pada orang Amerika kaya tapi dirawat di sanatorium milik pemerintah (mereka menganggap semua orang Amerika itu kaya). Mereka tidak tahu bahwa dengan melayani di O.M., saya sama miskinnya dengan mereka.

Saya menjadi sedih tidak punya kesempatan bersaksi karena hambatan bahasa dan tak ada orang yang mau menerima traktat atau Injil Yohanes.

Suatu malam, saya terbangun jam 2 pagi karena terbatuk-batuk. Ketika bermaksud meludahkan dahak, saya melihat ada pasien yang sudah tua di barisan ranjang seberang berusaha bangun dari tempat tidurnya juga. Dia ingin bangun dan berdiri di sisi tempat tidurnya, tetapi karena tubuhnya terlalu lemah, dia terjatuh lagi di tempat tidurnya. Saya tidak begitu mengerti apa yang akan dia lakukan. Dia akhirnya terbaring lagi karena kelelahan. Saya lalu mendengar dia menangis lirih.

Pagi harinya, saya baru mengetahui apa yang akan dilakukan pria itu. Dia sebenarnya hanya ingin berjalan ke kamar mandi! Akan tetapi karena sakit dan kelemahan tubuhnya, dia tidak bisa melakukan itu. Akibatnya karena tidak tahan lagi di buang air tempat tidur.

Begitu fajar, suasana di bangsal kami segera ribut. Pasien-pasien lain mengeluh dan mengomel-ngomel karena mencium bau yang tak sedap itu. Para perawat menjadi jengkel pada pria tua itu karena mereka harus membersihkan kotoran itu. Mereka memindahkan pria lemah itu dengan kasar. Bahkan seorang perawat menjadi sangat marah sehingga menampar wajahnya. Pria itu terlihat sangat malu dan terpukul. Dia hanya menundukkan kepala sambil menangis.

Keesokan malamnya, kira-kira jam 2 pagi, saya kembali terbangun karena terbatuk-batuk. Saya melihat pak Tua itu berusaha bangun lagi untuk ke kamar mandi. Sekali lagi, dia juga tidak kuat berdiri. Sama seperti Anda, saya juga tidak suka pada bau tidak sedap itu. Sebenarnya saya enggan terlibat jauh karena saya sendiri juga menderita sakit. Akan tetapi setelah melihat kejadian tadi pagi, maka saya turun dari tempat tidur dan menghampiri tempat tidurnya. Dia sedang menangis sendirian dan tidak menyadari kalau saya mendatangi dia. Saya menyentuh bahunya. Dia menatap saya. Saya hanya tersenyum lalu membopong tubuhnya.

Meskipun saya juga menderita sakit dan lemah, tapi saya jelas lebih kuat daripada dia. Lagipula, tubuhnya juga sangat ringan karena cukup lama menderita sakit TBC. Saya membawanya ke kamar mandi. Setelah, dia selesai membersihkan dirinya, saya kembali membopongnya ke tempat tidurnya. Saya membaringkan dia. Dia mencium pipi saya dan berkata sesuatu, sepertinya mengucapkan terimakasih.

Yang mengejutkan adalah apa yang terjadi di beberapa jam kemudian. Pasien lain yang belum saya kenal membangunkan saya pukul empat pagi, sambil membawa secangkir teh India yang hangat. Dia melakukan gerakan tangan (dia tidak bisa berbahasa Inggris), membuat isyarat bahwa dia meminta traktat yang saya tawarkan dulu. Saat matahari terbit, pasien-pasien lain mulai berdatangan. Mereka juga minta traktat. Seharian itu semakin banyak orang yang minta traktat dan Injil Yohanes. Mereka yang meminta ini termasuk perawat, pegawai administrasi, dan dokter. Beberapa hari kemudian, beberapa orang membuka hatinya pada Kristus sebagai Juruselamat setelah membaca Kabar Baik itu.

Apa yang dibutuhkan untuk menyampaikan Kabar Baik pada orang-orang ini? Yang jelas bukanlah kesehatan tubuh. Bukan juga kemampuan berbicara atau kecakapan intelektual untuk berdebat.Saya hanya membantu menolong pak tua ini. Semua orang juga bisa melakukan itu."

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Lolos dari Kejaran Suku Indian

John Colter adalah salah satu anggota dari tim ekspedisi yang dipimpin oleh Lewis and Clark. Pada zaman koboy, tim ini melakukan perjalanan yang sangat berbahaya ke wilayah bagian Barat dari Amerika.

Suatu hari, John Colter dan temannya sedang memeriksa perangkap dengan memakai kano di sungai Missouri River. Tanpa sadar dia terlalu jauh memasuki wilayah kekuasaan suku Indian Blackfoot. Mereka segera disergap oleh prajurit suku Indian. Teman John Colter terbunuh ketika dia berusaha kabur, tapi John Colter tertangkap.

Prajurit suku Indian menelanjangi pakaian dan sepatu John lalu menggelandangnya ke sebuah lembah. Mereka sengaja melepaskan John, setelah menunggu beberapa saat, para prajurit Indian segera memburunya. Kisah pelariannya ini lalu menjadi legenda. Dia berjalan selama 11 hari: mendaki gunung, melintasi lembah, dan bersembunyi di hutan. Jika dihitung jaraknya, dia menempuh perjalanan sepanjang 480 kilometer untuk meloloskan diri dari kejaran musuh.

Dipenjara Nafsunya Sendiri

Sejarah yang ditulis Thomas Costain dalam buku, The Three Edwards, menceritakan kisah Raynald III, bangsawan abad ke-14 di Belgia. Raynald memiliki berat badan yang luar biasa, sehingga sering diujuluki "Crassus". Kata ini berasal dari bahasa Latin yang berarti "gendut."

Suatu kali, Raynald bertengkar hebat dengan Edward, adiknya, yang kemudian berbuntut menjadi pemberontakan. Edward berhasil menangkap Raynald tetapi tidak membunuhnya. Dia menempatkan kakaknya di sebuah ruangan di kastil Nieuwkerk. Edward berjanji akan mengembalikan harta dan jabatan Raynald jika dia bisa keluar dari ruangan itu.

Bagi kebanyakan orang, hal ini tidak sulit dilakukan karena ruangan itu memiliki satu pintu dan beberapa jendela dalam ukuran yang normal. Bahkan pintunya pun tidak pernah ditutup atau dikunci.

Masalahnya adalah ukuran tubuh Raynald yang luar biasa besar. Dia tidak bisa melewati lubang pintu itu. Supaya bisa menikmati kebebasan, maka Raynald harus menurunkan berat badannya. Tapi Edward tidak kehilangan akal. Dia sangat mengenal tabiat kakaknya. Setiap hari dia memberikan makanan yang lezat-lezat kepada kakaknya itu. Akibatnya, alih-alih berdiet, badan Raynald malah semakin gemuk.

Jika ada orang yang mengecam Edward karena tindakannya ini, dia sudah punya jawaban: "Kakak saya bukan tahanan, kok. Dia boleh pergi kapan saja dia mau." Tapi itu sama saja bohong.

Raynald tinggal di ruangan itu selama 10 tahun dan baru dibebaskan setelah Edward tewas dalam sebuah pertempuran. Akan tetapi karena kondisi ksehatannya yang semakin memburuk, setahun kemudian dia menyusul kematian adiknya.

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com

Memintakan Ampun Bagi Musuh

Kisah ini terjadi di Amerika pada zaman perang revolusi. Peter Miller adalah pendeta di Ephrata, Pennsylvania, yang menjalin persahabatan dengan George Washington. Di Ephrata ini ada seorang warga yang melakukan apa saja untuk menentang dan menghina Peter Miller. Namanya Michael Wittman.

Suatu hari, Michael Wittman ditangkap karena dituduh bertindak subversif dan dijatuhi hukuman mati. Mengetahui hal ini, Peter Miller berjalan kaki sejauh 112 kilometer ke Philadelphia untuk menyelamatkan nyawa "penentangnya" ini.

"Tidak, Peter," kata jenderal Washington menanggapi pemintaan Peter, "saya tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk menyelamatkan nyawa temanmu itu."

"Temanku? Siapa bilang dia temanku!" sahut pendeta tua itu. "Dia adalah musuh bebuyutanku."

"Apa?" kata Washington dengan kaget. "Kamu berjalan kaki sepanjang 112 kilometer hanya untuk menyelamatkan nyawa musuhmu?" Seketika itu juga pendirian Washington berubah. Dia memberikan pengampunan kepada Michael Wittman dari hukuman mati.

Peter Miller lalu mengajak Michael Wittman pulang ke Ephrata-bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai teman.

Kegigihan Fotografer

14 January 2008
Edward Steichen, tidak akan menjadi fotografer tingkat dunia apabila dia cepat menyerah pada saat melihat hasil jepretannya yang pertama. Pada usia 16 tahun, Steichen muda membeli sebuah kamera dan memotret sebanyak 50 kali. Sayangnya, hanya satu yang menghasilkan foto yang bagus, yaitu potret kakak perempuannya di dekat piano. Ayahnya menilai hasilnya sangat jelek. Tapi ibunya meyakinkan Steichen bahwa walaupun hanya satu, namun hasilnya lumayan bagus, sehingga bisa menembus 49 kesalahan pemotretan lainnya.

Dorongan semangat dari ibunya ini ternyata memberi semangat pada remaja ini untuk menekuni hobinya. Ternyata pujian ibunya tidak sia-sia.

Talenta yang Terkubur

Dante Bartiel Rossetti, adalah penyair puisi dan seniman ternama pada abad ke-19. Suatu hari ada seorang kakek mendatangi dia sambil membawa beberapa sketsa dan lukisan. Dia meminta Rossetti melihat dan menilai sketsa dan lukisan itu. Dia ingin tahu apakah karya itu sudah bagus atau setidaknya ada potensi terpendam.

Rossetti mengamati dengan seksama. Dalam sekejap dia tahu bahwa karya itu tidak menunjukkan adanya talenta seni sama sekali. Dengan bahasa sehalus mungkin dia mengatakan hal itu dengan jujur. Dia merasa tidak enak mengatakan hal itu, tetapi dia tidak mau berbohong.

Kakek itu merasa kecewa sekali, tetapi dia menghormati penilaian Rossetti. Dia minta maaf karena sudah menyita waktu Rossetti. Sebelum pulang dia mengajukan permintaan sekali lagi agar Rossetti bersedia memberikan penilaian karya lukisan yang lain. Kali ini karya seorang siswa jurusan seni.

Rossetti mengamati lukisan yang disodorkan. Dia terlihat sangat antusias mengamati lukisan itu karena ada talenta seni dalam lukisan itu. "Nah, yang ini baru bagus," kata Rossetti, "anak muda ini memiliki talenta seni yang luar biasa. Dia harus dibimbing dan diberi semangat di dalam meniti karir sebagai seniman. Dia punya masa depan yang cerah asalkan dia mau bekerja keras."

Mendengar kata-kata Rossetti, mata kakek itu tampak berkaca-kaca. "Ngomong-ngomong, siapa sih seniman muda ini? Apakah dia anak Anda?" tanya Rossetti

"Bukan," jawab kakek itu dengan raut muka sedih. "Lukisan ini adalah karya saya 40 tahun yang lalu. Andai saja dulu saya mendengarkan pujian ini, maka......" dia tidak meneruskan ucapannya. Dia hanya menghela napas panjang. "Saya terlalu cepat putus asa dan segera menyerah."

::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com/purnawan/index.php

Kristus Sudah Cukup Bagiku

02 January 2008

Suatu malam ketika sedang berlangsung pertemuan di Bala Keselamatan di Citadel-Chicago, Booth Tucker berkhotbah tentang simpati yang diberikan Yesus. Usai kebaktian, seorang pria menghampiri dia dan berkata,"jika istri Anda baru saja meninggal, seperti istri saya, dan bayi Anda terus menangis mencari ibunya, tentu Anda tidak akan berkata seperti yang Anda khotbahkan tadi"

Tragisnya, beberapa hari kemudian istri Tucker meninggal dunia karena tabrakan dengan kereta api. Jenasahnya disemayamkan di gereja Citadel Chicago. Setelah kebaktian, Tucker mengamati wajah istrinya, lalu berpaling ke arah jemaat. Dia berkata, "beberapa hari lalu ada seorang pria mengatakan bahwa saya tidak akan berkata-kata tentang simpati yang diberikan Yesus jika istri saya baru saja meninggal. Jika pria itu ada di sini, saya ingin mengatakan kepadanya bahwa bagi saya Kristus sudah cukup. Hati saya hancur, tapi di sana masih ada lagu yang diberikan oleh Yesus. Saya ingin mengatakan pada pria itu bahwa Yesus Kritus telah memberi penghiburan pada saya hari ini."

Jika Dokter Sakit Flu

Billie Burke adalah seorang artis terkenal. Suatu kali wanita cantik ini berwisata dengan kapal pesiar melintasi samudera Atlantik. Saat duduk di geladak kapal, dia melihat di meja lain ada seorang pria yang sedang menderita sakit flu.

     "Apakah Anda sedang merasa tidak enak badan," tanyanya dengan iba. Pria itu mengangguk.

     "Sebaiknya Anda pergi ke kamar Anda dan minum jus jeruk yang banyak. Minum dua tablet aspirin dan berselimut setebal mungkin. Nanti kalau sudah berkeringat, maka sakit demamnya bisa hilang. Percayalah pada kata-kata saya. Saya Billie Burke dari Hollywood."

     Pria itu tersenyum lalu mengenalkan diri, "Terimakasih untuk nasihatnya. Saya Dokter. Mayo dari klinik Mayo."

Buku Harian

Charles Francis Adams, adalah seorang politisi dan diplomat pada abad ke-19. Dia rajin menulis buku harian. Suatu malam dia menulis: "Hari ini pergi memancing bersama anakku. Membuang-buang waktu saja!"

     Anaknya, Brook Adams, juga rajin menulis buku harian. Dia menulis: "Hari ini pergi memancing bersama ayah. Wah, hari yang paling menyenangkan dalam hidupku!"

     Sang ayah menganggap telah membuang waktu dengan sia-sia saat pergi memancing bersama anaknya. Tapi anaknya menganggapnya sebagai peristiwa yang indah.

Ludes Dilalap Api

27 December 2007

Thomas Edison adalah penemu microphone, phonograph, lampu pijar, accu, film bersuara dan lebih dari 1000 temuan lainnya. Suatu malam di bulan Desember 1914, dia sedang merampungkan karyanya yaitu baterai penyimpan tenaga yang sudah dia kerjakan selama 10 tahun. Proyek ini telah menghabiskan banyak biaya. Tiba-tiba terjadi kebakaran di ruangan penyimpanan film.Padahal di ruangan itu tersimpan bahan-bahan yang mudah sekali terbakar. Dalam sekejap ruangan itu dilalap api.

Pemadam kebakaran yang didatangkan dari delapan kota sekitarnya tidak mampu memadamkan api. Tanpa ampun, api melalap aset senilai sekitar dua juta dollar (Bangunan itu hanya diasuransikan sebesar $238,000).

Apakah musibah itu memukul semangat sang Penemu? Charles (24 tahun), anak Thomas Edison bersaksi: Dia melihat ayahnya sedang berdiri melihat kebakaran itu dengan tenang. Wajahnya berkilat-kilat karena memantulkan nyala lidah-lidah api. Rambutnya yang mulai memutih berkibar-kibar ditiup angin. "Saya menaruh kasihan pada ayah," kata Charles,"dia sudah berusia 67 tahun, sudah tidak muda lagi. Segala miliknya sudah dilalap api." Tiba-tiba Edison berteriak padanya. "Charles, dimana ibumu?" Charles mengatakan kalau dia tidak tahu."Carilah dan ajak dia ke sini. Dia tidak akan pernah melihat pemandangan seperti ini lagi," perintah Edison .

Paginya, Edison melihat sisa-sisa kebakaran dan berkata,"ada keuntungan besar dari musibah ini. Semua kesalahan kita ikut terbakar. Puji Tuhan, kita bisa memulai yang baru."

Tiga minggu setelah kebakaran, Edison merampungkan karya temuan phonograph.

Peran Kakek Boutros Boutros-Ghali

25 December 2007

Boutros Boutros-Ghali, adalah orang pertama yang menjadi Sekeratris Jenderal PBB. Ternyata dia memiliki tradisi politik dalam keluarganya. Kakeknya, yang bernama, Boutros Ghali, adalah satu-satunya Perdana Menteri Mesir yang Kristen. Dia dibunuh tahun 1910. Penduduk Kairo mengelu-elukan pembunuh yang berasal dari suatu kelompok keagamaan garis keras.

Keluarga Boutros Ghali tidak ingin rakyat Mesir melupakan jasa almarhum. Karena itu mereka mengambil namanya, Boutros (Petrus) untuk diberikan kepada nama cucunya. Mereka juga membangun gereja di Kairo untuk mengenang sang Perdana Menteri.

Pada nisan Boutros Ghali tertulis kata-kata: "Tuhanlah yang menjadi saksi bahwa aku telah mengabdikan segenap kemampuanku kepada negeri ini."

Boutros Boutros-Ghali mengaku bahwa kakeknya sangat mempengaruhi dirinya. Dia berkata,

"Bagi seorang anak yang tumbuh dewasa dengan teladan seperti itu, menimbulkan dampak yang sangat besar. Saya merasa telah mengkhianati tradisi keluarga kami jika saya tidak mau mengemban peran politik."

Nasihat yang Bagus

23 December 2007

Seorang remaja berusia 16 tahun bernama William pergi merantau untuk mengadu keberuntungan. Dia pergi dengan menumpang kapal. Di atas kapal itu dia berkenalan dan bercakap-cakap dengan kapten kapal. Kepadanya, William bercerita bahwa keluarganya sangat miskin. Karena itulah dia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota. Satu-satunya modal yang dia miliki adalah ketrampilan membuat lilin dan sabun.

Kapten kapal yang sudah tua ini lalu mengajak Willam berdoa bersama. Setelah itu dia memberikan nasihat:"William, seseorang akan menjadi pembuat sabun terkemuka di New York. Dan orang itu mungkin saja kamu. Jadilah orang yang baik. Serahkan hatimu pada Kristus. Berikan pada Tuhan , apa yang menjadi hak-Nya. Buatlah sabun dengan cara yang jujur. Berikan takaran timbangan dengan tepat. Saya yakin, kamu akan menjadi orang yang beruntung dan kaya."

Bocah yang sedang mendengarkan nasihat dari orang saleh ini bernama William Colgate. Di kemudian hari, dia menjadi menjadi pengusaha sukses di bidang peralatan mandi. Salah satunya produk pasta gigi yang memakai namanya sebagai mereknya, yaitu "Colgate". Dia sukses karena mematuhi nasihat kapten kapal itu, termasuk kepatuhan memberikan persembahan jutaan dollar kepada Tuhan.

Taman Eden di Pulau Gersang

22 December 2007

Di dalam buku "The Americanization of Edward Bok," Edward Bok menuliskan kisah tentang kakeknya yang tinggal di Denmark. Suatu kali sang kakek diberi perintah oleh raja Denmark untuk memimpin pasukan berperang melawan para bajak laut. Bok dan pasukannya membangun markas di sebuah pulau karang yang terpencil. Setelah beberapa tahun mereka berhasil menumpas para bajak laut itu.

     Bok menghadap Raja untuk melaporkan hasil pekerjaannya. Raja merasa senang, lalu menanyakan apa yang diingini Bok sebagai hadiah. Bok hanya meminta pulau yang selama bertahun-tahun dia tinggali. Raja menjadi sangat heran karena pulau itu sangat gersang. Mengapa Bok ingin tinggal di sana? "Saya ingin menanam pohon dan menyulap pulau itu menjadi indah," jawab Bok. Tapi raja Denmark menganggap itu sebagai keinginan gila. Pulau itu sering dilanda angin badai. Dia tidak mungkin bisa menanam pohon besar di sana.

     Tapi karena Bok sangat ngotot maka Raja mengabulkan permintaannya. Bok lalu kembali ke pulau itu dan membangun rumah di sana. Setelah itu memboyong istrinya ke sana. Kemudian dia bekerja keras menanam pohon dan tumbuhan lainnya di pulau itu. Sedikit demi sedikit pulau itu berubah menjadi hijau. Setiap pagi ada burung yang berkicau. Padahal sebelumnya tidak ada seekor burung pun di pulau itu.

     Pulau itu lalu menjadi tempat wisata dan dikunjungi ribuan turis setiap tahun. Saat meninggal dunia, di batu nisannya tertulis kata-kata:"Buatlah dunia ini lebih indah dan lebih baik karena Anda ada di atasnya."

     Tapi kisahnya belum berakhir di sini. Edward Bok, sang cucu, yang telah menjadi warga negara Amerika punya keyakinan bahwa setiap orang juga bisa melakukan hal yang sama. Untuk itu, orang itu harus pensiun pada usia 50 tahun dan membaktikan sisa umurnya untuk membuat dunia ini lebih indah dan lebih baik untuk ditinggali. Dia membuktikan ucapannya itu. Pada usia 50 tahun dia pensiun sebagai editor Ladies' Home Journal.

     Suatu hari, saat bertamasya ke Florida tengah, di mengunjungi Iron Mountain, yang berketinggian 98 meter dari atas permukaan laut. Itu adalah tempat tertinggi di Florida. Tiba-tiba terlintas gagasan di kepalanya: mengapa tidak mengulangi karya kakeknya di Amerika? Dia membeli tanah itu dan mulai bekerja. Usahanya berhasil. Tempat itu sekarang ini disebut Mountain Lake Sanctuary, di Lake Wales, Florida. Ketika meninggal, Edward Bok mewariskan tempat itu kepada negara bagian Florida, dan sekarang menjadi tempat tujuan wisata utama. Di atas batu nisan Edward Bok tertulis kata-kata yang mirip dengan tulisan di batu nisan kakeknya: "Buatlah dunia ini sedikit lebih indah dan lebih baik karena Anda ada di dalamnya."

   

Gagal Menjadi Misionaris

Tahun 1920, seorang pemuda bernama Oswald Smith mengikuti seleksi untuk penerimaan calon misionaris. Dia punya kerinduan yang sangat besar untuk melayani sebagai misionaris. Dia berdoa, "Tuhan, saya ingin menjadi misionaris bagi Engkau. Tolong bukakan pintu untuk saya."

     Dia merasa akhirnya doanya dijawab saat dia punya kesempatan mengikuti seleksi itu. Akan tetapi saat dia mengerjakan ujian, situasinya berbalik. Hasil ujian menunjukkan bahwa Oswald Smith tidak memenuhi persyaratan sebagai misionaris. Dia kecewa berat, padahal dia punya keinginan yang kuat. Apa yang harus dilakukan sekarang? Ketika Oswald Smith berdoa, Tuhan menaruh ide lain dalam pikirannya. Jika dia tidak bisa pergi sebagai misionaris, maka dia bisa menjadi pengirim misionaris. Itulah yang dia kerjakan. Oswald Smith lalu mendirikan gereja The People di Toronto, Kanada. Pada zamannya, gereja ini mengirimkan lebih banyak misionaris dibandingkan dengan gereja-gereja lainnya.