Mertua vs Menant

08 December 2006
Nas: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:24 TB)

Saya mengenal sepasang suami-isteri yang masih numpang tinggal seatap ibunya. Uniknya, pendapatan sang suami ini selalu diberikan sepenuhnya pada ibunya ini. Di dalam keluarga ini, terasa ada nuansa persaingan antara sang ibu dengan menantu perempuannya. Hingga suatu ketika terjadi pertengkaran hebat antara kedua wanita ini.
Tuhan memerintahkan kita untuk menghormati orang tua (Kel. 20:12; Ul. 5:16). Perintah ini sangat jelas dan disertai dengan sanksi yang tegas:kematian!( Mat 15:4). Namun soal pernikahan, seorang laki “meninggalkan” ayahnya dan ibunya untuk bersatu dengan isterinya. Maksud dari “meninggalkan” ini punya makna yang luas. Namun intinya, adalah kemandirian dari orangtua.
Ketika seseorang memasuki lembaga pernikahan, maka mereka membentuk entitas sosial terkecil, yaitu keluarga. Kelompok kecil ini memiliki wilayah otoritas sendiri. Mereka berhak mengatur kehidupan rumah tangganya sendiri, tanpa intervensi pihak lain. Sekalipun ada desakan dari orangtua sendiri, tapi mereka punya hak untuk menolaknya jika itu tidak sesuai dengan rumah tangganya. Dalam hal ini, sang anak tidak dianggap berdosa terhadap orangtuanya.
Keluarga Blessing, meski setiap keluarga punya wilayah otoritas, tapi sebaiknya kita tidak “memagari” batas-batas ini dengan kawat berduri. Itulah seninya berkeluarga. Ada kalanya kita menerima saran yang baik dari pihak lain. Tapi ada saatnya kita harus berani berkata “tidak” dengan tegas, tanpa harus mengorbankan hubungan baik [purnawan].

SMS from God:

Ingat prioritas ini: pertama, pasangan hidup dan anak-anak Anda, barulah kemudian orangtua Anda.

0 komentar: